Ave Maryam: Penghianatan Dalam Sebuah Perjalanan Iman

Saat rumor film Ave Maryam akan diputar di beberapa bioskop Indonesia, saya merupakan salah seorang yang paling antusias ingin menontonnya. Bagaimana tidak, dari poster dan judulnya saja sudah sangat menarik dan bukan tak mungkin membuat beberapa pihak terusik. Alih-alih menggunakan nama Maria, film ini lebih memilih nama Maryam dengan gambar seorang biarawati di belakangnya.

Dugaan awal saya adalah pemilihan nama Maryam dilakukan agar membuat judul film ini terdengar “lebih lembut” di telinga orang Indonesia dan terlihat kontras dengan gambar biarawatinya. Namun setelah saya cari info lebih lanjut, sebenarnya judul itu ingin bercerita tentang seorang wanita Muslim yang akhirnya memilih untuk menjadi seorang Katolik dan mengabdikan dirinya kepada Sang Tuhan menjadi seorang biarawati.

Namun sayangnya, bagian cerita mengenai latar belakang keislaman Maryam ini dipotong ketika akhirnya film ini ditayangkan di bioskop Indonesia. Saya rasa ini salah satu pertimbangan yang bagus, sebab bila tetap ditayangkan, bukan tidak mungkin banyak orang Indonesia yang “terkejut” dan film ini bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk penistaan.

Ave Maryam
Ave Maryam. Pic via Kompasiana

Membaca judulnya, saya seolah diajak kembali ke masa saya bersekolah di sekolah Katolik dulu. Selama 11 tahun saya mengenyam pendidikan di sekolah Katolik, saya pun hafal sekali dengan Ave Maria atau di Indonesia lebih dikenal dengan Salam Maria, sebuah doa tradisional Katolik kepada Maria, Bunda Yesus, untuk memohon perantaraannya. Setiap selesai doa pagi di sekolah, sebelum memulai pelajaran, Doa Salam Maria ini selalu kami ucapkan. Bahkan lagu Ave Maria pun saya masih bisa mengingatnya sampai sekarang.

Ketika film dimulai, Suster Maryam yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi ini muncul menjadi ikon pembuka. Jujur, saya pun bertanya-tanya, kenapa ya Maudy Koesnaedi ini tetap cantik di usianya yang sudah mencapai 44 tahun dan seolah wajahnya tidak berubah sedari dulu ketika saya melihatnya pada video klip Kahitna, Andai Ia Tahu. Umurnya kerap bertambah tapi wajahnya seperti menolak untuk menua.

Okay, cukup tentang paras Maudy, kita kembali lagi ke ke film Ave Maryam. Di film yang mengambil latar tahun 1998 di salah satu biara di Semarang ini, Suster Maryam dikisahkan sebagai tokoh yang introvert. Dia tidak banyak bicara (pendiam) dan lebih banyak bekerja. Lewat diamnya itulah Suster Maryam banyak berbicara.

Tinggal dan hidup menjadi seorang biarawati membuat Suster Maryam harus menjalankan kaulnya, yaitu kemiskinan, kemurnian (selibat), dan ketaatan. Di film ini juga diperlihatkan bagaimana cara hidup para suster di biara.

Mereka mencuci bedcover dan pakaian sendiri, memasak sendiri, bahkan suster yang lebih muda, yang diperlihatkan lewat Suster Maryam, juga memandikan suster yang lebih tua, yang tak lagi mampu untuk mengontrol badannya. Saya pikir suster itu kerjanya hanya berdoa dan melayani umat saja, pekerjaan rumah tangga lainnya sudah ada yang mengerjakan. Namun rupanya dugaan saya itu salah.

Kehidupan Suster Maryam berjalan dengan lancar. Ia tidak pernah terlambat untuk ibadah pagi, menyiapkan obat untuk suster yang sedang sakit, menyetrika dan hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitasnya. Namun semua itu berubah ketika Romo Yosef, yang diperankan oleh Chicco Jericho, datang dan tinggal di Semarang untuk membantu melatih orkestra yang berada di sana hingga natal tiba.

Siapa sih yang bisa menolak ketampanan dari seorang Chicco Jericho. Saat ia mengibas rambutnya yang tidak terlalu panjang itu karena sudah menutupi matanya, maka semua wanita pasti akan menjerit dan berteriak “ganteng banget sih”. Hal itu belum termasuk dengan bonus senyum yang ia berikan usai menyibak rambutnya tersebut lho.

Kedatangan Romo Yosef pertama kali di film ini terjadi saat hujan. Rambut dan bajunya pun menjadi sedikit kebasahan, yang membuat Suster Maryam harus memberikan handuk untuk Romo Yosef mengeringkan rambutnya dan mengantarkannya ke ruang ganti agar ia bisa mengganti pakaiannya yang basah itu. Di situlah awal perjumpaan Suster Maryam dan Romo Yosef, dua tokoh sentral pada film ini.

Detik berganti menit, menit berganti menjadi jam, jam pun kemudian berubah menjadi hari, dan hari-hari yang berlalu kemudian menumbuhkan rasa yang lebih dalam dari Romo Yosef kepada Suster Maryam. Saya yakin kalian sudah tahu kemana cerita ini akan berakhir, tapi izinkan untuk saya menceritakannya dengan bahasa saya.

Secara eksplisit, Romo Yosef menyatakan ketertarikannya kepada Suster Maryam. Ia mulai mencoba untuk melanggar janjinya kepadaNya dan menuruti keinginan dagingnya. Percobaan pertama untuk mengajak Suster Maryam keluar malam dari Biara ia lakukan secara langsung. Dengan tanpa ragu, di suatu malam, ketika sedang berkunjung ke tempat para biarawati tinggal, ia mengajak Suster Maryam untuk keluar dengan bertanya, “maukah kau mencari hujan di tengah kemarau?”

Namun pada saat itu tembok pertahanan Suster Maryam masih begitu tebal. Ia menampik ajakan tersebut dan lebih memilih untuk mempersilakan Romo Yosef pulang. Tapi dari situ, ketertarikan Suster Maryam yang introvert ini sudah mulai terlihat. Hatinya mulai bergumul dan bibit cinta mulai tumbuh.

Hari-hari berikutnya, Suster Maryam terlihat merespon dengan mengintip dari balik pintu ketika Romo Yosef sedang melatih paduan suara. Selama beberapa menit ia hanya melihat dari balik pintu yang sebenarnya bisa ia buka dan bergabung di sana, tapi ia tidak melakukannya dan memendam rasa itu.

Gagal dalam percobaannya untuk mengajak Suster Maryam secara langsung, Romo Yosef pun mencoba dengan cara bersurat. Saat ia sedang di gereja dan suster Maryam sedang ada di kesusteran, ia pun menitipkan surat, baik lewat suster yang berada satu kesusteran dengannya atau melalui seorang anak pengantar susu.

Cara ini rupanya berhasil dan lebih disukai Suster Maryam. Secara sembunyi-sembunyi Suster Maryam mulai sering keluar malam untuk bertemu dengan Romo Yosef. Salah satu adegan paling tidak terpikirkan oleh saya adalah dimana Suster Maryam menerima ajakan Romo Yosef untuk makan malam.

Pada adegan itu diperlihatkan mereka berdua makan malam di sebuah restoran, dengan tanpa menggunakan pakaian yang menjadi ciri seorang romo dan seorang suster. Tidak banyak kata yang terucap dalam adegan itu. Semua percakapan terjadi lewat tatap mata yang dimana hanya mereka berdua yang memahaminya. Usai makan mereka berdua pun langsung pulang kembali.

Puncak penghianatan romo dan suster ini kepada Sang Tuhan terjadi saat Suster Maryam berulang tahun yang ke 40. Suster Maryam mengiyakan ajakan Romo Yosef untuk pergi berdua saja ke sebuah pantai. Dengan menggunakan mobil tua, mereka berdua berkendara menembus lebatnya hutan hingga sampai ke pantai yang dituju.

Memang tidak terlihat jelas apa yang mereka berdua lakukan di pantai usai Romo Yosef memberikan kue ulang tahun kepadanya. Pada adegan setelah pemberian kue itu, mereka berdua duduk di bibir pantai. Kemudian Suster Maryam terlihat membuka resleting belakang dari pakaian pinknya yang sangat cocok di badannya itu, dan adegan pun terputus. Sang sutradara, Ertanto Robby Soediskam, ingin membiarkan penonton untuk berimajinasi mengenai apa yang terjadi setelahnya.

Sepulangnya dari pantai itu, dengan diguyur oleh hujan yang lebat, di dalam mobil Suster Maryam terlihat menangis hebat. Sepertinya ia sadar dengan kesalahan yang ia lakukan. Ia sudah melanggar sumpahnya untuk hanya mencintai Sang Tuhan, dan tidak boleh membagi cintanya secara khusus kepada seorang laki-laki. Tapi semua sudah terlambat, tangisan itu tidak bisa menghapus kejadian yang sudah terjadi dan dosa yang ia lakukan bersama Romo Yosef.

*****

Ave Maryam. Terpujilah Maria
Ave Maryam. Terpujilah Maria. Pic via Kompasiana

Untuk saya, film ini bagus sekali. Meskipun alurnya bisa terbaca dan tidak terlalu banyak kata-kata di dalamnya, tapi isu yang diangkat di sini begitu luar biasa. Pihak keuskupan harus diacungi jempol karena boleh mengizinkan syuting film ini terwujud. Pergolakan-pergolakan yang terjadi pada tokoh-tokoh yang ada di film ini pun ditampilan dengan tarik ulur yang begitu baik. Beberapa kali saya sukses dibuat kesal oleh adegan-adegan di dalamnya

Pemimpin agama bukanlah orang suci yang tidak berbuat dosa. Mereka juga manusia biasa yang Tuhan berikan cobaan. Saya sungguh hormat kepada para pemimpin umat Katolik. Mengapa? Karena ketika mereka memutuskan untuk melayani Tuhan, saat itu jugalah mereka harus memutuskan tidak kawin alias selibat.

Bukan perkara gampang lho memendam rasa cinta kepada seseorang. Pastinya mereka juga punya rasa iri terhadap mereka yang bisa memadu kasih dan berkeluarga. Sudah banyak berita yang saya baca mengenai Romo dan suster yang gagal melaksanakan kaulnya dengan jatuh cinta kepada jemaat, memutuskan untuk keluar dari kehidupan di biara dan membangun rumah tangga dengan pujaan hatinya itu. Jadi buat kalian, para romo dan suster yang masih setia terhadap kaulnya hingga sekarang, salam hormat saya untuk kalian.

Percintaan yang terjadi antara suster dan romo yang dikisahkan dalam film Ave Maryam ini sih saya belum pernah dengar yang versi aslinya. Semoga saja kejadian ini hanya terjadi dalam film saja ya. Doakanlah para romo dan suster tetap setia pada janjinya.

Untuk pengambilan gambar dalam film ini pun bisa dibilang sangat baik. Banyak frame yang pengambilannya itu simple tapi “Wah” banget menurut saya. Suasana dan latar tahun 90an-nya pun dapet banget.

Dan untuk menutup tulisan Ave Maryam ini, saya ingin bersaksi bahwa selama saya sekolah dulu, saya belum pernah menemukan suster secantik Suster Maryam dan Romo setampan Chicco Jericho. Kalau sekiranya dulu ada, mungkin saya jadi orang yang paling semangat untuk bersekolah, sebab sekolah saya dulu berada satu kawasan dengan kesusteran 🙂

Jika surga belum pasti untukku, mengapa pula aku harus memikirkan nerakamu
–Ucap Suster Monica kepada Suster Maryam setelah tahu apa yang terjadi antara Suster Maryam dan Romo Yosef

Facebook Comments Box