Buat kalian yang follow instagram saya (kalau yang belum, boleh lho follow DI SINI), pasti kalian sering melihat postingan berbau olahraga pada story saya. Entah itu berisi menu latihan yang saya lakukan hari itu, suasana tempat saya latihan ketika saya sedang berlatih, contoh gerakan yang saya lakukan dan keseruan lainnya ketika saya sedang berolahraga.
Beberapa bulan belakangan ini memang saya sedang fokus dengan dua jenis olahraga yaitu Freeletics dan Crossfit. Kedua jenis olahraga ini saya anggap tepat untuk menggantikan kegiatan saya di Gym yang sudah saya lakukan selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini.


Untuk kalian yang belum tahu, Freeletics merupakan bodyweight training, yaitu olahraga yang memanfaatkan berat badan sendiri dan dilakukan dengan intensitas yang tinggi. Tidak ada lagi alasan untuk tidak berolahraga, sebab Freeletics bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun (jenis olahraga ini tidak membutuhkan alat).
Sedangkan Crossfit ini hampir mirip dengan Freeletics. Keduanya sama-sama melakukan gerakan-gerakan fungsional dengan intensitas tinggi. Hanya saja, Crossfit ini terkadang menggunakan beban seperti barbell atau kettle bell. Untuk info lebih detil mengenai keduanya, silakan googling langsung ya.
- Baca juga: AIDA** bersama Apnea Culture
Kembali ke instastory mengenai kegiatan olahraga yang saya lakukan. Tidak ada maksud sombong sama sekali untuk setiap postingan saya di instastory. Semuanya murni untuk berbagi. Kalau mama saya bilang, hal baik itu harus diwartakan. Itulah mengapa saya “rajin” untuk posting kegiatan, menu, atau apapun itu yang berbau olahraga di instastory. Siapa tahu dari postingan tersebut ada yang jadi rajin olahraga juga, bersyukur banget jika ada yang mau latihan bareng dan sehat bareng.

Kegiatan olahraga yang saya lakukan sekarang ini, baik crossfit ataupun freeletics, bukan semata untuk membuat badan saya sehat. Kalau hanya sekadar sehat, saya tidak perlu melakukan 2 jenis olahraga yang berat itu. Masih banyak pilihan olahraga lain yang jauh lebih ringan.
Ada beberapa alasan pribadi yang membuat saya ingin lebih dari sekadar sehat. Dan hal tersebut adalah:
Cinta
Karena pacar maksudnya? Oh, tentu bukan. Jika pacar yang dijadikan alasan, maka akan ada kemungkinan saya berhenti (rajin) berolahraga ketika saya tidak punya pacar. Alasan pertama saya adalah suka. Ya, saya suka berolahraga dan sudah mencoba berbagai macam olahraga.
Untuk melakukan sesuatu, apapun itu, hal yang diperlukan pertama kali adalah menyukainya. Ketika rasa suka sudah menjadi cinta, itu tandanya kalian sudah serius. Saya suka lari tapi saya tidak cinta. Coba tanyakan pada Pele apakah dia menyukai sepak bola atau tidak, pasti dia jawab tidak. Kenapa? Karena dia mencintainya dan sepak bola adalah hidupnya.
Semakin bertambahnya usia, semakin sempit juga jenis olahraga yang lakukan dan semakin fokus, hingga akhirnya bertemulah saya pada olahraga yang perlahan-lahan mulai saya cintai ini.
Membentuk Badan
Seperti yang saya katakan tadi, kalau ada teman kalian yang menceritakan alasan dia nge-gym karena ingin sehat, itu omong kosong. Tujuan utamanya pasti ingin membentuk badan dan sehat itu akan mengikuti (selama dia juga menjaga makan). Kalian pikir kenapa di tempat gym itu banyak cermin? Untuk membuat orang yang datang merasa badannya sudah lebih keren, meskipun baru hanya melakukan 10 repetisi bicep curls.
Saya pun tidak mungkin mengatakan saya hanya ingin sehat ketika melakukan freeletics dan crossfit. Jujur, saya ingin membentuk badan dan meningkatkan endurance. Saya ingin mengubah badan saya dari yang tidak terlalu enak dipandang menjadi enak untuk dipandang (oleh saya sendiri). Dan olahraga yang saya pilih ya 2 jenis itu tadi.
Punya Saudara yang Badannya Bagus
Alasan ketiga ini masih ada hubungannya dengan alasan kedua. Berasal dari NTT yang daerahnya “keras” membuat banyak saudara saya di kampung memiliki pekerjaan dan badan yang “keras”. Setiap kali pulang kampung, setelah melihat badan saudara saya yang dengan entengnya bertelanjang dada (btw, NTT itu panas), saya jadi malu sendiri melihat badan saya.
“Kok, badan mereka bisa bagus begitu ya? Kenapa saya tidak?” Tanya saya waktu itu. Sejak saat itu, badan saudara-saudara saya yang bagus itu saya jadikan motivasi. Mereka padahal tidak berolahraga seperti bulutangkis, sepeda, atau sepak bola lho. Tapi pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari seperti mencangkul, memikul air, mencari makan untuk ternak, sudah membuat mereka berolahraga. Hal tersebutlah yang membuat fisik mereka terbentuk.
“Ya beda dong. Saudaramu kan badannya terbentuk karena keadaan. Sedangkan pekerjaan kamu kan nggak seperti itu.” Mungkin ada yang berpendapat seperti itu. Dan untuk menanggapi respon itu, jawaban saya adalah No Excuse.
Membangun Relasi
Setelah memasuki dunia kerja, aktivitas saya banyak terpusat di kantor (di belakang komputer). Selain bekerja, hal yang rutin saya lakukan adalah membaca, nonton, menulis (blogging), dan juga traveling. Dengan tambahan berolahraga, otomatis waktu saya untuk nongkrong dan bergaul semakin kecil.
Nah, guna mempebanyak teman dan membangun relasi, maka saya bergabung dengan beberapa klub olahraga seperti Onyx Fit Club dan Freeletics Bareng. Selain berolahraga, saya juga mendapatkan teman baru, teman-teman dengan latar belakang yang berbeda dan seru. Sehatnya dapat, hubungan pertemanan pun dapat. Untungnya double deh.
Bokapnya Pacar yang Mantan Petinju
Ini sebenarnya masuk alasan pendukung, atau bisa dibilang alasan yang tidak diperhitungkan. Salah saya memang karena ketika mendekati seorang wanita, saya tidak mencari tahu dulu apa latar belakang orang tuanya, yang ternyata adalah mantan petinju. Kebayang dong ya badan mantan petinju kayak apa? Sumpah, bahunya lebar banget.
Waktu datang ke rumahnya pertama kali dan bertemu papanya, sebenarnya saya sudah mulai nge-gym dan suka lari. Ya, bicep sudah agak berbentuklah, kaki juga sudah terlihat kokoh, meskipun perut belum ada tanda-tanda perbaikan.
Sepanjang perbincangan dengan papapnya, saya sibuk menahan nafas. Supaya apa? Supaya nggak malu-maluin. Dan karena tidak ingin terlihat lemah, maka saya pun bercerita kalau saya pernah berlari mengelilingi GBK sebanyak 20x tanpa berhenti. Saya ingin memberi kesan “saya suka olahraga juga lho, om. Ya meskipun belum seperti om.”
Kalian tahu apa balasannya? Dengan nada santai dan tanpa ekspresi dia bercerita kalau masa mudanya dulu, ketika masih bertinju, dia pernah lari Jakarta-Bogor. Tidak selesai sampai disitu, ia lanjut berenang ketika ia sudah tiba di Bogor.
Mendengar cerita itu, saya pucat se-pucat-pucatnya. Mau sombong, eh malah diinjak-injak. Ibarat sedang bertanding di arena tinju, ketika saya jab dia 3x, dia membalasnya dengan 1x upper cut dan saya K.O. Ingin rasanya waktu itu saya langsung pulang.
Jadi untuk kalian, jangan pernah sombong di depan orang tua pacar ya. Tidak perlu menunjukkan siapa diri kalian. Kalau memang ada “sesuatu” dalam diri kalian, biarlah itu terlihat dengan sendirinya.
Sejak mendapat “pukulan” itu, saya berjanji akan berolahraga lebih keras lagi. Dan kalian tahu kan ungkapan “Girl’s first love is her dad” ? So when she can find her dad in me, even just 2-5% of him, I’ll be the proudest man ever. That’s it.
Investasi
Buat saya, investasi itu bukan hanya dalam bentuk emas, tanah atau saham. Badan pun merupakan investasi. Mau seperti apa diri kalian di masa yang akan datang, bisa kalian tentukan mulai dari sekarang. Memang sih umur dan seperti apa kalian nanti itu ada di tangan Tuhan. Tapi perlu diingat, Tuhan pun mengajarkan untuk berusaha, bukan hanya berdiam diri. Nggak ingin kan punya banyak harta tapi sakit-sakitan?
Tahu Arnold Schwarzenegger, kan? Tahu berapa usia dia sekarang? 71 tahun. Sudah lihat badannya di usia 71 tahun ini? Masih “Wow” kan? Itu semua bukan terjadi begitu saja. Arnold sudah membentuknya sejak ia muda. Tidak mudah lho terlihat sehat, bugar dan memesona diusia setua itu. Banyak di usia 71 tahun yang (maaf) sudah tidak bisa berjalan, bahkan turun dari tempat tidur pun sulit.
Tidak perlu jauh-jauh, saya akan ambil contoh dari keluarga saya sendiri. Kakek saya, di usianya yang ke 85 tahun, sebelum ia meninggal, masih sanggup jalan kaki 10 km, mengambil kayu, dan melakukan beberapa pekerjaan rumah lainnya. Kenapa dia bisa seperi itu? Salah satunya karena ia rajin berolahraga sedari muda. Di usianya yang sudah tua, ia terlihat jauh lebih kuat dan segar dibandingkan orang tua seumurannya.
Mens sana in corpore sano.
******
Itu tadi beberapa alasan kenapa saya (rajin) berolahraga. Kalau kalian sendiri, apa alasan yang membuat kalian suka atau rajin berolahraga? Mungkin alasan kalian akan berbeda dengan apa yang sudah saya utarakan. Itu tak mengapa, yang penting kalian punya alasan untuk melakukan itu.
Dan pesan terakhir dari saya, lakukanlah sesuatu karena memang kalian ingin, kalian suka dan kalian cinta. Awali dari diri kalian sendiri. Seandainya kalian harus melakukan sesuatu karena orang lain, lakukanlah itu dengan penuh keikhlasan dan sukacita.

Dulu vs Sekarang

Comments are closed.