AIDA** Bersama Apnea Culture (APC)

Beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya dari tanggal 17-20 Agustus 2017, gw dan beberapa orang lainnya mengikuti course AIDA** yang diselenggarakan oleh Apnea Culture (APC). Kegiatan yang berlangsung kurang lebih selama 4 hari 3 malam di Pulau Dewata, Bali tersebut mengambil tempat di salah satu pantai dengan laut yang cukup tenang dan visibility yang sangat amat baik yaitu Pantai Amed.

Singkat cerita, pasca mengikuti course tiap peserta diberi 3 pertanyaan. 3 pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang jawabannya gak perlu cari di google, pertanyaan yang jawabannya gak mungkin salah, pertanyaan yang jawabannya tidak lebih susah dari “jadi kamu ketemu orang tua aku kapan?” dan pertanyaan yang gak perlu saling contek untuk menjawabnya, karena semua jawabannya ada di diri kami masing-masing.

dan pertanyaan tersebut (beserta jawaban versi gw) adalah

Kenapa Ikutan Freedive?

Pertanyaan ini mungkin akan jadi pertanyaan yang paling “biasa” ditanyakan para instruktur Apnea Culture kepada orang-orang yang baru pertama kali mengambil course AIDA* dan atau AIDA** (Gw gak tau ya klo instruktur Freediving lainnya akan bertanya seperti ini atau tidak). Sepertinya mereka ini punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin mengorek-ngorek masa lalu dari para pesertanya.

Okay, jawaban klise gw untuk pertanyaan ini adalah karena Indonesia lautnya besar banget dan indah banget, sayang aja rasanya kalau gw yang warga negara Indonesia ini tidak bisa menikmati salah satu kekayaan bangsa gw ini. Banyak orang dari luar negeri sana yang mengakui kalau (bawah) laut Indonesia ini indah banget (terutama di R4 sana). Terus apakah gw hanya akan diam dan menjadi penikmat testimoni mereka?

Kalau seperti itu jawabannya, mungkin ada yang berpikir “kenapa gak scuba diving aja, kok malah lebih milih freediving?” . Sumpah ya, sebelum belajar freediving ini gw udah coba yang namanya scuba diving, tapi ternyata gw merasa gak nyaman di olah raga tersebut. Layaknya sebuah hubungan, kalau udah gak nyaman ya lepaskan, jangan dipaksakan. Akhirnya gw mencari tambatan hati lain dan dipertemukanlah gw dengan freedive ini. *happy ending*

Alasan sebenarnya adalah karena gw melihat banyak orang-orang di kampung gw (di NTT) sana yang merupakan traditional spearfisher. Mereka bukan hanya menyelam (freediving), tapi mereka menyelam untuk hidup. Freediving is not part of their life, freediving is their life. Mereka bisa bertahan di bawah laut selama 3-5 menit untuk memburu ikan buruan mereka sebelum akhirnya mereka kembali ke permukaan. Itu hebat banget menurut gw dan gw jadi penasaran bagaimana mereka bisa melakukan itu. Itulah awal kenapa gw ingin ikutan atau belajar freedive ini.

Bagaimana perasaan ketika ngejalanin freedive course sama Apnea Culture?

Pertanyaan ini rasa-rasanya sebuah pertanyaan untuk mengintrospeksi setiap sudut dari Apnea Culture. Gw akan coba menjawab dengan jujur. Perasaan gw senang banget karena (akhirnya) gw bisa belajar untuk lebih mengenal dan melakukan olah raga ini dengan benar. Bukan tanpa alasan gw memilih untuk mengambil course AIDA** ini dengan Apnea Culture.

Alasan pertama adalah karena gw dapet diskon pas Deep Extreme *LOL* . Alasan kedua adalah karena gw sudah melihat perkembangan signifikan dari salah satu teman gw yang sudah terlebih dahulu belajar di Apnea Culture ini. Dan alasan terakhir karena lokasi mereka yang tidak terlalu jauh dari tempat gw.

Course kemarin berjalan dengan baik banget. Gak ada gap antara pengajar (instruktur) dengan murid yang diajarkan. Saat teori, bahasa yang digunakan pun bagus banget, jadi kesannya bukan seperti sebuah pengajaran melainkan sebuah sharing (bahasanya tidak menggurui). Mike Dominico ini salah satu instruktur dengan jiwa pengajar. Kenapa gw sebut begitu? Karena banyak orang yang ahli di suatu bidang tapi gak memiliki jiwa mengajar. Simplenya gini, waktu sekolah dulu pasti lo pernah punya guru yang ngajarnya enak banget dan gak enak banget. Kenapa bisa ada yang gak enak banget padahal dia ahli dalam mata pelajaran tersebut? Menurut gw salah satu jawabannya karena mereka gak punya jiwa mengajar.

Saat praktek di laut lain lagi ceritanya, gw dipegang oleh 3 instuktur yang berbeda-beda. Ada Mike Dominico, Steven dan Yuuji. Mereka bertiga punya pendekatan yang berbeda-beda. Dari Setiap mereka gw dapet ilmu yang berbeda-beda pula. Steven dengan kalimat-kalimat penuh semangat dan hipnotisnya yang meyakinkan kalau gw pasti bisa, Yuuji dengan kesabarannya yang luar biasa mendampingi gw dan temen-temen gw yang suka gak rilex dan yang paling penting adalah Mike, karena dia mendampingi kami dengan kamera mahalnya sehingga kami punya dokumentasi yang bagus *LOL*.

Setelah belajar bareng di APC ini gw jadi tau kebiasaan-kebiasaan baik apa saja yang perlu ditanamkan saat freediving, bagaimana caranya melakukan kegiatan freediving yang aman, dan banyak banget ilmu lainnya yang menambah wawasan gw.

Setelah gw tulis begini, tolong ya Mike ada diskon pas gw ambil AIDA*** nanti *ROFL*

Kesan kesan selama freedive bareng di Bali.

Bali, ini sudah seperti rumah kedua buat gw. Banyak banget spot diving yang kece di sini dan sayang kalau dilewatkan. Nah ngomongin soal Freedive bareng di Bali kemarin itu asyik banget dan nyaman banget. Gw merasa seperti ada di tengah-tengah keluarga baru yang menjaga gw banget. Nilai-nilai dasar yang diajarkan saat course langsung diterapkan dengan baik, seperti contohnya buddy system ( dan gw berharap itu akan terus diingat dan dibiasakan untuk dive -dive berikutnya)

Peserta course kemarin seperti langsung aware dengan teman-teman di sekitarnya. Saat salah seorang turun menyelam maka teman lainnya akan mengawasi. Saat ada yang surfacing dan lupa untuk recovery breath, temenya langsung ngomelin dan menyuruhnya untuk melakukan recovery breath. Ada yang senantiasa setia mendokumentasikan kegiatan-kegiatan teman-temannya sampai dirinya sendiri tidak didokumentasikan. Hal-hal kecil itulah yang bikin gw merasa nyaman banget saat freediving bareng kemarin.

*****

Okay, segitu dulu ya jawabannya. Sampai jumpa di Open Water berikutnya 🙂

Gracias

Facebook Comments Box

Comments are closed.