Tahun 2018 baru saja ditutup dan kini kita menatap tahun 2019. Kala artikel ini diterbitkan, berarti baru 2 hari kita lewati di tahun 2019 ini. Masih ada 363 hari yang sangat panjang yang akan kita lewati, dengan berbagai macam kejutan pastinya.
Di penghujung tahun 2018 kemarin, saya melihat banyak masyarakat dari berbagai belahan dunia merayakan momen pergantian tahun dengan cara-cara yang unik. Ada yang menunggu hadirnya pesta kembang api di alun-alun kota, ada yang memilih untuk melakukan makan malam romantis dengan pacarnya, ada yang bakar-bakar ayam bersama teman-teman di halaman rumah, ada juga yang memilih untuk party di suatu club malam dan banyak lagi cara seru lainnya dalam menyambut tahun 2019.
Nah pada kesempatan kali ini, saya pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk berbagi momen tutup tahun 2018 dan menyambut 2019 ini. Mungkin cara yang saya lakukan tidak terlalu spesial, tapi tak ada salahnya jika saya bagikan.
Jadi sedari kecil itu saya tidak pernah merayakan tahun baru dengan teman-teman. Saya tidak pernah pula merayakan momen pergantian tahun itu dengan bermain kembang api atau bakar-bakaran. Saat momen pergantian tahun, saya selalu berada di rumah. Ya, di dalam rumah. Momen yang banyak dinanti-nantikan orang itu selalu saya habiskan bersama keluarga.
Lahir di keluarga Kristen yang cukup taat membuat saya tidak diajarkan untuk hura-hura di penghujung tahun. Saya selalu diajarkan untuk bersyukur dalam kesederhanaan. Maksudnya bagaimana?
- Baca Juga: Perjalanan Luar Biasa di Tahun 2017
Ketika kita bisa melalui hari demi hari hingga di penghujung tahun, tidak lain itu karena penyertaan Tuhan. Sehebat dan sekaya apapun kita, kalau Tuhan bilang kalian tidak akan hidup hingga pergantian tahun, ya kalian tidak akan bisa merayakan itu. Untuk itu, saya diajarkan untuk bersyukur padaNya dengan cara bergereja dan doa malam.
Pada tanggal 31 Desember, gereja melaksanakan ibadah tutup tahun pada malam hari. Saya bersama keluarga pasti berangkat bersama-sama untuk beribadah. Kami mau mengucap syukur atas berkat yang Ia berikan sepanjang tahun.
Sepulangnya dari gereja, saya boleh langsung pulang atau main dulu dengan beberapa orang teman. Tapi jam 00:00 WIB, saat momen pergantian tahun, saya harus sudah berada di rumah. Kami selalu mengadakan doa malam keluarga. Bersama-sama kami akan menutup dan membuka tahun dengan saling mendoakan satu sama lain, meminta pertolongan Tuhan untuk bisa membantu kami menjalani tahun yang baru, dan banyak hal lainnya yang kami doakan.
Selepas doa, kami akan saling berpelukan dan mengucapkan selamat tahun baru. Selanjutnya, orang tua saya akan memberikan petuah-petuah kepada kami (saya, adik dan saudara lainnya) yang masih muda. Kami pun diperbolehkan menyampaikan harapan-harapan kami, baik terhadap diri sendiri atau orang lain. Rangkaian acara mulai dari doa malam keluarga hingga petuah-petuah ini bisa sampai jam 02:00 WIB atau jam 03:00 WIB. Baru setelah itu kami tidur.
Jam 07:00 WIB, kami sudah harus bangun kembali karena tepat jam 09:00 WIB, kami harus sudah berada kembali di gereja untuk ibadah awal tahun. Kalau 31 Desember kami menutupnya dengan bergereja, 1 Januari kami memulai hari baru di tahun yang baru dengan bergereja. Baru setelah pulang gereja, saya dibebaskan untuk merayakannya bersama teman-teman. Tapi tetap saja saya akan kembali ke rumah karena banyak anggota keluarga yang lain yang akan datang ke rumah untuk kumpul dan bersenang-senang bersama.
Kurang lebih itulah kegiatan saya selama 27 tahun hidup ini ketika menyambut momen pergantian tahun.
Kesan
Mungkin kalian ada yang bertanya, “Apa nggak bosan us dengan rutinitas yang seperti itu?”
Jujur, awalnya (saat masih SD-SMP) saya pun marah kepada orang tua saya. Kenapa saya tidak bisa bermain kembang api bersama yang lain? Kenapa saya tidak bisa bakar jagung seperti teman-teman saya yang berada di depan rumah? Kenapa di saat orang-orang lain berpesta, bersenang-senang, menyalakan kembang api, saya harus larut dalam doa dan keheningan? Hati saya menangis meskipun mata ini tak mengeluarkan airnya dan dengan terpaksa mengikuti “ritual” doa malam keluarga.
Waktu SMP kalau tidak salah, dimana rasa berontak masih sangat besar, saya pernah mencoba kabur dari “ritual” itu. Namun ketika saya sampai di rumah, kalian tahu apa yang saya dapat? Pukulan dengan ikat pinggang dan juga rotan. Habis sehabis-habisnya saya waktu itu oleh papa saya. Sejak saat itu saya tidak pernah berani lagi pergi saat pergantian tahun.
Tapi lambat laun saya semakin mengerti. Saya semakin sadar kalau orang tua saya mengajarkan sesuatu yang luar biasa bagus buat saya. Menempatkan Tuhan diurutan pertama dan keluarga di urutan selanjutnya, saya rasa itu yang mau orang tua saya tekankan. Di saat dunia menolakmu, ingat selalu ada sebuah rumah yang bernama keluarga yang akan selalu menerimamu tanpa syarat dan Tuhan juga tentunya. Jadi berkumpul bersama dan berdoa bareng di malam tahun baru itu sekarang bukan lagi beban untuk saya, bahkan saya menantinya. Toh setelah itu bisa bermain dengan teman-teman juga, kan?
- Baca Juga: Perjalanan Explore Flores 9 Hari 8 Malam
Mendengar bagaimana orang tua menyampaikan harapan, pesan dan doa secara langsung kepada saya itu membuat hati saya bergetar. Kalau biasanya doa orang tua itu begitu senyap dari balik pintu kamarnya tanpa terdengar oleh siapapun, pada momen inilah saya bisa mendengarnya yang ternyata mereka hanya berharap saya bisa hidup sehat dan mendapat banya berkat & menjadi berkat.
Yang saya tahu, doa malam keluarga itu bukanlah ajaran gereja melainkan wujud iman dan rasa syukur kepada Tuhan. Jadi bisa saja orang lain tidak melakukannya dan itu menjadi pilihan mereka. Kalau keluarga saya memilih untuk melakukan dan melestarikan itu.
Saya percaya kalau saya bisa sampai pada titik ini bukan hanya karena usaha saya, tapi ada campur tangan orang tua yang tidak pernah berhenti berdoa kepada sang Tuhan. Kalau film Keluarga Cemara bilang “Harta yang paling berharga adalah keluarga”, saya setuju akan hal itu. Mendapat berkat dari orang tua di awal tahun merupakan salah satu kekuatan saya untuk menghadapi tahun baru yang super misterius. Lalu apa alasan saya untuk tidak “bersenang-senang” bersama mereka?
*****
Itu tadi sedikit cerita singkat mengenai kegiatan saya kala menutup tahun 2018 dan menatap tahun 2019 beserta alasannya. Jadi kalau mau ajak saya jalan-jalan, jangan pas malam tahun baru ya *Ih pede banget, siapa juga yang mau ngajak jalan-jalan*
Akhir kata, selamat tahun baru 2019 dan selamat menyongsong tahun baru ini dengan penuh harapan.


Comments are closed.