VTO (Voluntary Tubal Opening)

Sebelum membahas apa itu VTO, makhluk apa sih itu, bisa dibeli dimana sih barang itu, atau jenis makanan apa sih itu, gw akan bercerita mengenai pengalaman gw berkenalan dengan Freediving. Yah, jadi ketauan deh kalau VTO itu ada hubungannya dengan Freediving. Tapi gak apa-apa, paling tidak pikiran kalian jadi lebih mengerucut ke arah freediving dan gak berfantasi yang aneh-aneh soal VTO ini.

Perkenalan dengan Freediving dan Ekualisasi

Pertama kali gw mengenal freediving itu sekitar tahun 2014, namun gw baru berusaha untuk belajar olah raga ini sekitar pertengahan tahun 2015 dan memutuskan untuk mengambil sertifikasi di 2017 ini (kita akan bahas soal sertifikasi ini nanti ya). Gw masih inget betul (tahun 2015) Kolam Senayan adalah kolam pertama dengan kedalaman lebih dari 3 meter yang gw gunakan untuk berenang. Ya berenang, waktu datang pertama kali ke situ tujuan utama gw adalah berenang, belum ada kepikiran untuk belajar diving apalagi freediving. FYI, kolam renang senayan waktu itu dalamnya 5 Meter.

“Iseng banget lo us, cuma mau berenang aja pake pilih kolam yang dalamnya 5 meter, yang 2 meter kan ada”, mungkin ada yang bertanya-tanya seperti itu dalam hati sanubarinya ketika membaca tulisan gw ini. Okay gw akan jawab, jadi waktu itu gw cuma penasaran kayak apa sih kolam yang dalamya 5 meter dan ternyata emang dalam banget (waktu itu 5 meter menurut gw dalem banget). Saat iseng berenang itulah gw melihat ada beberapa manusia “aneh” yang menyelam ke kedalaman 5 meter tanpa bantuan alat apapun. Gw yang waktu itu masih awam langsung merasa takjub dong, kok bisa mereka menyelam sedalam itu tanpa bantuan alat apapun. Dengan sedikit keberanian, gw dekatilah makhluk-makhluk “berinsang” tersebut dan gw bilang kalau gw juga pengen belajar seperti mereka.

Gayung pun bersambut, makhluk-makhluk dengan “paru-paru cadangan” tersebut menerima kehadiran gw kemudian mengumpulkan gw dengan beberapa orang lainnya yang ternyata ingin belajar freediving juga. Apa lagi tuh freediving? Secara simplenya, freediving adalah kegiatan menyelam yang dilakukan dengan tanpa menggunakan alat bantu nafas apapun. Di tulisan kali ini gw gk akan membahas detail apa itu freediving, kalau kalian mau kalian bisa membacanya di blog gw yang satu lagi di sini.

Saat itu gw dan beberapa orang lainnya diminta untuk menyelam, tenggelam sih lebih tepatnya. Jadi gw diminta untuk mengambil nafas panjang (bukan full breath) dan menahannya, kemudian menjatuhkan diri ke dasar kolam. Karena tidak full breath dan (mungkin) tipe badan gw adalah negatif (-), meluncurlah gw ke bawah perlahan secara vertikal dengan posisi kaki di bawah. Umumnya, kalau orang yang pertama kali belajar menyelam, dia akan merasa sakit pada kupingnya disekitar kedalaman 2-3 meter. Hal itulah yang dirasakan oleh beberapa teman gw. Namun tidak dengan gw, gw meluncur mulus sampai kedalaman 5 meter dan kembali ke permukaan dengan kondisi kuping yang baik-baik saja.

Kenapa sih umumnya akan merasakan sakit pada kedalaman 2-3 meter? Jawabannya adalah karena tekanan. Tekanan udara yang berada di luar telinga berbeda dengan tekanan udara yang berada di dalam telinga. Untuk itulah diperlukannya ekualisasi yang akan membuat kuping kita tidak sakit. Kenapa tidak sakit? karena dengan ekualisasi maka tekanan yang berada di luar telinga akan sama dengan yang di dalam telinga. (equal = sama)

Pada saat itu, jujur gw belum tau apa itu yang namanya ekualisasi dan bagaimana cara melakukannya. Gw cuma tenggelam sesuai dengan request yang diminta. Tapi memang ada perasaan aneh yang gw alami saat itu setiap bertambahnya kedalaman sejauh 1 meter. Kuping gw seperti bergerak sendiri dan terasa ada udara yang keluar dari dalam kuping gw dengan bunyi “cesss….“. Bunyinya persis seperti ban mobil yang dikempesin.

Makhluk-makhluk “berinsang” itu pun bingung karena gw tidak memencet hidung untuk melakukan ekualisasi. Teman-teman gw yang lain, yang baru belajar freediving, juga bingung karena gw tidak memencet hidung dan juga tidak merasakan sakit di kuping gw. Karena mereka bingung, alhasil gw pun ikut bingung. Gw lalu berpikir, “apa ada yang salah dengan badan gw?”

Tapi saat itulah gw kenal dengan yang namanya ekualisasi. Gw sedikit tau akibat penjelasan oleh makhluk-makhluk “berinsang” tersebut.

Perkenalan dengan VTO

Dua tahun berjalan, gw pun sudah membaca sedikit banyak mengenai ekualisasi. Gw juga sudah melakukan beberapa kali penyelaman. Bisa dibilang gw juga sudah menjadi “makhluk berinsang” tersebut. Gw tau ada dua tehnik umum yang biasa digunakan yaitu Valsava dan Manuver Fenzel. Meskipun tahu, tapi tetap saja gw gak bisa membedakan dua teknik tersebut dan lebih parahnya lagi, gw juga gak tau teknik ekualisasi apa yang gw gunakan saat penyelaman-penyelaman kemarin. Saat menyelam, ya terkadang gw memang harus memencet hidung untuk melakukan ekualisasi tersebut tapi terkadang (malahan sering) juga gw tidak menggunakan tangan gw sama sekali.

Untuk menambah pengetahuan (yang benar) akan freediving dan bertanya secara langsung pada ahlinya, gw pun mengikuti sebuah course freediving. Pada saat gw mengambil course freediving kemarin, dibahaslah teknik-teknik ekualisasi. Oleh instruktur gw saat itu, Mike Dominico , gw diperkenalkan (lagi) 2 teknik ekualisasi tersebut yaitu Teknik Valsava dan Manuver Frenzel. Perbedaan mendasar antara Valsava dan Frenzel adalah Frenzel tidak menggunakan diafragma untuk mendorong udara ke atas dan memberikan tekanan pada eustachius tube. Gw baru tau saat itu perbedaanya setelah dijelaskan dan diberi contoh langsung. (Inilah salah satu kegunaan mengambil course)

Setelah itu dia mengatakan, “sebenarnya ada satu teknik lagi sih tapi teknik ini cukup sulit buat dipelajari (bukan tidak bisa dipelajari ya). Nama teknik ekualisasinya adalah VTO (Voluntary Tubal Opening) atau orang-orang juga biasa mengenalnya dengan BTV (Beance Tubal Volontaire)”. Bahasa gampang dari VTO adalah Hands Free Equalization alias ekualisasi tanpa menggunakan tangan. Dia melanjutkan, “teknik ini lebih ke gift sebenarnya, jadi memang ada beberapa orang yang langsung bisa melakukan teknik ini tanpa perlu belajar”. Banyak orang yang ingin bisa melakukan teknik ini tetapi ujung-ujungnya tidak berhasil, seandainya berhasil sekalipun maka dibutuhkan waktu dan effort yang lebih.

Sontak gw langsung bilang, “teknik ini nih yang biasa gw pakai”. Mike pun bertanya, “Lo bisa teknik ini? Bagus kalau bisa. Gw pun salah satu orang yang beruntung bisa melakukan teknik ini”. Menurutnya, orang yang bisa melakukan teknik in seharusnya bisa juga melakukan Frenzel. Saat itu VTO belum bisa gw buktikan, masih sebatas argumen karena pelajaran masih dilakukan di dalam kelas. Keesokan harinya baru gw memulai materi di kolam.

Keesokan harinya, praktek dari materi ekualisasi pun dilakukan di kolam Bubbles. Gw merasa ini saat yang tepat untuk menguji coba teknik VTO. Gw diminta untuk melakukan FIM dengan posisi feet first kemudian Head first dan gw dibebaskan untuk memilih untuk menggunakan teknik Frenzel atau Valsava.

Saat gw turun gw tidak menggunakan kedua teknik tersebut, gw lebih memilih untuk mencoba VTO (agak bandel sedikit sih). Mike menemani gw turun sembari memperhatikan apakah gw melakukan ekualisasi dengan benar. Karena dia juga pelaku VTO, (mungkin) dia tidak merasa aneh ketika gw turun dengan tidak menekan hidung. Dia pun tidak menghentikan gw namun tetap mendampingi gw dan memastikan apakah gw melakukan ekualisasi dengan benar. Di bagian dasar kolam, dengan menggunakan beberapa sign Mike tetap bertanya apakah gw mengalami masalah dengan telinga gw atau tidak. Setelah gw menjawab dengan “tidak”, Mike pun segera meminta gw untuk naik.

Sampai di permukaan, gw langsung melakukan recovery breath. Setelah itu Mike bertanya kembali apakah semua baik-baik saja dan ekualisasinya lancar. Dengan tenang gw menjawab kalau semuanya lancar. Memang sudah tugasnya sebagai instruktur untuk menjaga keamanan dan keselamatan muridnya. Untuk memastikan apakah gw tadi melakukan teknik VTO atau bukan, dia kembali bertanya,

“lo tadi nelen ludah apa nggak?”

“Nggak kok”

“Terus, apa yang lo lakuin untuk ekualisasi?”

“Gw cuma menempelkan lidah gw ke langit-langit lalu gw gerakin rahang gw, detailnya seperti apa gw bingung jelasinnya”.

“Okay, kemungkinan besar yang lo lakuin itu VTO.”

Menurutnya, ada beberapa instruktur yang tidak memperbolehkan teknik ini saat Course. Alasannya simple saja yaitu untuk memastikan murid-muridnya melakukan ekualisasi dengan teknik yang benar dan bukan memaksa atau menahan rasa sakit ketika turun. Teknik VTO bukanlah teknik yang diajarkan saat Course.

Rasa puas pun gw dapatkan. Akhirnya terjawab sudah keanehan yang gw alami selama ini. Ternyata memang ada istilah untuk teknik ekualisasi ini yang ternyata baru gw ketahui setelah gw mengikuti course ini.

Memang teknik ini tidak selalu bisa gw gunakan setiap saat, hanya momen-momen tertentu saja. Sebagai contoh, VTO ini tidak bekerja saat gw melakukan CWT namun bekerja saat gw melakukan FIM. Menurut analisa gw terhadap badan gw, mungkin karena saat melakukan CWT pergerakkan vertikal ke bawah yang terjadi begitu cepat dan telinga gw belum terbiasa dengan kecepatan tersebut. Atau mungkin saat itu badan gw terlalu tegang sehingga cara ini tidak berhasil.

Sedangkan saat FIM, VTO ini bekerja dengan baik (mungkin) karena gerakannya tidak begitu cepat sehingga tubuh gw pun rilex dan teknik ini bisa berjalan dengan normal. Bisa juga VTO ini tidak bekerja saat CWT karena gw kurang latihan pada disiplin ilmu tersebut atau gw belum terbiasa pada kedalaman terebut. Banyak faktor yang bisa  menyebabkan kegagalan dalam melakukannya. Intinya semakin sering gw melatih teknik ini maka akan semakin baik gw bisa menggunakannya.

Sekali lagi gw tekankan, analisa di atas tersebut hanyalah dugaan awal dari seorang yang belum tersertifikasi. Jadi kalau ada yang lebih expert dan punya penjelasan yang lebih masuk akal dan ilmiah, ya monggo di-sharing di sini sehingga gw pun bisa tau.

Sedikit Tambahan Mengenai VTO

Mengutip apa yang disampaikan oleh Apnea Australia melalui blognya disini. Menurut mereka, VTO ini merupakan teknik yang sulit untuk diajarkan dan kurang lebih hanya 30% dari total orang yang diajarkan yang bisa melakukannya dengan benar. Hal ini mirip dengan “menggerakkan telinga”, dimana nampaknya memang hanya orang yang lahir dengan talenta ini yang dapat melakukannya.

******

Itu tadi sharing dari gw soal VTO, kalau ada tulisan gw yang kurang tepat atau kurang lengkap, boleh lho gw dikasih tau lewat kolom komentar.

Thank you

🙂

TAMBAHAN

  1. Mohon maaf apabila pembahasan soal VTO-nya tidak terlalu detail karena materi ini memang materi yang cukup dalam untuk dibahas dan belum menjadi kapasitas gw untuk membahasnya secara detail. Apa yang gw tulis di atas hanya berdasarkan apa yang gw alami dan murni gw hanya ingin membagikan pengalaman gw.
  2. Apabila ada dari kalian yang setelah membaca tulisan ini lalu ingin mencoba melakukan teknik VTO ini, hal tersebut di luar kendali gw. Saran yang bisa gw berikan adalah jangan melakukan teknik ini tanpa pengawasan dari orang yang memang sudah ahli.
  3. Mike tidak mengajarkan teknik VTO ini. Sekali lagi, dia tidak mengajarkan teknik ini dan tidak meminta gw untuk melakukan teknik ini. Semuanya 100% keinginan dari gw.
Facebook Comments Box