Aku Turut Bersukacita, Pa

Di salah satu sudut sebuah rumah sakit, lebih tepatnya di depan bagian Intensive Cardiologi Care Unit (ICCU), seorang anak laki-laki terlihat sedang berdiri dengan penuh harap di depan pintu ruangan. Tidak jauh dari anak laki-laki itu, di belakangnya, ibunya terduduk lemas pada bangku yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit sembari tangannya menggenggam kuat dompet yang dibawanya. Mereka berdua sedang mengharapkan keajaiban terjadi di dalam sana karena orang yang mereka kasihi, ayah dan juga suami, baru saja masuk ke dalam ruangan tesebut.

Ayah dari sang anak awalnya terlihat tidak sadarkan diri di lantai ruang tamu rumahnya. Karena tidak bisa dibangunkan, meskipun sudah dipanggil namanya berkali-kali dan bahkan dipukul, akhirnya sang anak dengan cepat keluar rumah dan meminta bantuan para tetangga untuk mengantarkan sang ayah ke rumah sakit. Pada bagian ICCU inilah kini sang ayah terbaring.

Ibu dari sang anak bukan satu-satunya orang yang duduk dengan penuh harapan di bangku yang ada di depan pintu ruangan ICCU. Di sebelahnya terdapat beberapa orang lainnya yang tidak saling mengenal, yang sudah lebih dulu duduk di sana. Ada yang sudah menunggu selama 3 hari, ada yang sudah 5 hari dan bahkan ada yang sudah 1 minggu lebih. Semua, termasuk ibu dan anak tersebut, menantikan hal yang sama yaitu sang perawat atau dokter keluar dari dalam ruangan dengan membawa berita baik kalau orang yang mereka sayang bisa sembuh dan kembali pulang ke rumah.

Tiba-tiba, sebuah lampu yang memang diletakkan di bagian atas pintu kamar ICCU menyala. Warnanya merah terang dan diiringi suara seperti bunyi bel. Tidak lama berselang, seorang perawat dengan masker yang masih terpasang di mukanya keluar sambil melepaskan sarung tangan yang dipakainya. “Keluarga Bapak Yahya (hanya nama samaran)”, teriak suster tersebut. Salah seorang wanita yang duduk langsung berdiri dan menghampiri suster. Percakapan antara kedua orang itu pun terjadi.

Orang-orang yang ada di sekitarnya tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan karena memang volume suara dari suster cukup pelan dan hanya sanggup di dengar oleh wanita yang berdiri persis di depannya. Sang suster terlihat mulai berhenti berbicara dan kedua tangannya ia letakkan di atas kedua pundak wanita itu sambil tertunduk. Usai melepaskan tangannya dari pundak wanita tersebut, suster kembali masuk ke dalam ruangan ICCU.

Pandangan mata dari wanita yang tadi berbincang dengan suster pun berubah kosong dan disusul dengan derai air mata. Tidak ada suara yang keluar darinya, murni hanya sebuah tangisan. Melihat wanita yang mulai menyandarkan dirinya ke tembok itu menangis, anggota keluarga yang lainnya segera menghampirinya dan satu per satu memeluk wanita tersebut. Tanpa bertanya, semua orang yang ada di sekitarnya tahu kalau orang yang sedang ditunggunya, orang yang berada di dalam ruangan ICCU, orang yang dikasihinya kini sudah tidak bernyawa lagi.

Baca juga: Perjalanan Luar Biasa di Tahun 2017

Sejak saat itu, lampu yang menyala di atas pintu ruangan ICCU terlihat seperti momok. Lampu tersebut ibarat sebuah singa yang siap menerkam mangsanya. Setiap kali lampu itu menyala, semua anggota keluarga yang menunggu di luar ruang ICCU langsung was-was. Semua berharap agar bukan mereka yang dipanggil oleh sang suster, si pembawa berita. Seandainya salah satu dari mereka yang dipanggil, mereka masih bisa berharap kalau sang suster hanya memanggil mereka untuk menebus obat bagi anggota keluarganya yang di rawat di dalam dan bukan kabar meninggalnya orang yang mereka cintai.

Pemandangan dipanggilnya salah satu anggota keluarga dan disusul dengan isak tangis menjadi pemandangan yang biasa bagi sang anak laki-laki dan ibunya. Selama 19 hari, mereka berdua sudah berkali-kali melihat peristiwa tersebut. Entah sudah berapa liter air mata yang terjatuh di depan pintu itu, pintu yang menjadi batas antara 2 pihak yang saling mengasihi. Kalau bisa berbicara, mungkin pintu itu pun tidak mau berada di situ. Jikalau bisa memilih, ia akan memilih untuk menjadi pintu gerbang Disney land, pintu yang membawa kebahagiaan di tiap wajah yang memasukinya.

Selama 19 hari itu juga sang anak laki-laki harus membagi waktunya antara bekerja dan mengunjungi ayahnya di rumah sakit, tak lupa ia juga memastikan kondisi ibunya agar tidak drop. Agak sulit rasanya bekerja sambil memikirkan kesehatan sang ayah. Badan di kantor, tapi pikiran berada di rumah sakit. Kamu pasti pernah mengalaminya kan?

Sang ibu sendiri memutuskan untuk izin dari kantornya dan merawat pria yang sudah berjuang untuk dirinya. Untung saja kantornya mengerti dan mengizinkannya untuk tidak perlu bekerja. Tiada malam yang dilewatkan ibu itu tanpa berdoa. Tangisan sudah tidak perlu ditanya, sang ibu bahkan sudah menangis sampai tidak lagi ada air mata yang keluar dari matanya. Doa yang dia sampaikan kepada sang Tuhan pun begitu spesifik hanya untuk kesembuhan suaminya dan orang-orang di dalam sana, bahkan ia sampai lupa mendoakan dirinya sendiri.

Ruang yang penuh ‘derita’ itu seolah menjadi ruang paling favorit yang tidak pernah sepi. Baru saja satu pasien yang meninggal dikeluarkan dari ruang ICCU, pasien berikutnya sudah siap untuk dibawa masuk. Andai saja ruang ibadah di setiap agama seperti ini, tidak pernah sepi dari umatNya, di atas sana Tuhan pasti selalu tersenyum bahagia.

Suasana kekeluargaan pun terbentuk dari kumpulan orang-orang yang tidak saling mengenal di depan ruang ICCU. Mereka saling menguatkan dan mendoakan agar siapapun yang dirawat di dalam  sana lekas sehat dan kembali berkumpul dengan keluarga. Tidak peduli apa agamanya, dimana tinggalnya, berasal dari suku apa, semua saling menopang.

Setelah sekian kali terlewat dari panggilan si pembawa berita, akhirnya giliran itu pun menghampiri si ibu. Sang anak laki-lakinya saat itu baru saja pulang sehingga sang ibu harus menghadapi sosok pembantu dokter itu dengan kekuatannya sendiri. “Keluarga Pak Jacobus”, panggil sang suster. Dengan kekuatan yang dimiliki ibu tersebut, ia bangkit dari tempat dimana ia duduk sambil dalam hati berkata, “Tuhan, kalau memang suamiku harus sembuh, biarlah ia sembuh total dari penyakit yang menyerangnya. Tapi kalau tidak, aku sudah siap jika Engkau mau mengambilnya.”

Ibu tersebut sudah siap dengan segala kemungkinan kalimat yang akan keluar dari mulut suster. Benar saja, ketika sudah berhadapan dengan sang suster di depan pintu, dengan suara yang pelan sang suster memberitahu kalau suaminya, ayah dari sang anak laki-laki, sudah menghadap penciptanya.

Baca juga: 7 Hal yang Bisa Kamu Dapat Dari Hitchhiking Selain Sekedar Tumpangan

Sebelum ibu itu tertunduk dan sang suster masuk, ibu itu masih sempat mengucapkan terima kasih kepada sang suster. Tidak ingin lagi agar anaknya berdoa bagi kesembuhan ayahnya di sisa malamnya, sang ibu pun menelpon sang anak dan memberi tahu kalau ayahnya sudah tiada, ayahnya sudah sembuh dan sang anak pun tidak perlu lagi berdoa untuk kesehatan sang ayah. Ayahnya sudah ‘menang’.

Berita dukacita atas meninggalnya sang ayah pun segera menyebar ke tetangga di rumahnya, teman kantor dari sang ibu dan sang anak laki-laki, teman-teman di sekolah dari adik perempuan sang laki-laki, anggota gereja dan orang-orang lainnya yang mengenal sosok ayah tersebut.

Saat jenazah sudah tiba di rumah duka, berbagai ucapan turut berbelasungkawa dan turut berdukacita datang bertubi-tubi kepada sang ibu dan kedua anaknya, si laki-laki dan si perempuan.

****

Cerita di atas merupakan cerita singkat ketika saya, mama dan adik saya harus menghadapi kenyataan kalau papa harus dipanggil pulang pada tanggal 7 Maret 2014.

Ya, sosok anak laki-laki dalam cerita di atas adalah saya dan sosok ibu adalah mama saya (saya tidak terlalu banyak menceritakan soal adik saya).

2 Tahun Sebelumnya

2 tahun sebelum papa meninggal, papa sempat berbincang dengan saya. Pokok pembicaraan kami saat itu adalah soal kematian. Agak horror memang pembicaraan saya dan papa saat itu. Di saat ayah dan anak biasanya membicarakan soal masa depan (pernikahan, cucu dan hari tua), papa justru membicarakan hal yang lebih depan dari masa depan yang umumnya dibicarakan yaitu soal kematian.

Papa bertanya, “Menurut kamu, saat ada seseorang yang meninggal, pihak keluarga yang ditinggalkan harus bersukacita atau berdukacita?” Saya yang tiba-tiba mendapat pertanyaan tersebut pun bingung harus menjawab apa. Secara manusiawi pasti orang-orang akan berdukacita, tapi di sisi lain ada juga hal yang patut disyukuri sehingga pihak keluarga patut juga untuk bersukacita. “Turut berdukacita pa”, jawabku.

“Jawabanmu tidak sepenuhnya salah. Namun untuk papa, kita tidak boleh melihatnya hanya sebagai berita dukacita saja. Kita juga harus melihatnya sebagai berita sukacita.” ucap papa. “Berat memang, tapi itulah realitanya. Kita tetap harus mengucap syukur meskipun berita meninggalnya seseorang, orang yang kita kasihi, datang menghampiri kita.” tambahnya.

Saya lupa kalimat persis dari papa seperti apa dan ayat Alkitab yang digunakan oleh papa untuk memperkuat statement-nya tersebut. Tapi kira-kira seperti itulah kalimat yang diucapkannya.

Omongan tersebut bukanlah isapan jempol saja karena papa sudah dan selalu mempraktekannya selama ia hidup. Suatu ketika, papa mendapat kabar kalau keponakannya, anak dari kakaknya, meninggal akibat dibunuh. Yang lebih mencengangkan lagi ialah keponakannya tersebut dibunuh oleh orang yang juga masih ada hubungan saudara dengan papa.

Dengan hati yang berat papa mengantar jenazah dari keponakannya ke Kupang untuk dimakamkan di makam keluarga. Saya ingat betul, wajah sedih hanya ia tunjukkan saat pertama kali menjumpai jenazah keponakannya. Bagaimana ia bisa terlihat tidak bersedih di kesempatan selanjutnya?

Ia mengubah kesedihan itu menjadi doa untuk menguatkan dirinya karena ia tahu kesedihan yang berlarut-larut tidak ada gunanya dan Tuhan lah sumber dari segala kekuatan yang dia butuhkan. Bahkan saat diadakan ibadah di Kupang, papa terlihat begitu tegar. 

Pertanyaannya adalah bagaimana mau bersukacita kalau orang yang kita cintai meninggal akibat dibunuh? Kalau meninggal karena sakit atau karena kecelakaan, mungkin kita masih bisa bersukacita karena kini orang tersebut sudah tidak sakit lagi dan sudah ‘sembuh’. Lalu kalau dibunuh?

Saya kira keikhlasan adalah salah satu kuncinya. Bersukacita yang dimaksud papa ialah bersukacita dalam Tuhan, bukan bersukacita dalam dunia. Jadi bukan perayaan yang jadi titik utama melainkan kerelaan hati. Ketika hubunganmu dekat denganNya, maka kamu akan bersuka di dalam Dia, terlepas dari kondisi ‘buruk’ apapun yang kamu hadapi. Mudah kah? Tentu saja tidak.

Papa kerap memarahi saudaranya yang sedihnya terlalu berlarut-larut dan selalu menangis saat mengunjungi makam dari keponakannya tersebut. Saya ingat papa pernah berkata, “Yang perlu ditangisi itu bukan mereka yang sudah mati tetapi mereka yang masih hidup.”

Ajaran papa itu pun menular kepada mama, saya dan adik saya. Mama kerap akan marah bila ada sanak saudara yang mengunjungi makam papa lalu menangis secara berlebihan. “Saya yang istrinya saja sudah tidak sedih lagi atas kepergiannya, kenapa kamu malah sedihnya berlebihan begitu?” itulah salah satu kalimat yang saya ingat pernah dilontarkan mama kepada salah seorang saudara papa. *FYI aja ya, orang Kupang itu kalau nangis, tangisannya sudah bisa terdengar dari radius 300 meter. Kuat sekali*

Buat saya, ketika kamu masih berduka atas kepergian seseorang, maka ada hal yang belum kamu lepaskan. Ketika kamu sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan, maka kamu akan bersuka di dalamNya.

Allah adalah sumber segala penghiburan, yang menghibur kita dalam segala penderitaan yang kita alami, sehingga kita sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kita terima sendiri dari Allah.

Jikalau nanti ada anggota keluarga saya yang meninggal dan kamu hendak melayat, jangan ragu untuk mengucapkan Turut Bersukacita kepada saya dan bukan Turut Berdukacita. Saya akan menjawabnya dengan ucapan Terima Kasih yang diiringi dengan sebuah senyuman.

Jadi kalau ditanya apakah aku berdukacita atau bersukacita atas meninggalnya papa, maka dengan tegas aku akan menjawab AKU TURUT BERSUKACITA, PA. 

Catatan:

Saya percaya kalau kalian yang membaca ini mengerti seperti apa turut bersukacita yang saya maksud 🙂

Facebook Comments Box

Comments are closed.