Masih teringat jelas dalam ingatan ketika suara penonton yang berteriak tanpa henti dengan keras untuk memberikan dukungan, masuk ke dalam telinga ini. Masih nyata dalam ingatan bagaimana suara besi bar yang bergetar ketika dibanting merambat hingga menyentuh gendang telinga, dan bagaimana tetesan demi tetesan keringat yang harus jatuh sebagai konsekuensi dari melakukan gerakan yang menguras tenaga. Meskipun sudah berlalu 5 bulan berlalu, semua itu masih membekas dan mendapat tempat di dalam pikiran ini.
Akhir Februari 2019 adalah awal perjumpaan saya dengan kompetisi CrossFit, lebih tepatnya di GOIFEX Fitness Battle 2019 Jakarta. Mungkin kurang tepat juga rasanya bila saya menyebutnya kompetisi CrossFit (karena memang tidak menyertakan nama “CrossFit” di dalamnya), tapi kurang lebih itulah yang saya rasakan, sebab beberapa gerakan dalam kompetisi ini “CrossFit banget“.

Mungkin ada dari kalian yang belum tahu apa itu CrossFit. Dari sekian banyak penjelasan mengenai CrossFit, saya coba ambil yang paling mudah, yaitu menurut penuturan APKI (Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia):
CrossFit adalah program latihan yang menggabungkan dua unsur sistem aerobic serta anaerobic serta menekankan perpaduan latihan interval intensitas tinggi, angkat beban, senam dan disiplin lainnya dalam format serupa latihan sirkuit. Latihan ini terkenal dengan polanya yang keras dan ketat, contohnya dalam satu sesi latihan Anda akan diminta melakukan 100 push-ups, 100 pull-ups, 100 sit-ups dan 100 squats.
Setiap harinya, latihan yang akan dilakukan adalah berbeda-beda, peralatan yang digunakan dalam metode latihan inipun bersifat beraneka ragam, mulai dari peralatan gym hingga ada yang menggunakan beban berat tubuh sendiri, tali tambang, bahkan ban mobil.
Alasan Ikut GOIFEX Fitness Battle
Setelah 4 bulan mengikuti Freeletics, saya akhirnya memutuskan untuk ikut teman saya, Wiecen, bergabung dan mencoba olahraga baru bernama CrossFit. Nah lho, apa lagi itu Freeletics? Penjelasan mudahnya, Freeletics itu mirip banget seperti CrossFit, hanya saja setiap gerakan yang dilakukan dalam olahraga Freeletics tidak menggunakan beban tambahan, hanya menggunakan berat badan sendiri alias bodyweight training.

Kembali lagi ke CrossFit. Ketika mencoba olahraga ini, saya tergabung dalam sebuah klub olahraga bernama Onyx Fit Club. Pada kedatangan saya yang pertama, saya disambut baik oleh mereka yang sudah terlebih dahulu bergabung.
Singkat cerita, setelah 1 minggu bergabung dengan Onyx Fit Club ini, salah seorang member bernama Nicole menghampiri saya ketika sedang latihan. Nicole ini orangnya cantik, kuat dan ‘liar’. Ia pun bertanya, “Eh, mau ikut lomba, nggak? Mau ya. Tim gue kurang 1 orang cowok nih. Kayaknya lo kuat deh. Ikut ya.”
Jadi rupanya, akhir Februari 2019 itu akan diadakan Fitness Battle dengan format grup, dimana 1 grup itu terdiri atas 4 orang, dengan komposisi minimal 2 orang wanita di dalamnya. Mendengar tawaran itu, saya tidak langsung mengiyakannya. Gila aja, baru bergabung 1 minggu kok mau langsung ikut lomba.
- Baca Juga: Alasan Kenapa Saya (Rajin) Berolahraga
Hingga akhir latihan hari itu, saya masih teguh tidak ingin ikut berlomba. Saya sadar akan kemampuan saya. Namun keteguhan saya untuk tidak ikut berlomba akhirnya runtuh ketika Nicole datang kembali dan berkata, “Ah lemah lo. Masa badan gede begini nggak mau ikutan. Gue aja yang badannya kecil begini ikutan. Roland juga mau ikutan.”
Sebagai orang timur (NTT) yang terkenal akan kekuatan fisiknya, saya paling tidak bisa dibilang LEMAH. Lemah itu tidak ada dalam kamus orang Timur. Usai Nicole selesai berbicara, saya pun lantas memanggil Roland, salah seorang teman yang nantinya akan menjadi partner saya dalam Fitness Battle. Kepada Roland saya berkata, “Daftarin nama gue sekarang di tim lo.”
Akhirnya, terbentuklah 2 tim untuk mewakili Onyx Fit Club dalam gelaran GOIFEX Fitness Battle 2019 di JCC, Senayan, yaitu Tim Onyx (Saya, Roland, Nicole, Felly) dan Tim Fitbuller (Angga, Diego, Yuka, Gaby).

Dari kiri ke kanan:
Roland, Nicole, Felly, Darius
Persiapan
3 minggu merupakan sebuah persiapan yang terbilang sangat singkat. Dalam periode yang tidak panjang itu saya harus belajar ekstra guna meningkatkan kemampuan saya, baik dari segi teknik maupun fisik. Untung saja, daftar gerakan yang dilombakan sudah diberitahu oleh panitia, jadi setiap peserta yang mendaftar bisa berlatih sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh panitia.
Malam adalah waktu yang kami pilih untuk bisa berlatih. Usai latihan reguler selesai, kami berempat berkumpul guna melakukan latihan untuk GOIFEX. Ada beberapa pembagian tugas yang harus kami lakukan. Karena kekuatan dari kami berempat berebeda, maka strategi pembagian gerakan itu penting. Siapa melakukan apa dan bagaiamana cara melakukannya dengan cepat dan tepat.


Perlombaan yang saya ikuti
Kami pun harus berlatih sinkronisasi gerakan. Ada beberapa event di GOIFEX dimana kami berempat harus melakukan gerakan secara bersamaan. Jika tidak singkron, maka gerakan kami tidak akan dihitung dan kami tidak bisa menyelesaikan event tersebut.
Ada enak dan tidaknya ketika berlomba sebagai sebuah tim. Tidak enaknya adalah bila tidak kuat, maka kita bisa menjadi batu sandungan bagi tim kita. Tidak mau kan menjadi biang masalah dari kekalahan tim?
Sedangkan enaknya adalah kita tidak berlomba sendiri. Saat salah satu rekan down atau merasa dirinya tidak kuat, maka rekan yang lainnya bisa memberi semangat guna mengembalikan lagi rasa percaya diri rekannya yang sempat jatuh itu.


Karena saya baru bergabung kurang dari 2 minggu dengan Onyx Fit Club, pada latihan inilah saya baru tahu kalau Ci Felly yang 1 tim dengan saya ternyata usianya sudah di atas 40 tahun. Mengetahui usianya itu tidak muda lagi dan betapa bertenaganya dia ketika workout, saya jadi malu sendiri ketika sempat menolak tawaran untuk ikut lomba. “Kok gue lemah banget ya. Ini yang tua aja semangat banget dan bertenaga banget, lah gue malah punya 1001 alasan untuk menghindar dan nggak berkompetisi,” Pikir gue saat itu.
Hari Perlombaan
Hari H akhirnya datang juga, hari pembuktian dari latihan yang sudah kami lakukan kurang dari 1 bulan. Memasuki JCC, suasana sudah begitu ramai. Wajar saja karena GOIFEX ini merupakan sebuah pameran olahraga, kesehatan, dan kebugaran terbesar di Asia Tenggara. Ada berbagai macam eksebisi di dalamnya seperti senam, tinju, bodybuilding, karate, Martial Arts, CrossFit, dan banyak lagi.
Inilah kali pertama saya mengikuti sebuah kompetisi CrossFit. Di pinggir lapangan, bermacam orang sudah datang dan bersiap memberi semangat tim yang mereka dukung. Di dalam lapangan, saya melihat beberapa tim sudah masuk dan melakukan pemanasan. Merekalah tim yang akan menjadi lawan saya dalam event ini.
Jujur, waktu itu saya tidak tahu siapa lawan saya. Karena saya “anak baru”, saya tidak memiliki beban sama sekali. Kalau bisa podium ya bagus banget, tapi kalau harus peringkat terbawah pun tak masalah, namanya juga baru mencoba dan minim persiapan.




Tak lama berselang, pihak panitia masuk ke dalam arena dan semua tim diminta untuk memasuki arena juga guna diberikan sedikit penjelasan sebelum perlombaan dimulai. Perasaan gugup dan excited berkumpul jadi satu. Jujur, waktu itu saya lebih banyak gugupnya. Kenapa? Karena dari postur badan, lawan-lawan saya itu bagus banget.
Tapi itulah yang namanya perlombaan. Bukan hanya perkara kesiapan fisik saja, tapi juga mental. Bahkan terkadang kesiapan mental lebih menentukan dibandingkan fisik.
Total ada 5 event yang dilombakan dalam GOIFEX Fitness Battle ini, yaitu Towers of Hanoi, Triple Double, Hell’s Square dan 2 lagi saya lupa namanya *Maaf ya*. Setiap event memiliki kesulitannya masing-masing dan pastinya diperlukan kerjasama tim yang baik.




Saya tidak akan menceritakan detil perlombaannya satu per satu. Biarlah video dan gambar yang menjelaskan semuanya. Namun yang saya ingin ceritakan adalah nuansa perlombaannya. Setiap tim berlomba untuk menjadi yang tercepat dan pertaruangan antar setiap tim itu seru banget.
Yang serunya lagi, usai beberapa tim selesai melakukan event, maka tim lainnya akan memberi selamat dengan mengatakan “good job“, “keren banget”, “luar biasa” dan berbagai macam kata-kata bernuansa positif lainnya. Meskipun setiap tim adalah musuh dalam perlombaan ini, tapi sifat sportif harus terus dijunjung tinggi, bukan?
Saya sendiri sebenarnya sedang dalam keadaan flu berat saat itu. Sebelum lomba, saya sudah minum banyak obat dan vitamin guna meredakan flu saya dan memberikan kekuatan tambahan. Tidak lucu kalau saya menyerah hanya karena flu, itu cuma cari alasan saja namanya. Michael Jordan saja bisa menang ketika bermian dalam kondisi flu pada NBA Final tahun 1997 melawan Utah Jazz, lalu kenapa saya harus menyerah sebelum berperang?




Puji Tuhan, semua event bisa saya selesaikan meskipun dengan susah payah. Semua beban yang diberikan pada saya, bisa saya selesaikan dengan baik. Itu semua tidak lepas dari dukungan tim saya (Ci Felly, Nicole dan Roland). Merekalah alasan saya tidak ingin menyerah.
Dan salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika saya sedang melakukan Strict Press. Ketika latihan, saya hanya menggunakan berat maksimal kalau tidak salah 55 kg. Tapi ketika perlombaan, dalam kondisi tidak fit, saya mampu mengangkat beban seberat 70 kg kalau saya tidak salah ingat.
Darimana saya dapat kekuatan itu? Saya sendiri tidak tahu. yang pasti itu bisa terjadi karena support, baik dari anggota tim saya sendiri maupun dari penonton yang ramai banget.
Hasil dan Evaluasi

Hasilnya sudah bisa ditebak. Tim saya, Tim Onyx, tidak naik podium. Lalu apakah kami kecewa? Tentu tidak. Justru sebaliknya. Saya sangat bangga karena tim saya bisa berada di posisi ke 5 dari 10 tim (kalau tidak salah).
Yang kami lawan bukan orang-orang sembarangan lho, tapi orang-orang yang memang sudah lama berkecimpung di dunia Crossfit. Bahkan ada di antara mereka yang berstatus sebagai Trainer. Bisa menyelesaikan perlombaan dengan tanpa cedera dan tidak berada di posisi terakhir merupakan sebuah prestasi buat saya yang masih bau kencur di dunia Crossfit ini.


Banyak hal positif lainnya yang saya dapat dari lomba ini. Salah satunya adalah saya bisa berjumpa dan berkenalan dengan banyak orang hebat. Saya langsung follow sosial media mereka guna melihat aktivitas apa saja sih yang mereka lakukan hingga bisa hebat seperti itu. Mengisi timeline Instagram dengan postingan yang positif itu perlu lho (sebagai motivasi).
Dan ketika perlombaan di GOIFEX Fitness Battle ini selesai, saya tahu kalau saya masih memiliki kekurangan, bahkan sangat banyak. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri kalau kedepannya saya akan menekuni olahraga yang satu ini. Ya, saya jatuh cinta dengan olahraga ini dan berniat untuk mengikuti kompetisi yang serupa pada kesempatan berikutnya.

Comments are closed.