Perjalanan di tahun 2017 sudah berlalu, kini tahun 2018 sudah datang dan saya sedang berjalan bersamanya. Ada yang bilang kita tidak boleh melihat ke belakang dan teruslah melangkah ke depan. Yang lalu biarlah berlalu karena yang baru sudah datang.
Dalam beberapa kesempatan memang benar, tapi ada kalanya juga kita perlu melihat ke belakang. Kenapa begitu? Agar kita tahu sudah seberapa jauh kita melangkah dan sudah seberapa besar penyertaan Tuhan terhadap kita. Tidak jarang kita baru tahu cara mengucap syukur setelah melihat ke belakang dan me-review perjalanan yang kita lakukan.
Kalau boleh sedikit mengulas perjalanan saya di tahun 2017, sebenarnya banyak sekali kesusahan yang saya alami. Namun dibalik banyaknya kesusahan yang saya alami itu, ternyata lebih banyak penyertaan dan berkat yang Tuhan kasih untuk saya. Berkat-Nya jauh mengalahkan kesusahan yang Ia izinkan untuk boleh hadir di tengah-tengah kehidupan saya.
Sambil membayangkan di 2018 ini saya akan jalan-jalan kemana dan kejutan-kejutan apa lagi yang Tuhan akan kasih untuk saya, tidak ada salahnya kalau saya menceritakan perjalanan yang sudah saya lalui selama tahun 2017 kemarin.
Berikut ini rangkaian perjalanan saya dari bulan ke bulan:
Januari
Di bulan pertama pada tahun 2017 ini, saya mengawalinya dengan melakukan perjalanan ke Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan beberapa orang teman. Ada apa sih di Jonggol? Jawabannya ada buuuuanyak banget. Di Jonggol ada warteg, indom*ret, *lfamidi, rumah warga, kandang sapi, pedagang cilok, tukang martabak, rental motor dan masih banyak lainnya. Namun yang menjadi destinasi pilihan saya dan teman-teman saat itu adalah Gunung Batu yang memiliki ketinggian 875 MDPL.
Kalau dilihat dari tingginya, mungkin bisa dikatakan Gunung Batu ini lebih menyerupai sebuah bukit. Namun jika kalian mencoba tracking ke puncaknya, terutama saat hujan, jalur ini tidak kalah hebatnya dengan gunung-gunung yang memiliki ketinggian di atas 2500 MDPL. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari Jakarta, waktu tempuhnya yang terbilang cukup singkat dan medannya yang (tadinya) kami anggap tidak berat membuat kami memilih Gunung Batu sebagai destinasi awal tahun.
Terkadang yang membuat perjalanan spesial bukan saja tempatnya, tapi dengan siapa kamu pergi. Nah, pendakian Gunung Batu ini seperti itu. Perjalanan kali ini spesial banget buat saya karena inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Gunung Batu dan sekaligus menjadi perjalanan pertama saya dengan Helena setelah kami mulai berpacaran pada November 2016 ๐
Februari
Bulan Februari, bulan penuh cinta. Ya seperti itulah biasanya bulan Februari diidentikkan karena hari kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 di bulan ini setiap tahunnya. Masih di daerah Jawa Barat, lagi-lagi tidak begitu jauh dari Jakarta, kali ini saya memilih daerah Padalarang sebagai tujuan wisata saya. Bersama dengan Helena dan sahabat saya, Putu, kami berangkat menuju Padalarang dengan terlebih dahulu singgah di kota Bandung.
Belum bisa move on dari ketinggian dan batu-batuan, di Padalarang kami bertiga mencoba Hammocking di atas Tebing Masigit. Kenapa harus hammocking di atas tebing?
Mirip-mirip seperti syndrome green tea pada kasus makanan, kira-kira kerinduan akan sesuatu yang baru pada hal yang sudah lama seperti itulah yang saya inginkan. Kue Cubit yang umum sudah terlalu biasa di mulut, lalu kemudian datanglah Kue Cubit Green Tea yang memberikan cita rasa baru.
Hammocking di pohon sudah biasa juga buat saya dan saya membutuhkan sesuatu yang baru dan lebih greget. Setelah googling, ternyata ada yang menawarkan jasa hammocking di atas tebing. Kenapa saya tidak coba?
Proses mendaki tebingnya bisa dibilang sudah cukup menguras stamina dan itu belum termasuk proses untuk bisa duduk di atas hammock-nya. Dibutuhkan nyali dan keyakinan yang besar untuk bisa duduk di atas hammock yang sudah dibentangkan di antara 2 tebing. “Lalu kamu gak takut, us?” Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Sebenarnya saya agak takut juga saat itu, tapi karena perginya bareng pacar jadi gengsi dong untuk takut. Dikuat-kuatin aja.
Usai puas merasakan permainan adrenalin di Bukit Masigit, kami lanjut ke Stone Garden yang letaknya masih bertetangga dengan tebing Masigit sebelum akhirnya pulang kembali ke Jakarta Tangerang .
Maret
Salah satu moment paling bahagia pada tahun 2017 hadir di akhir triwulan pertama. Saya berkesempatan untuk mampir ke tanah yang kaya akan rempah-rempah dan juga penuh dengan orang-orang bersuara emas, Maluku.
Keterbatasan waktu libur yang hanya 6 hari membuat saya belum bisa berkunjung ke semua pulau besar yang ada di Maluku. Waktu itu saya hanya mengunjungi 2 pulau besar yaitu Nusa Ina (Pulau Seram) dan Nusa Ama (Pulau Ambon).
Meskipun hanya 2 pulau itu, namun saya sangat bersyukur karena saya bisa mampir ke salah satu pantai yang paling terkenal di Indonesia, Pantai Ora di utara Pulau Seram. Sudah sejak tahun 2015 saya berdoa dan mendambakan ingin bisa ke Ora. Buah kesabaran ternyata manis rasanya, Tuhan menjawabnya 2 tahun berselang. Saya akhirnya mengunjungi Pulau Ora di Maret 2017 ini dengan didampingi oleh nona manis keturunan Ambon ๐
Di kesempatan pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Ambon, saya mengunjungi banyak spot yang luar biasa. Saya bermain dengan Morea di Larike, mendaki air terjun 3 tingkat di Ureng, berfoto di atas jembatan Merah Putih dan mencicipi kuliner khas Ambon yaitu Rujak Natsepa.
Maluku, khususnya Ambon, itu indah banget. Kalau punya kesempatan, kalian juga harus mampir ke daerah yang penuh keramahan ini. Selama saya traveling di Indonesia, Ambon merupakan salah satu destinasi terbaik menurut saya.
April
Bulan keempat menghantarkan saya menuju ke salah satu pulau yang ada di utara Serang, Banten yaitu Pulau Tunda. Tagline “Jangan tunda ke Pulau Tunda” yang digunakan untuk menarik minat para freediver kala itu membuat saya tidak bisa menolak ajakan untuk singgah ke pulau ini.
Bersama dengan Cikini Freediving, sebuah komunitas freediving yang ada di Jakarta, saya menjelajah keindahan bawah laut Pulau Tunda. Karang-karang di sekitar pulau ini masih sangat segar. Kalau boleh dibandingkan dengan daerah kepulauan seribu, air di sini jauh lebih jernih dan karang-karangnya masih sangat terawat. Ikan jenis kerapu pun sangat mudah untuk dijumpai.
Saya ingat betul di hari terakhir perjalanan saya di Pulau Tunda, saya menjumpai kawanan lumba-lumba. Bukan hanya 2 atau 4, tapi ada kurang lebih 8 ekor. Secara gilir ganti mereka timbul tenggelam menyapa kami yang berada di atas kapal. Sempat kami berusaha untuk terus mengikuti pergerakan mereka tapi kecepatan kapal tidak mampu menyaingi kecepatan lumba-lumba. Kehadiran lumba-lumba di tengah lautan memang selalu membawa sukacita bagi kita.
Baca juga cara merawat GoPro
Mei
2 tempat berhasil saya datangi pada bulan kelima ini dan keduanya berada di wilayah Pulau Sumatra. Berkunjung ke Aceh, lebih tepatnya ke Sabang, saya ditemani oleh sahabat-sahabat menyelam saya atau saya biasa menyebut mereka dengan istilah buddies. Penting sekali untuk didampingi oleh orang-orang yang tepat saat menyelam karena kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka mereka dapat dengan sigap untuk melakukan tindakan pertolongan.
Aceh merupakan provinsi yang ramah dan memilik banyak sekali spot menyelam yang bagus. Salah satu favorit saya adalah spot menyelam di Pantai Gapang karena terdapat bangkai tank di salah satu dasar lautnya. Untuk bisa menyelam menuju bangkai tank tersebut tidaklah sesuah menyelami dalamnya hati kamu. Cukup berenang sedikit dari bibir pantai, kita dapat menemukan bangkai tank tersebut di kedalaman ยฑ 10 meter.
Banyak lagi spot menyelam yang bagus di Sabang seperti di Iboih dan juga Pulau Rubiah. Di kota Aceh, saya menyempatkan diri untuk bisa mampir ke Masjid Baiturahman, sebuah masjid yang tetap berdiri gagah kala Tsunami menerjang aceh 2004 silam. Tak lupa saya mencicipi mie aceh yang ditaburi bumbu ganja. Rasanya nikmat banget dan usai makan itu saya langsung tertidur lelap setibanya di penginapan.
https://www.instagram.com/p/BUOui-eBnC6/?taken-by=dgoreinnamah
2 minggu berselang saya mengunjungi pulau kelahiran dari Pak Ahok dan Yusril Isra Mahendra, Pulau Belitung. Novel dan film Laskar Pelangi memang benar-benar mengangkat nama pulau ini. Akibatnya, kunjungan wisata pun meningkat yang untungnya bisa diimbangi dengan pelayanan yang baik.
Aktivitas favorit saya selama di Belitung adalah Island Hopping. Pulau-pulau di Belitung Timur menyimpan keindahan yang berbeda di setiap sudutnya. Seperti saat saya mampir di Pulau Kelayang contohnya, dari luar pulau ini terlihat biasa saja, tapi tunggu sampai kamu tracking ke dalamnya. DI sana terdapat batu granit ukuran raksasa dengan 3 warna. Bersyukur banget bisa punya kesempatan mampir ke Belitung.
Juni
Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Ya, sebagai seorang non muslim pun saya mendapatkan berkah dari kedatangan bulan ini yaitu berupa liburan yang sangat panjang. Libur lebaran tahun 2017 saya manfaatkan untuk melakukan perjalanan menuju atap Sulawesi, Gunung Latimojong.
Awalnya saya merencanakan untuk melakukan pendakian ke Rinjani pada bulan ini, akan tetapi Tuhan memberikan kejutan lain. Rencana pendakian Rinjani yang sudah begitu matang harus sirna karena satu per satu peserta mengundurkan diri. Untungnya, sebulan sebelum lebaran saya bertemu dengan rombongan sharedcost yang ingin ke Latimojong. Tanpa berbasa-basi, saya pun langsung bergabung dengan grup tersebut.
Sebagai salah satu dari 7 Summit Indonesia, Latimojong memiliki medan yang sangat berat. Perjalanan dari Enrekang menuju pos pendaftaran pendakian dengan menggunakan Jeep saja sudah cukup menguras tenaga, belum lagi ditambah pendakian dari pos 1 menuju puncaknya.
Sedikit berbeda dangen tipikal gunung-gunung tinggi di Pulau Jawa, semakin tinggi pendakian yang dilakukan di Latimojong, maka semakin tebal pepohonan yang menghalangi matahari untuk menyapa kami. Beberapa titik harus kami lalui dengan jalur menanjak yang mempertemukan dagu dengan lutut kami.
Perjuangan untuk menggapai atap Sulawesi berakhir manis dengan berhasilnya kami tiba di Puncak Rantemario. Cuaca sangat cerah dan akhirnya kami bisa melihat langit yang biru setelah sebelumnya kerap tertutupi oleh lebatnya pepohonan. Gunung ini merupakan gunung dengan curah hujan yang cukup tinggi, namun saya bersyukur karena selama melakukan pendakian hujan tidak turun.
Juli
Waktu itu saya ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri sebuah rapat kerja di Batam. Ternyata rapat kerja tersebut selesai lebih cepat 1 hari dari yang diperkirakan. Berhubung tiket pulang sudah terlanjur dibeli dan tidak bisa diubah, hari dimana seharusnya saya rapat pun saya gunakan untuk menjelajah kota Batam.
Masjid Cheng Ho menarik perhatian saya waktu itu. Seperti yang sudah diketahui, semasa hidupnya Laksamana Cheng Ho beberapa kali mengunjungi Indonesia. Dari beberapa kunjungannya tersebut, banyak kebaikan yang ia lakukan sehingga membekas di hati warga sekitar. Sebagai wujud untuk mengenang kebaikan Laksamana Cheng Ho, dibangunlah beberapa masjid dengan menggunakan namanya dan salah satunya berada di Batam ini.
Saya sangat suka dengan masjid ini karena bentuknya yang tidak biasa. Kalau umumnya masjid itu berkubah, tapi tidak dengan Masjid Muhammad Cheng Ho di Batam ini. Atapnya lebih menyerupai sebuah pagoda. Warna dindingnya yang merah menambah kesan kalau tempat ini lebih menyerupai sebuah klenteng dibandingkan sebuah masjid.
Agustus
Entah berapa kali saya sudah ke Bali, namun Bali selalu memberikan pengalaman baru dan sapaan yang hangat kepada saya. Keramahan dan keindahannya tak pernah pudar setiap kali saya mengunjunginya.
Selain untuk liburan, pada kesempatan kali ini saya harus menuntaskan salah satu resolusi saya yang sudah saya tetapkan di awal tahun yaitu lolos sertifikasi AIDA**. Bertempat di Amed, Bali Timur, saya jalan-jalan sekaligus mengikuti ujian teori dan praktek menyelam untuk level AIDA**.
Rangkaian pembelajaran dan sertifikasi berlangsung selama 3 hari 2 malam yang dipimpin oleh Coach Mike Dominico, Steven dan Yuji. Setelah berjuang selama 3 hari tersebut, puji Tuhan saya belum lulus. Meskipun belum lulus namun saya bersyukur karena saya bisa mendapatkan materi dan mentor yang baik.
Lulus bukanlah tujuan utamanya. Ada kalanya seseorang harus gagal berkali-kali sebelum akhirnya bisa menuntaskan tugas tersebut *edisi ngeles dan sok bijak*. Melakukan penyelaman dengan cara yang benar, aman, nyaman dan bisa mengenali tubuh inilah tujuan utamanya. Ketika hal tersebut sudah bisa dilakukan, maka kelulusan akan datang menghampiri.
Tahun 2018 ini semoga saya bisa menuntaskan apa yang sudah saya mulai di tahun 2017 ๐
https://www.instagram.com/p/BYFInS8HEa5/?taken-by=dgoreinnamah
September
Seringnya saya melakukan perjalanan ternyata mendapat atensi juga dari teman-teman sekolah saya dulu. Beberapa kali mereka mengajak saya untuk ngetrip dengan mereka, namun jadwalnya seringkali tidak cocok. Setelah 2 purnama berlalu, akhirnya ada juga waktu yang match untuk kami bisa melakukan perjalanan bersama.
Weekend getaway, itulah tajuk dari trip kali ini. Itu tandanya tempat yang kami kunjungi tidak boleh terlalu jauh (karena kami buruh kantor yang tak punya banyak cuti) dan perjalanannya tidak boleh terlalu menyusahkan. Akhirnya dipilihlah Gunung Papandayan sebagai tujuan perjalanan.
Untuk seseorang yang belum pernah naik gunung sama sekali dan ingin naik gunung, Papandayan bisa masuk ke dalam list kamu. Jalur pendakiannya yang cukup pendek dan bersahabat membuat gunung ini tidak pernah sepi dari pengunjung.
Padang Edelweis dan Hutan Mati menjadi ikon utama dari gunung ini. Kenikmatan lainnya yang bisa kamu temukan di Gunung Papandayan tapi (mungkin) tidak di gunung lain adalah banyaknya warung kelontong milik warga di sekitar Pondok Saladah (tempat membuka tenda).ย Tinggal tunjuk dan pesan, maka indomie telor sudah hadir di depan kamu dalam waktu kurang dari 10 menit. Kurang enak apa coba???
Oktober
Beberapa perjalanan yang saya lakukan selalu saya ceritakan kembali dalam bentuk tulisan di blog saya yang satu lagi, dailyvoyagers.com. Bentuk tulisannya bisa bermacam-macam seperti budget & travel itinerary, ulasan mengenai suatu objek wisata, reviewย terhadap penginapan,ย tips and trick dan banyak lagi jenisnya.
Tulisan-tulisan saya ini ternyata mendapat perhatian dari salah seorang teman ketika ngetripย bareng ke Ujung Kulon tahun 2014. Teman saya yang bekerja di AXA Indonesia ini menganggap tulisan-tulisan saya mengenai rincian budget & travel itinerary sangat bagus dan cocok banget untuk materi dari talkshow yang akan diadakan oleh perusahaannya dimana talkshowย tersebut menyasar anak muda sebagai pesertanya.
Traveling memang sedang happening banget dikalangan anak muda dan bertepatan dengan bulan oktober sebagai bulan inklusi keuangan yang dicanangkan oleh OJK, saya diminta untuk jadi pembicara dan mempresentasikan bagaimana cara saya menyusun keuangan yang baik untuk melakukan suatu perjalanan.
Waktu mendapat tawaran tersebut via whatsapp rasanya saya tidak percaya. Tulisan yang tadinya hanya iseng-iseng ternyata bisa “menghasilkan” juga dan diperhatikan oleh orang lain. Dengan perasaan gugup bercampur senang, saya pun meng-iya-kan tawaran tersebut. Inilah pengalaman pertama saya sebagai seorang pembicara.
Tawaran tersebut mengharuskan saya untuk menjadi pembicara di Semarang dan di Jakarta. Bersyukur sekali rasanya bisa jalan-jalan sekaligus mendapat bayaran dan pengalaman. Usai talkshow di Semarang, saya langsung berjalan-jalan ke Klenteng Sam Poo Kong dan makan es krim di Mary Ann.
November
Jadwal kedua untuk traveling bareng bersama sahabat-sahabat menyelam saya (Billy, Monik, Chris & Randi) jatuh pada bulan November. Kali ini kami tidak ingin hanya menyelam, tapi juga ingin ada main-main di daratnya sedikit.ย Banyuwangi kami anggap sebagai tempat yang cocok untuk memenuhi hasrat tersebut.
Namun sepertinya kami memang tidak cocok untuk bermain di darat. Usai menikmati keindahan padang savana di Baluran dan kecantikan api biru di Kawah Ijen, kami harus terkapar sekian jam di penginapan karena kelelahan. “Insang” kami bekerja kurang baik di ketinggian.
Setelah beristirahat dan kembali pulih, kami melanjutkan kegiatan dengan menyelam di Menjangan. Jarak Menjangan yang ada di Bali dari Banyuwangi tidaklah begitu jauh. Kapal yang sudah kami sewa sebelumnya dengan lihai membawa kami ke titik-titik menyelam kece yang ada di Menjangan.
Di banyuwangi sendiri, kami menyelam di Bangsring. Bangsring merupakan sebuah daerah di pesisir Banyuwangi yang sedang direvitalisasi bawah lautnya. Ulah oknum yang merusak karang di sekitar Bangsring membuat penanaman karang begitu digalakkan di sini. Beberapaย fish apartmentย juga dibangun guna mengundang ikan-ikan untuk bisa “menetap” di Bangsring ini.
Desember
Kurang adil rasanya kalau kerap melakukan perjalanan bersama teman namun mengabaikan keluarga. Itulah sebabnya saya selalu mendedikasikan bulan Desember sebagai bulan keluarga. Selain untuk merayakan natal, saya juga ingin bisa menghabiskan akhir tahun untuk bertemu dengan saudara dan bercerita lebih banyak dengan mama.
Setelah 3 tahun bekerja di suatu instansi pemerintah, akhirnya Desember 2017 saya bisa membiayai adik dan mama saya pulang ke kampung halaman mama di Sumatera Utara untuk merayakan natal. Selama 11 hari saya dan keluarga berlibur di Sumatera Utara (Parapat, Danau Toba, Pulau Samosir, Cingkes, Pematang Siantar dan Lubuk Pakam).
Mungkin buat sebagian orang itu adalah hal yang biasa, tapi bagi saya bisa membiayai mama dan adik untuk pulang kampung adalah suatu pencapaian yang luar biasa dan ini bisa menjadi titik awal sebelum nantinya saya memberangkatkan mama dan adik ke tempat-tempat lain yang mereka inginkan.
Saya percaya pencapaian saya sejauh ini tidak lepas dari doa mama dan doa adik saya (papa saya sudah meninggal 3 tahun lalu), jadi sudah sepantasnya juga saya meluangkan waktu, tenaga dan uang saya untuk mereka.
https://www.instagram.com/p/BdFAFa8HrVx/?taken-by=dgoreinnamah
*****
Itulah tadi moment luar biasa dalam perjalanan saya di tahun 2017. Kalau dilihat-lihat, ternyata padat juga ya perjalanan saya di tahun 2017 ini. . Berdosa sekali rasanya kalau saya banyak mengeluh di tengah banyaknya kenikmatan yang Tuhan sudah berikan buat saya.
Lalu bagaimana dengan 2018? Apakah akan lebih spektakuler? Tentu saja ya. Saya percaya setiap tahun Tuhan pasti kasih kejutan luar biasa untuk saya. Doa saya semoga di 2018 ini saya tetap bisa konsisten untuk menulis dan membuat perjalanan saya berguna untuk banyak orang.
Sampai jumpa di Amazing Moment selanjutnya. Happy Traveling ๐

Comments are closed.