Siapa yang tidak mengenal Glenn Fredly? Lelaki Ambon Manise yang ‘ditetapkan’ oleh Najwa Shihab sebagai representasi jomblo nasional ini memang memiliki paras yang tampan. Banyak wanita berhasil dibuat klepek-klepek olehnya. Namun daya tarik utama dari pria kelahiran 1975 ini bukanlah terletak pada penampilannya, melainkan pada suaranya ketika ia bernyanyi. Ketika kita mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, kita pasti langsung tahu kalau itu suara Bung Glenn. Kenapa bisa begitu? Karena suaranya khas dan memiliki karakter. Tidak ada penyanyi Indonesia yang memiliki suara sepertinya.
Keindahan suara Glenn memang benar-benar membius kala dikombinasikan dengan lirik-lirik yang pilu nan sendu. Kita, para pendengarnya dan penikmat karyanya, sering kali dibawa ke masa lalu dan mengingat peristiwa-peristiwa “perih” yang pernah kita lalui. Sebut saja Terserah, Sedih Tak Berujung, Sekali Ini Saja, dan Tega. Saya berani bertaruh pasti lagu-lagu itu pernah menemani kalian di tengah-tengah masa dimana kalian mengalami patah hati, kan? Seolah-olah hanya Tuhan dan Glenn Fredly lah yang mengerti bagaimana hancurnya perasaan kalian di masa-masa itu. Mungkin memang banyak kidungnya yang bertema kesedihan yang mendalam, tapi Glenn selalu menyelipkan harapan di dalamnya.

Nah, pada tanggal 14 Februari 2019 kemarin, dimana diperingati oleh sebagian orang sebagai hari kasih sayang, saya merasa begitu beruntung. Kenapa? Karena di hari yang penuh cinta itu saya bersama Helena bisa menikmati secara langsung lantunan suara indah dari Glenn Fredly dalam sebuah konser bertajuk ‘Harmonia: Titik Balik’. Konser penuh cinta itu diadakan di Balai Sarbini dan tiketnya sold out lho.
Konser tersebut menjadi semakin spesial untuk saya karena Glenn Fredly diiringi oleh musisi-musisi hebat yang tergabung dalam The Bakucakar. Saya jatuh cinta pertama kali dengan Bakucakar ini kala melihat penampilan mereka bersama Glenn Fredly dalam rekaman beberapa lagu yang mereka lakukan di Lokananta, studio musik pertama milik Indonesia.
Tidak hanya itu, dalam konser kali ini, Glenn berkolaborasi dengan musisi muda yang lagu-lagunya pun banyak mengambil tema tentang cinta, Adera. Sebelum Glenn tampil dan memuaskan dahaga para pengagum karyanya, Adera tampil sebagai penyanyi pembuka. Selama 1 jam ia menyanyikan lagu-lagunya yang ditutup dengan manis dengan lagu “Muara” yang ia dedikasikan untuk ibunya yang juga hadir ditengah-tengah para penonton.
Waktu Indonesia Penuh Cinta
Setelah Adera tampil, konser harus terhenti selama 15 menit karena perlu dilakukan setup alat musik dari para personil The Bakucakar. Dan setelah 15 menit itu berlalu, tanpa basa basi, Glenn Fredly langsung menyapa para pengagum karyanya dengan lagunya yang berjudul “Cuma Kamu”. Mendengar suara petikan gitarnya, para penonton pun langsung menyanyi bersama tanpa aba-aba.
Penonton pun semakin histeris kala Glenn membawakan beberapa hits lainnya seperti Akhir Cerita Cinta, Habis, Jejak Langkah, Terpesona, Selamat Pagi Dunia, You are My Everything dan Sedih Tak Berujung. Para pengagum karyanya benar-benar dibuat kagum oleh suara emas Glenn. Lirik-liriknya yang begitu mengena di hati membuat kami seperti bisa merasakan apa yang Glenn Fredly juga rasakan.

Penonton bersorak hebat kala Glenn Fredly membawakan lagu Januari. Tidak ada satu mulutpun yang tidak ikut bernyanyi ketika lagu ini dikumandangkan. Rasanya banyak orang yang tahu bagaimana lagu ini bisa tercipta. Ya, dari sebuah kekecewaan yang sangat dalam akibat ditinggalkan. Buat kalian yang ditinggalkan kekasih, meskipun bukan bulan Januari, rasanya lagu ini tetap layak dinyanyikan untuk menemani hari-harimu yang “gelap”.
Pernah bertanya tidak sih kenapa lagu-lagu “patah hati” dari Glenn itu sangat mengena di hati? Kalau menurut saya, karena lagu-lagu tersebut dibuat Glenn dari hati dan dari pengalamannya pribadi. Perasaan-perasan sedih yang dia rasakan berhasil diubah dengan energi yang positif menjadi sebuah karya yang tulus. Tidak mudah lho membuat suatu hal yang luar biasa disaat sedang dalam kondisi terpuruk, tapi Glenn mampu membuktikannya.
Konser ini begtu interaktif karena Glenn tidak melulu bernyanyi, ia juga menyapa para pengagum karyanya dengan beberapa guyonan, cerita pengalaman hidup, dan pesan-pesan yang membangun.

Dari atas panggung Glenn juga bercerita kalau karya-karyanya yang menjadi hits ia buat setelah ia mampu memaafkan dirinya sendiri dan berdamai dengan keadaan. “Kita harus tetap bisa mencintai diri kita sendiri dan mencintai orang yang pernah juga kita sayang meskipun ia bukan lagi milik kita. Kalau belum bisa berdamai dengan diri sendiri, jangan harap kehidupanmu bisa tenang”, kurang lebih seperti itulah yang saya dapat dari uraian Glenn Fredly di atas panggung sana.
Disela-sela penampilannya, Glenn pun meminta doa agar album barunya bisa terbit pada tahun 2019 ini. Tanpa disadari, album terakhir yang dikeluarkan Glenn adalah pada tahun 2010. Kita terlalu terlena dengan karya-karyanya yang lama dan tanpa sadar Glenn belum membuat album lagi selama 9 tahun. Ya habisnya mau bagaimana dong, lagu-lagunya Glenn memang enak banget sih. Jadi susah move on deh.
Dalam konser ini, Glenn Fredly juga bercerita bagaimana ia bertumbuh di dunia musik Indonesia ini. Ia bercerita bagaimana ia dulu menyanyi di cafe dan dari sanalah datangnya kesempatan untuk ia menjadi hebat seperti sekarang. Glenn berpesan untuk jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, meskipun kecil adanya. Sebab mungkin dari sesuatu yang kecil itulah mungkin datang sesuata yang besar. Untuk itu, seriuslah ketika mengerjakan segala sesuatunya.
Momen-momen Menyentuh
Dari konser ini, ada beberapa momen menyentuh yang berhasil saya tangkap. Yang pertama adalah ketika Glenn menyanyikan lagu “Aku Cinta” yang dibuat oleh teman, sahabat, dan juga sekaligus mentornya, Dian Pramana Putra. Di konser Titik balik ini, pertama kalinya ia harus berduet dengan Dian Pramana Putra, tanpa ada Dian Pramana Putra di sampingnya. Dian bernyanyi dalam bentuk rekaman suara yang disandingkan dengan visualisasi wajah Dian dan lirik di layar.
Kala memasuki bagian Glenn menyanyikan lagu Aku Cinta, suaranya sempat tidak terdengar karena ia menangis. Sosok Dian Pramana Putra sepertinya begitu berharga untuk dirinya dan kecintaannya yang besar padanya begitu terlihat. Penonton yang menyadari hal tersebut pun langsung bertepuk tangan dan menyemangati Glenn yang terlihat masih menangis.

Momen menyentuh selanjutnya adalah ketika mulai memasuki bagian akhir konser. Glenn diiringi oleh Paduan suara yang bernama Basudara Choir yang datang langsung dari Ambon. Yang membuat Basudara Choir ini spesial adalah personilnya merupakan gabungan mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Islam dan Kristen di Ambon. Suatu yang mengagumkan bukan?
Jelas sekali ada pesan cinta dan perdamaain dari kedatangan mereka. Penonton pun langsung bertepuk tangan dan berdiri kala mereka diperkenalkan. Bukan hanya mengandalkan latar belakang agama yang berbeda, tapi suara mereka memang benar-benar bagus. Pembagian suara terdengar begitu apik dan merata. Ini menjadi bukti kalau perbedaan bukanlah halangan untuk saling bersatu dan mencinta.
Dan momen menyentuh lainnya adalah ketika Glenn Fredly memperkenalkan dan memberikan panggungnya kepada para personil The Bakucakar. Satu per satu dari mereka dibiarkan bermain tanpa Glenn menyanyi di tengah permainan mereka. Glenn tahu kalau konser ini tidak akan berjalan tanpa mereka. Pesona paling dahsyat buat saya tentunya datang dari Bung Nicky Manuputty pada Saxophone. Dia terlihat begitu sexy saat memainkan alat musik tiup itu dan terihat begitu mencintainya. Tanpa mengurangi rasa hormat, para personil Bakucakar yang lainnya pun terlihat begitu “Gila”.

Dan yang terakhir, saya berterima kasih sekali karena Glenn mau menyanyikan lagu kesukaan saya yang berjudul Sabda Rindu. Lagu yang dinyanyikan Tio Pakusadewo dalam film Surat dari Praha ini memang mendapat tempat begitu luar biasa di hati saya. Saya bisa membayangkan bagaimana rindunya para kaum exil pada Indonesia dan keluarganya di saat kewarganegaraan mereka dicabut dan tak bisa lagi kembali ke Indonesia.
Lagu tersebut menjadi semakin istimewa karena Glenn Fredly menyanyikannya bersama dengan Adera. Pecah suara yang mereka lakukan memberikan warna sendiri untuk lagu ini. Porsi keduanya pun sangat pas dan membuat saya merinding ketika mereka menyanyikannya bersama.
******
Itu tadi sepenggal kisah ketika saya menonton konser Harmonia: Titik Balik dari Glenn Fredly dan juga Adera. Terima kasih karena mau mengajak kami kembali ke masa lalu dan membuat kami menghargai apa yang sudah kami lalui lewat lagu-lagumu. Karena lewat peristiwa-peristiwa dan pelajaran dari masa lalulah, kita bisa kuat sampai seperti sekarang.
Terima kasih juga sudah mengajarkan bahwa cinta itu tidak terbatas antara laki-laki dan perempuan, tapi juga cinta itu bisa antara laki-laki dengan laki-laki seperti yang kau tunjukkan pada Dian Pramana Putra. Cinta itu tidak terbatas pada agama, suku, dan budaya. Bahkan cinta bisa tumbuh antara manusia dengan hewan atau manusia dengan lingkungan.
Hiduplah terus dengan penuh cinta, karena selama cinta itu masih ada, maka perdamaian pun akan tetap ada.
*Karena terlalu terhanyut oleh lagu-lagu yang dibawakan Glenn Fredly, saya pun lupa mengambil dokumentasi. Foto-foto di atas adalah sedikit foto yang bisa saya ambil sebelum acara berakhir
