2018 – Setiap memasuki tahun yang baru, tidak ada salahnya kita memutar kembali waktu ke belakang dan mengingat bagaimana perjalanan luar biasa yang kita lakukan pada tahun sebelumnya. Mengingat berapa banyak tawa yang sudah Tuhan berikan, berapa banyak tangis yang menguatkan, berapa banyak ujian yang boleh Ia izinkan kita alami dan kita boleh bersyukur atas semua hal yang boleh terjadi pada tahun tersebut.
Seperti halnya di awal 2019 ini, saya mau mengingat kembali perjalanan yang saya lakukan selama 2018. Banyak sekali perjalanan yang sudah saya rencanakan tidak tereksekusi dengan baik pada tahun 2018, namun Tuhan menggantinya dengan perjalanan-perjalanan kejutan yang tak kalah bagusnya. Saya boleh bertemu banyak teman baru, semakin mengenal Indonesia, semakin banyak menulis dan banyak lagi berkat dariNya.
- Baca Juga: Perjalanan Luar Biasa di Tahun 2017
Kira-kira pada tahun 2019 ini saya akan kemana lagi ya? Tempat-tempat mengejutkan seperti apa ya yang Tuhan sudah persiapkan untuk saya? Sebelum memikirkan 2019 saya akan pergi kemana, lebih baik saya berterima kasih kepada Sang Pencipta dan menceritakan rangkaian perjalanan saya selama tahun 2018.
Berikut ini rangkaian perjalanan saya pada tahun 2018 dari bulan ke bulan:
Januari
Di awal Januari 2018, saya sudah mendapatkan berkat untuk melakukan perjalanan ke Sumatera Utara, lebih tepatnya ke daerah Kabanjahe dan juga Danau Toba. Tujuan utama dari perjalanan ke Sumatera Utara sebenarnya adalah untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga dari pihak mama. Namun kurang nikmat rasanya kalau tidak berkeliling sebagian kecil wilayah Sumatera Utara.
Tidak jauh dari Kabanjahe, kampung nini (nenek) saya, terdapat sebuah daerah bernama Merek. Ke sanalah saya berkunjung usai perayaan natal dan tahun baru. Di daerah Merek ini terdapat suatu kampung bernama Kampung Dokan dimana di kampung ini masih banyak sekali rumah adat orang Karo atau yang biasa dikenal dengan nama Rumah Adat Siwaluh Jabu. Ke sinilah saya belajar mengenai sejarah rumah adat orang Karo dan mengabadikan bentuk rumahnya ke dalam memori kamera.
Destinasi selanjutnya setelah Kampung Dokan adalah Danau Toba. Berkendara sejauh ±90 KM dari Kampung Dokan, saya pun mampir ke Parapat untuk menyaksikan danau terbesar di Indonesia, apalagi kalau bukan Danau Toba. Sepanjang perjalanan menuju Parapat, kendaraan yang saya tumpangi pun sesekali berhenti agar saya bisa menyaksikan keindahan Danau Toba di sebelah kanan jalan yang saya lalui.
Di tengah Danau Toba, terdapat satu pulau yang cukup besar bernama Pulau Samosir. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mampir ke pulau ini. Atraksi wisata yang ditawarkan di pulau ini sangat banyak, mulai dari wisata kuliner, wisata budaya dan juga wisata alam. Saking bagusnya, saya harus memilih beberapa diantaranya, tidak bisa semua. Saya berhasil menikmati Tarian Sigale-gale, mengenal Kampung Sialagan, makan BPK, melihat makam Raja Sidabutar dan mengenal rumah adat orang Toba.
https://www.instagram.com/p/BeCH1lGHyHb/
Februari
Berkat Tuhan terus berlanjut. Di bulan kedua pada tahun 2018 ini saya melakukan 3 perjalanan, ini adalah perjalanan paling banyak dalam sebulan di tahun 2018. Perjalanan pertama saya lakukan dekat saja, di bilangan Jakarta Selatan, lebih tepatnya saya mengunjungi Museum Basoeki Abdullah. Bersama dengan Mike, Deta, Deddy dan Helena, saya menyambangi kediaman sang maestro lukis Indonesia yang sekaligus menjadi museum itu.
Di Museum Basoeki Abdullah ini, kalian bisa melihat berbagai macam lukisan yang ia ciptakan semasa ia hidup. Salah satu lukisan paking terkenal adalah lukisan Ratu Juliana. Selain lukisan, di museum ini kalian juga bisa melihat berbagai macam koleksi dari Basoeki, mulai dari senapan, buku-buku, pakaian, arloji dan masih banyak lagi. Di kediamannya inilah tahun 1993 ia harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat dibunuh.
Hanya selang beberapa hari, saya menyanggupi ajakan Ejie Belula untuk mengikuti HHI (Hitchhiking Indonesia Race). HHI Race merupakan kompetisi Hitchhiking yang diadakan oleh Hitchhiker Indonesia. Kompetisinya mudah saja, setiap tim akan berisi 2 orang, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Setiap tim akan saling beradu cepat untuk menuju titik yang sudah ditetapkan oleh panitia, dengan cara Hitchhiking tentunya alias numpang.
Saya ingat betul, waktu itu ada 3 tim yang saling berkompetisi dari Arion Mall menuju Gadog. Kami tidak diperkenankan untuk naik kendaraan umum. Kami harus menumpang. Terserah mau menumpang mobil jenis apapun, boleh truk, mobil mewah atau mobil bak terbuka. Ini adalah pengalaman hitchhiking pertama saya setelah terakhir melakukannya pada jaman SMA dan ternyata hitchhiking itu masih sangat mungkin dilakukan di Indonesia lho. Masih banyak orang baik yang mau memberikan tumpangan secara gratis.
Di penghujung Februari, saya menerima ajakan dari Icha Siregar untuk melakukan Jakarta Walking Tour, yaitu sebuah kegiatan berjalan kaki menyusuri Jakarta untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Acara ini diprakarsai oleh Jakarta Good Guide. Mungkin kalian ada yang bertanya, “Memang ada tempat bersejarah di Jakarta selain Kota Tua?” Jawabannya “ada banget”.
Seperti yang saya lakukan di Jakarta Walking Tour kali ini. Daerah yang kami susuri waktu itu adalah Jakarta Utara, lebih tepatnya daerah Cilincing. Di sana terdapat beberapa destinasi bersejarah seperti Kampung Pengasinan Ikan yang sudah ada sejak jaman dahulu. Lalu ada juga Rumah Krematorium Cilincing, krematorium tertua yang ada di Jakarta. Tidak jauh dari Rumah Krematorium, terdapat Pura Segara yang digunakan oleh umat Hindu untuk beribadah. Bersama Jakarta Good Guide, kami diajak untuk melihat dan mengenal tempat-tempat dengan nilai historis tersebut yang masih berdiri hingga sekarang.
April
Bulan Maret 2018 saya harus “istirahat” dari jalan-jalan. Waktu istirahat bulan Maret itu pun saya manfaatkan untuk menyusun rencana perjalanan ke Ambon dan Kei (Maluku Tenggara) yang akan saya eksekusi di bulan berikutnya. Setelah rencana tersusun dengan baik, massa terkumpul dan uang pun cukup, rencana mengunjungi Ambon dan Kei akhirnya tereksekusi pada bulan April 2018. Perjalanan ke tanah manise itu saya lakukan selama kurang lebih 7 hari 6 malam.
4 hari pertama saya habiskan di Maluku Tenggara, lebih tepatnya di Pulau Kei Kecil. Di pulau yang berjarak kurang lebih 2 jam dari Ambon ini, saya mampir ke banyak tempat yang luar biasa bagus. Ada Pantai Ngurbloat yang merupakan pantai dengan pasir terhalus nomor 2 di dunia. Ada juga Pulau Ngurtavur, sebuah pulau pasir timbul yang biasa menjadi tempat berkumpulnya burung Pelikan.
Ada juga pulau kecil nan cantik dengan air lautnya yang berwarna Tosca, Pulau Bair namanya. Belum lengkap rasanya kalau ke Kei bila belum mengunjungi Pulau Bair. Selain wisata pantai, di Pulau Kei juga terdapat wisata lainnya seperti Goa Hawang dan juga Bukit Masbait. Goa Hawang merupakan sebuah goa dengan air yang super jernih. Sedangkan Bukit masbait adalah titik tertinggi di Pulau Kei dimana kalian bisa menikmati sunrise.
Puas bermain di Kei selama 4 hari, saya pun kembali lagi ke Ambon sebelum akhirnya menuju kembali ke Jakarta. Selama 3 hari di Ambon, saya mengunjungi beberapa tempat seperti Masjid Wapauwe, Gereja Tua Immanuel, Benteng Amsterdam dan beberapa pantai cantik, salah satunya adalah Pantai Liang. Saya pun mampir ke salah satu daerah penghasil Duren, yaitu Hutumuri. Maluku menjadi satu-satunya destinasi yang saya kunjungi pada bulan April 2018.
Mei
Sudah sejak lama saya ingin pergi ke Malang dan menikmati keindahan Gunung Bromo. Namun saya tidak ingin pergi saat weekend sebab Bromo terlalu ramai saat akhir pekan. Akhirnya doa dan impian saya dijawab Tuhan beberapa tahun berselang, yaitu pada Mei 2018. Bukan hanya Bromo yang bisa saya kunjungi tetapi juga Gunung Semeru yang berada di Kawasan TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Selain bonus Semeru, ada bonus lain yang saya dapat yaitu destinasi yang tidak terlalu ramai. Pergi saat bulan puasa membuat perjalanan Bromo dan Semeru menjadi sangat lengang. Saya pun benar-benar bisa menikmati perjalanan tersebut.
Pagi-pagi benar, saya sudah berangkat dari Pasar Tumpang menuju Bromo untuk melihat pesona matahari terbit di sana. Keindahannya tak bisa disangkal dan cuaca saat itu benar-benar mendukung. Selain melihat sang surya terbit, saya pun berkesempatan menikmati indahnya kawasan Pasir Berbisik, Gunung Batok, Bukit Teletubbies dan tentunya Gunung Bromo sendiri.
Selang sehari berikutnya, saya diizinkan untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa bersama teman-teman SMP. Semeru sangat cerah dan perjalanan juga sangat menyenangkan. Sebagai salah satu akibat dari hari yang cerah, suhu di camping ground Ranu Kumbolo pada malam menuju pagi hari bisa mencapai 0°C. Tripod yang saya tinggal di luar tenda pun sampai diselimuti es.
Puji Tuhan perjalanan menuju Puncak Mahameru dari Kalimati hingga kembali lagi ke Kalimati pun berlangsung dengan lancar. Tidak ada yang cedera sama sekali. Puas bermain di Malang (Bromo dan Semeru) saya pun mampir ke Batu untuk bersanta-santai sebelum akhirnya mengakhiri perjalanan di bulan Mei 2018 ini.
Juni
Bulan Juni, saya berkesempatan untuk mengunjungi kampung halaman papa saya di Kupang, NTT. Kali ini yang menjadi tujuan utama saya adalah Pulau Semau. Pernah kalian mendengar Pulau Semau? Namanya memang jarang terdengar, namun belakangan ini pamornya mulai naik. Di pulau yang berada di utara Pelabuhan Tenau ini kalian bisa menemukan banyak pantai cantik seperti Pantai Otan, Pantai Uitiuhtuan dan yang paling indah adalah Pantai Bukit Liman.
Keesokan harinya, setelah mengunjungi Pulau Semau, saya berencana mengunjungi Pulau Sabu. Sayangnya, saya tidak bisa berangkat ke sana sebab kondisi ombak yang sedang tidak bagus. Daripada memaksakan dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya pun memutuskan untuk menunda kunjungan ke Pulau Sabu dan menggantinya menjadi ke Soe.
Jarak Kupang – Soe kurang lebih 100 KM dan saya menempuhnya dengan sepeda motor. Ada apa saja sih di Soe sehingga saya mengubah rencana saya ke sana? Di sana itu ada air terjun cantik bernama Air Terjun Oehala. Kalian juga bisa menemukan kawasan Gunung Batu yang cantik bernama Fatumnasi. Untuk yang suka naik gunung, kalian bisa mencoba melakukan pendakian ke Gunung Mutis.
Sebagai info tambahan, tidak jauh dari Soe, ada 2 pantai cantik lain bernama Pantai Oetune dan Pantai Kolbano. Jangan lupa bawa jaket tebal ya kalau mau ke Soe, sebab daerahnya dingin banget.
Agustus
Traveling setiap bulan tanpa sponsor membuat kantong jebol *curhatan sobat misqueen*. Akhirnya saya memutuskan untuk rehat sejenak di bulan Juli 2018. Seperti layaknya bulan Maret 2018, Juli 2018 pun saya gunakan untuk beristirahat dan merencanakan perjalanan di bulan Agustus. Dan tujuan saya bulan Agustus ini adalah kembali ke NTT.
Kali ini daerah yang saya tuju adalah Alor. Menurut saya, bagi kalian yang ingin belajar mengenai kerukunan beragama, datanglah ke Alor. Selain memiliki pantai yang cantik seperti Pantai Ling’al, Pantai Mali, Pantai Pantar Kumbang, Pantai Maimol, dan Pantai Sebanjar, terjaga pula kerukunan dan toleransi umat beragama di sini.
Selain wisata pantai, kalian juga bisa menemukan wisata kuliner dan wisata budaya di Alor. Makanan yang wajib kalian coba ketika tiba di Alor adalah Ikan Kuah Asam. Kalian bisa berkunjung ke Resto Mama, satu-satunya restoran di Alor, untuk mencoba menu tersebut. Kalau mau mencoba makanan kecilnya, datanglah ke Pasar Tradisional Kadelang dan carilah Kue Rambut dan Jagung Titi.
Untuk Wisata budaya, kalian bisa mampir ke Desa Takpala, Desa Monbang, dan Museum 1000 Moko (satu-satunya museum yang ada di Alor). Dari banyak kegiatan di Alor, yang paling melekat di ingatan saya adalah ketika saya bermain dengan Dugong di sekitar Pulau Sikka bersama Pak One.
Dari Pulau Alor, sebenarnya saya ingin mampir ke Pulau Pantar. Hanya saja saat itu kondisinya tidak memungkinkan sehingga saya putar haluan ke Belu yang ada di Pulau Timor. Dengan menggunakan kapal Feri, saya pun berangkat ke Belu. Ada apa sih di Belu? Di Belu ini kalian bisa mampir ke daerah perbatasan RI – Timor Leste. Selain itu kalian juga bisa menikmati keindahan padang savana di Fulan Fehan dan dinginnya Air Terjun Mauhalek.
Namun yang membuat saya jatuh cinta dengan Belu adalah keelokan Pantai Teluk Gurita dan Bukit Tuamese. Untuk Bukit Tuamese, sebenarnya bukan berlokasi di Belu. Hanya saja tempat ini bisa menjadi opsi kunjungan ketika berkunjung ke Belu karena letaknya yang tidak begitu jauh dan pemandangannya yang fantastik.
Oktober
Capek juga rasanya jalan yang jauh-jauh terus (alasan sebenarnya adalah bokek). Bulan Oktober ini bersama teman-teman seperjuangan masa kuliah, kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah di daerah Sentul. Di sanalah kami menghabiskan satu hari bersama-sama. Seru sekali bisa bernostalgia tentang jaman kulaih dulu, apalagi sekarang sudah banyak yang menikah, bahkan punya anak.
Perjalanan memang tidak melulu soal tempat, tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan itu. Seperti perjalanan di Oktober 2018 ini. Tempatnya tidak jauh, biayanya tidak terlalu mahal, namun perjalanannya begitu mengesankan. Terkadang kita memang hanya butuh duduk, bercerita dan mendengar cerita dari orang lain untuk melepaskan beban yang ada.
Sepulangnya dari staycation itu, kami mampir sebentar ke daerah Gunung Pancar. Di sana kami menikmati keindahan dan kesejukan dari hutan pinus. Dimana pun hutan pinus berada, rasanya selalu layak untuk dikunjungi. Pohon Pinus ini rasanya memiliki daya magis yang selalu bisa menarik minat para wisatawan.
November
Hanya satu hari libur di bulan November 2018, saya memanfaatkannya untuk kembali berkeliling kota Jakarta. Ada 3 kegiatan yang saya lakukan dalam satu hari libur itu. Yang pertama adalah berolahraga, lalu yang kedua adalah kuliner dan yang terakhir ada photo hunting. 3 kegiatan itu saya laksanakan 1 hari penuh dan sungguh menyenangkan.
Kegiatan pertama dimulai pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06:00 WIB, dengan berolahraga di area GBK (Gelora Bung Karno). Setelah perhelatan Asian Games 2018 kemarin, GBK berubah total dan menjadi semakin rapi. Puas berolahraga yang mengeluarkan banyak tenaga dan keringat pastilah ada rasa lapar yang menyerang. Dari GBk pun saya bersama Helena dan Billy berangkat menuju daerah kota untuk mencicipi Kopi Es Tak Kie. Selain kopinya yang terkenal, tempat kuliner tersebut juga menjajakan mie ayam yang enak banget.
Kuliner tak hanya berhenti sampai di situ. Puas menikmati hidangan berat, kurang lengkap apabila tidak ditutup dengan makanan yang manis. Dari Kota, kami pun mampir ke sebelah Istiqlal dimana terdapat toko es krim terkenal bernama Ragusa Es Italia. Sebagai toko es krim tertua di Jakarta, tempat ini menyajikan berbagai varian es krim dengan harga yang sangat bersahabat untuk kantong anak kos.
Perjalanan hari itu kami tutup dengan mampir ke Katedral Jakarta dan Lapangan Banteng, usai menikmati es krim di Ragusa tentunya. Katedral Jakarta merupakan bangunan bercorak Neo Gotik pertama yang ada di Jakarta. yang membuat tempat ini spesila bagi saya bukanlah arsitekturnya, tapi lokasinya yang bersebelahan dengan Istiqlal. Keren nggak sih gereja dan masjid bisa bersebelahan begitu?
Selesai mengabadikan momen di Katedral, saya pun menyeberang ke Lapangan Banteng. Buat kalian yang belum pernah mampir ke Lapangan Banteng di era kepemimpinan Pak Anies Baswedan ini, saran saya adalah mampirlah. Lapangan Banteng sudah berubah total dan salah satu taman terbaik yang ada di Jakarta.
Desember
Perjalanan tahun 2018 ini saya tutup dengan berkunjung ke Palembang dan Lampung. Perjalanan yang agak dadakan ini saya lakukan bersama travelmate saya, Billy. Diawali dengan perjalanan ke Palembang, saya pun menyusuri daerah Bumi Sriwijaya tersebut. Selain kaya akan beberapa tempat wisata, Palembang ini juga surganya kuliner. Kalian pasti tahu apa kuliner yang wajib dinikmati ketika berkunjung ke Palembang.
Selama di Palembang, saya dan Billy berkunjung ke Jembatan Ampera, Masjid Agung Palembang, Pulau Kemaro, Klenteng Dewi Kwan Im, Jakabaring dan masih banyak tempat lagi di seputaran Jembatan Ampera. Dari sekian banyak, yang paling saya kagumi adalah Bayt Al Quran Al Akbar di daerah Gandus. Tempat ini memuat seluruh lembaran Al Quran yang terdiri atas 30 juz. Hebatnya adalah seluruh ayat suci itu dipahat di atas kayu Trembesi dan berwarna emas. Kalian wajib mampir ke sini kalau datang ke Palembang.
Untuk kulinernya sendiri, saya mencicipi banyak makanan dan minuman. Ada Lenggang enak dari Pempek Saga, Pempek kulit ikan dan cukonya yang luar biasa nikmat dari Pempek Vico, Es Kacang Merah Mamat, Mie celor H.Syafei, Martabak HAR, dan juga makan Pindang. kalau ditanya yang paling enak yang mana, saya pasti menjawab pempek kulit ikan dari Pempek Vico.
Dari Palembang, kami berangkat menuju Lampung dengan menggunakan kereta api. Perjalanan berlangsung selama kurang lebih satu malam. Tujuan utama dari perjalanan ke Lampung adalah Pantai Gigi Hiu dan juga Way Kambas. Namun sesampainya di Lampung, Tuhan memberikan saya kejutan dengan mengizinkan saya untuk bertandang ke beberapa spot tambahan.
Spot tambahan yang saya maksud adalah Teluk Kiluan dan Laguna Gayau-nya, serta Pulau Pasaran dan masjid tertua di Bandar Lampung, Masjud Al Anwar. Di Lampung, saya juga mencicipi beberapa kulinernya yang enak seperti pisang beraneka rasa dari Ashkajaya dan Eskrim di Gelato House.
*****
Kurang lebih itulah rangkuman perjalanan saya yang sangat amazing di tahun 2018. Tak henti-hentinya saya bersyukur atas nikmat luar biasa dari sang pencipta yang dipercayakan pada saya di tahun tersebut. Setelah melakukan kilas balik, ternyata banyak juga ya perjalanan yang saya lakukan 🙂
Kalau perjalanan kalian sendiri selama tahun 2018 bagaimana? Saya yakin juga luar biasa, sebab tidak ada perjalanan sesorang yang lebih baik dari perjalanan orang lain. Setiap orang punya perjalanannya sendiri yang bisa memberikan pelajaran, cerita dan pendewasaan diri.
Sampai jumpa di tahun 2019 ya. Semoga tahun baru ini perjalanan kalian makin banyak dan siapa tahu kita bisa jalan bareng 🙂

Comments are closed.