Fit Games 2019: Sebuah Ajang Pembuktian Diri

Fit Games 2019 – Peristiwa manis yang terjadi di masa lalu seringkali membuat saya membayangkannya kembali dan hal itu tak jarang membuat saya ingin mengulanginya di suatu masa yang akan datang. Itulah yang saya rasakan ketika mengingat kembali bagaimana saya berjuang dalam kompetisi GOIFEX Fitness Battle 2019 di JCC pada akhir Februari lalu.

Usai menyelesaikan perlombaan GOIFEX, saya pun berkata pada diri saya sendiri kalau saya harus ikut kompetisi CrossFit lagi. Namun untuk perlombaan berikutnya, saya ingin tampil sedikit berbeda. Jika pada GOIFEX kemarin saya berkompetisi dalam sebuah tim, berikutnya saya ingin berlomba atas diri saya sendiri alias perorangan.

Fit Games 2019. Pic via Fit Games
Partners and Sponsors. Pic via Fit Games

Dari niat tersebut, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendaftar pada event Fit Games 2019 yang diselenggarakan pada 20 Juli 2019 kemarin di Deustsche School Jakarta (DSJ). Apa itu Fit Games? Menurut saya, Fit Games ini merupakan sebuah acara yang diinisiasi guna mencari orang-orang terkuat di wilayah Tangerang dan sekitarnya untuk saling berkompetisi.

Namun dibalik itu, Fit Games sendiri punya tujuan yang lebih besar, yaitu saling merekatkan hubungan atlet-atlet yang ada. Seperti kita tahu, di Tangerang dan sekitarnya ini banyak sekali klub kebugaran. Nah, klub kebugaran A misalnya, jarang sekali berkumpul dengan klub kebugaran B dan C. Dengan adanya Fit Games 2019 ini, para atlet bisa saling bertemu dan berkompetisi untuk mengukur sudah sejauh mana kemampuan masing-masing.

Dilema Sebelum Pendaftaran

Sebenarnya pendaftaran Fit Games 2019 ini sudah dibuka saat kompetisi GOIFEX berlangsung. namun waktu itu, saya belum pede untuk mendaftar. Meskipun niat sudah besar, tapi skill yang belum mumpuni membuat saya tidak mau langsung mendaftar. “Saya harus memantaskan diri.” Ucap saya usai event itu.

Ada 2 kategori yang dilombakan pada Fit Games 2019, yaitu kategori Open dan Elite. Penjelasan mudahnya, kategori open itu lebih mudah dibandingkan elite. Bila open menggunakan berat beban sekian kilogram, elite sudah bisa dipastikan lebih dari itu.

Ada 2 kategori: Open dan Elite. Pic via Fit Games
Pendaftaran akan dibuka. Pic via Fit Games

Kemudahan lainnya yang ditawarkan dalam event Fit Games 2019 adalah pihak panitia sudah memberitahu 4 dari 5 event yang akan dilombakan. Setiap detil gerakan yang akan dilombakan, di-posting satu per satu di sosial medianya, jadi kami yang ingin mendaftar bisa berlatih gerakan-gerakan yang ingin dilombakan. Tapi nggak seru dong kalau semua event diberi tahu, oleh sebab itu event 5 dirahasiakan.

Sudah tahu gerakannya, sudah tahu bebannya, sudah bisa mengukur kapasitas diri, berarti gampang dong mau memutuskan masuk kategori yang mana?

Pendaftaran dibuka. Pic via Fit Games
Hari H. Pic via Fit Games

Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Fit Games 2019 ini akan menjadi kompetisi CrossFit pertama saya sebagai individu. Sebagai gerbang pembuka, harusnya pilih yang mudah dong ya *harusnya*.

Hati ini berkata saya ikut kelas open saja, tapi otak ini mengkalkulasi semua kemungkinan dan rasanya saya bisa mengikuti yang kelas elite. Setelah bergumul dan mendapatkan cemoohan serta makian seperti “Masa Gorilla ikut open sih?” atau “badan gede begini masa ikut open. Elite lah”, akhirnya saya mendaftar kelas elite.

Persiapan

Sebagai konsekuensi mengikuti kelas elite, maka saya harus berlatih lebih keras. Bila yang mengikuti kategori open latihan 1x, maka saya harus latihan 2x, atau bahkan 3x lebih keras. Dilihat dari tingkat kesulitan saja, elite sudah jauh lebih berat. Selain itu, di luar sana banyak monster yang siap ikut kelas elite. Kalau saya santai-santai, ya siap-siap saja jadi “pecundang”.

Kurang lebih saya memiliki waktu 4,5 bulan, dari akhir Februari sampai pertengahan Juli, untuk berlatih dan memantaskan diri. Bahkan saking bersemangatnya, dalam rentang waktu tersebut, saya sempat ikut latihan di beberapa tempat Crossfit di Jakarta seperti di Crossfit Garuda, Bengkel S&C dan juga Bengkel North.

Event 1: The Chase
Event 2: Swim and Carry is not scarry

https://www.instagram.com/p/Bz9YWWNAz_z/

Tujuannya apa saya mengunjungi tempat-tempat latihan lain di luar tempat biasa saya berlatih? Pertama adalah untuk memperluas koneksi. Kedua adalah untuk melihat seperti apa sih pola latiahn di tempat lain, lalu kemudian apakah saya bisa mengikuti program latihan tersebut.

Beruntung sekali saya memiliki Coach yang baik, Fabio Halim. Dia lah yang menemani saya ketika mengunjungi beberapa tempat latihan Crossit di Jakarta tersebut. Selain itu, dia juga mau meluangkan waktu di luar jam regulernya melatih untuk bisa mempersiapkan kami, orang-orang dari Onyx Fit Club, yang ingin berkompetisi di Fit Games 2019.

Perasaan menyesal saat memilih kelas elite datang ketika mencoba Event 3: Deadlifts & Burpees Facing The Bar. Dalam event ini saya diharuskan mengangkat beban seberat 70 Kg dengan gerakan Deadlifts. Ada 4 ronde dalam event 3 ini dan repetisinya adalah 21-15-9-3. Dan sebelum melakukan Deadlift di ronde selanjutnya, saya harus melakukan Burpees over the bar and facing it dengan COT (Cut Off Time) 7 menit.

Event 3: The Burpees and The Bar

https://www.instagram.com/p/Bz_0-i8grhq/

Di percobaan pertama itu saya bisa menyelesaikannya dengan waktu 6 menit 41 detik. Namun setelah itu pinggang rasanya mau copot dan 2 hari ke depannya saya jadi sulit berjalan. Kok gini amat ya mau ikut lomba?

Latihan berikutnya tidak lebih ringan. Kalau latihan event 3 kemarin yang sakit adalah pinggang, pada latihan event 4 ini yang sakit adalah kaki. Kaki benar-benar dihajar habis di latihan event 4 ini. Dalam event 4, saya diharuskan melakukan gerakan 18x Box Jumps, 15x Situps, & 12x Wall Balls sebanyak-banyaknya (AMRAP) dalam waktu 5 menit. Waktu itu saya hanya dapat 2 ronde saja.

Masih banyak penderitaan yang saya alami selama latihan 4,5 bulan itu. Seluruh badan sakit semua pasca melakukan latihan, tapi entah kenapa saya begitu menikmatinya. Saya adalah orang yang percaya kalau keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya, tapi saya lah yang harus menjemputnya. Dalam kasus Fit Games 2019 ini, saya harus latihan, latihan dan latihan.

Event 4: Balls to The Wall

https://www.instagram.com/p/B0DX0gqgUmi/

Jujur saja, ketika memutuskan untuk mengikuti Fit Games 2019, saya sudah dalam tahap jatuh cinta dengan olahraga Crossfit. Seperti layaknya mencintai manusia, mencintai olahraga yang satu ini pun perlu banyak perjuangan. Diperlukan banyak latihan untuk bisa mengerti olahraga satu ini, dan juga koreksi dari orang yang memang lebih paham. Karena Crossfit bukan hanya soal mengeluarkan banyak tenaga, tapi juga teknik untuk mengakomodasi tenaga tersebut agar menjadi gerakan yang efektif dan aman.

I’ve done my best and let God do the rest.

Perlombaan Fit Games 2019

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Tepat jam 06:00 WIB saya sudah tiba di DSJ dengan didampingi oleh Helena. Terlihat beberapa peserta lain dan juga panitia sudah terlebih dahulu hadir. Sebelum memulai lomba, peserta diberi kesempatan untuk melakukan pemanasan dan bersamaan dengan itu, pihak panitia pun memberikan sedikit penjelasan mengenai tata cara keberlangsungan acara. Ketika waktu menunjukkan pukul 07:00 WIB, perlombaan pun resmi dimulai.

Seperti yang sudah saya duga, beberapa monster yang saya lihat pada gelaran GOIFEX 2019 juga ikut lagi dalam event kali ini. Perasaan saya campur aduk jadi satu saat itu, antara senang karena dapat lawan yang hebat, dan sedih juga kok mereka harus ikutan (takut terlihat lemah).

Dan yang sedikit berbeda alias berada di luar dugaan adalah hadirnya beberapa peserta dari luar kota dan luar negeri seperti Bali, Surabaya, dan Filipina. Di pergelaran sebelumnya, event ini tidak seramai kali ini. Patut diacungi jempol untuk panitia kali ini soal pemberitaan lomba.

Para peserta dari kelas elite siap berlari di event 1 (Pic via Iccaannkk)
Sudah mulai berbaris ke belakang dan wajah mulai terlihat lelah (Pic via Iccaannkk)

Lomba dimulai dengan event The Chase, yaitu lari memutari running track sepanjang 300 meter sebanyak 9x (kategori elite). Jujur, saya tidak pernah latihan untuk event yang satu ini. Saya hanya mengandalkan memori masa lalu, dimana 2 tahun lalu otot-otot di kaki ini masih sering digunakan untuk berlari sebelum akhirnya berhenti total. Jadi event ini bisa dibilang seperti perjumpaan kembali dengan sang mantan. Ketika peluit dibunyikan, saya seperti berkata kepada si lari, “Hai, kamu apa kabar? Lama tak jumpa. Masih ingat betapa mesranya kita 2 tahun yang lalu?”

Event The Chase atau event 1 ini peraturannya cuku simple. Siapa yang tercepat maka dialah juaranya. Pada event ini, saya finish posisi ke 5 dari 23 peserta. Bukan sebuah catatan yang buruk untuk seorang yang sudah tak pernah berlari serius selama 2 tahun. Seeprti yang saya bilang tadi, memori dan kemesraan dengan dunia lari itu masih ada. Saya hanya perlu membayangkannya sedikit dan mengulangnya.

Event 2, berenang sejauh 150 meter (bebas dengan gaya apapun) (Pic via Iccaannkk)
Event yang paling melelahkan (Pic via Iccaannkk)
Usai menuntaskan berenang, peserta lantas harus memakai sepatu terlebih dahulu (Pic via Iccaannkk)
Baru setelah itu melakukan Farmer’s Carry (Pic via Iccaannkk)
Setelah melakukan ini, otot lengan benar-benar kencang (Pic via Iccaannkk)

FYI, tidak ada waktu khusus untuk istirahat dalam jeda antar event di Fit Games 2019 ini. Waktu yang bisa digunakan untuk istirahat adalah waktu ketika menunggu giliran. Ketika para peserta kategori open sedang berlomba, peserta dari kategori elite akan beristirahat dan begitu pula sebaliknya. Jadi para peserta sendirilah yang harus pandai dalam mengatur waktu.

Dari lari, kami beralih ke event selanjutnya yaitu Swim and Carry is not SCARRY. Jadi di event kedua ini, para peserta kategori elite diminta untuk berenang sejauh 150 meter dan setelah itu dilanjutkan Farmer’s Carry dengan beban 24 kg. Sumpah ya, event ini tuh paling melelahkan dibanding semua event. Berenang itu benar-benar menguras tenaga. Enaknya berenang, meskipun lelah, tapi nggak keringetan. Jujur, saya lemah dan lambat sekali di event ini. Alhasil, saya hanya finish di posisi 14. (COT event 2 ini adalah 8 menit)

Deadlift: Siap angkat (Pic via Iccaannkk)
Deadlift: tarik dan tahan (Pic via Iccaannkk)
loncati bar-nya (Pic via Iccaannkk)
Lalu turun dan pastikan dada menyentuh lantai (Pic via Iccaannkk)

Waktu menunjukkan pukul 11:00 WIB, itu tandanya kami akan memasuki event 3, The Burpees and The Bar. Seperti sudah saya ceritakan di atas, saya lumayan sering berlatih event yang satu ini. Bukan karena saya lemah, tapi karena saya suka banget *Damn, I Love burpees*. Jika event 1 & 2 dilakukan di luar ruangan, maka event ketiga ini dilakukan di dalam ruangan. Lumayan, agak adem sedikit jadinya.

Tak disangka, pada event 3 ini saya bisa finish di posisi kelima. Tapi bukan itu poin pentingnya. Poin pentingnya adalah saya selesai dalam waktu 4 menit 37 detik, atau lebih cepat 1 menit dibandingkan percobaan terakhir saya ketika latihan. Saya sendiri tidak tahu dari mana kekuatan saya berasal ketika melakukan deadlifts dan burpees. Yang saya tahu adalah saya tidak ingin terlihat lemah dan saya harus melakukannya tanpa berhenti hingga akhir.

Event 4: Box jumps (Pic via Iccaannkk)
Push yourself to the limit (Pic via Iccaannkk)
Dilanjutkan dengan situps (Pic via Iccaannkk)
Pastikan ketika turun, tangan menyentuh lantai di belakang kepala dan saat naik, tangan menyentuh ujung kaki (Pic via Iccaannkk)

Dengan hasil yang begitu positif di event 3 ini, saya melangkah dengan penuh rasa senang ke event 4 yang dilaksanakan di ruangan yang sama, hanya beda spot saja. Pada event 4 yang bernama Balls to The Wall ini, kekuatan kaki benar-benar diuji. Usai dipakai begitu keras pada 3 event sebelumnya, kaki ini masih harus diajak untuk melompat dan squat dengan beban.

Waktu istirahat hanya bisa didapat pada saat melakukan situps, yang diletakkan diantara box jumps dan wall ball. Lagi-lagi saya bisa mengalahkan diri saya sendiri pada event ini. Ketika latihan, saya hanya dapat 2++ ronde dalam 5 menit, tapi pada perlombaan kali ini, saya mampu melakukan tepat 3 ronde dalam 5 menit (1 ronde terdiri atas: 18x Box Jumps, 15x Situps, 12x Wall Ball). Paha seperti terbakar usai melakukan event ini.

Event 4: Ball to the Wall.
Pertama, pegang bola dengan posisi squat (Pic via Iccaannkk)
Lalu berdiri dan hempaskan (Pic via Iccaannkk)
Tangkap lagi bolanya dan begitu seterusnya. Lakukan sebanyak repetisi yang diminta (Pic via Iccaannkk)

Nah, yang terakhir inilah event Bambang alias PAMUNGKAS. Untuk menguji kekuatan para peserta, event 5 ini dirahasiakan, jadi kami tidak bisa berlatih dan hanya bisa menebak-nebak gerakan apa yang akan dilombakan. Barulah ketika waktunya sudah tepat, ketika event 4 berakhir, kami diberitahu. Saya menyebutnya sebagai Hell Surprise.

Berlangsung dari jam 7 pagi tanpa putus, event 5 baru digelar sekitar pukul 4 sore. Semua otot-otot di badan sudah dipaksa bekerja keras sebanyak 4 event, dan di event terakhir ini, otot-otot itu dipaksa bekerja untuk yang terakhir kalinya.

Di event 5 ini, kami harus berlari sejauh 300 meter terlebih dahulu. Kalau sudah, gerakan dilanjutkan dengan Plate GTO (Ground to Overhead) sebanyak 50x, yang disusul dengan Hand Release Pushups (HRPU) sebanyak 50x juga. Penderitaan belum selesai, karena sesudah melakukan HRPU, kami masih harus melakukan Goblet Squats dengan berat 16 kg sebanyak 50x juga.

Event 5: Setelah lari 300 meter, perserta akan melakukan Plate GTO. Pertama, pastikan plate menyentuh tanah saat diletakkan ke bawah (Pic via Iccaannkk)
Setelah itu angkat hingga ke atas kepala (Pic via Iccaannkk)
Jika sudah, lanjutkan dengan Hand Release Pushups (Pic via Iccaannkk)
Mau copot tangan gue (Pic via Yanshen)
Terakhir adalah Goblet Squats dan dilanjutkan dengan lari 300 meter. Bisa dilihat kan dari gambar ini betapa melelahkannya event 5 ini? (Pic via Iccaannkk)

Seolah ingin terus melihat kami menderita, gerakan harus ditutup dengan berlari lagi 300 meter. baru setelah itu perlombaan dinyatakan selesai. Dengan segenap tenaga yang tersisa, saya mencoba untuk menyelesaikan event ini. Tenaga saya habis di HRPU dan harus sedikit tersendat ketika melakukan Goblet Squat. Tapi amazingnya adalah saya bisa selesai diurutan keempat, posisi terbaik yang bisa saya dapat dari keseluruhan event.

Sebuah Akhir dan Sebuah Awal

Perlombaan sudah selesai. Sambil menunggu podium disiapkan dan para pemenang dipanggil ke depan, para peserta dipersilakan untuk beristirahat. Kami sudah tahu siapa yang akan naik podium sebab setiap kali event selesai, hasilnya langsung diunggah ke aplikasi Woodify, sehingga para peserta bisa memantau klasemen secara langsung.

Dari awal mendaftar, saya memang tidak menargetkan untuk podium. Saya sadar siapa saya. Saya masih memiliki banyak kekurangan, terutama di bagian teknik. Oleh sebab itu, target saya di Fit Games 2019 kali ini adalah tidak berada pada posisi terakhir, dan Puji Tuhan hasil itu terwujud.

Aplikasi Wodify.
Pemenangnya adalah dia yang mendapat score paling kecil.
Kiri: Aplikasi Wodify
Kanan: Hasil yang saya dapat di setiap event
Hasil akhir untuk Divisi Laki-laki dan Perempuan (Kategori Elite).
Hasil akhir untuk Divisi Laki-laki dan Perempuan (Kategori Open)

Yang membuat saya kaget adalah saya bisa berada di posisi 5 dari 23 peserta di kelas elite. Suatu kebanggan buat saya bisa berada di posisi tersebut mengingat ini adalah event Crossfit pertama saya sebagai individu.

Usai pemenang diumumkan dan hadiah dibagikan, matahari pun kembali ke peraduannya setelah hampir selama 12 jam menemani kami. Hal tersebut sekaligus menjadi tanda bagi kami, para peserta, panita dan supporters, untuk kembali ke rumah karena acara sudah selesai.

Para pemenang Fit Games 2019 kategori Elite Pria (Pic via Iccaannkk)
Medali Fit Games. Bukan medali podium memang, tapi edali ini membuktikan kalau saya mampu menyelesaikan semua event #proudToMyself (Pic via Andre)

Terima kasih Fit Games 2019, sampai jumpa di event selanjutnya.

 

Facebook Comments Box

Comments are closed.