2020: Berkat di Malam Pergantian Tahun itu Datang Begitu Hebat

Malam pergantian tahun kali ini (2019-2020) tidak berjalan seperti biasanya. Inilah kali pertama dalam 28 tahun hidup saya dimana saya harus menghabiskan malam pergantian tahun tidak bersama dengan keluarga, terlebih khusus mama. Akhir tahun 2019 ini (29 Des – 1 Januari), saya harus bertugas di luar kota karena permintaan dari kantor. Kami terpisah jarak antara Tangerang dan Surabaya.

Bagi keluarga saya, malam pergantian tahun adalah acara yang “sakral”. Kalau tidak ada kegiatan yang sangat mendesak, kami semua harus berkumpul di rumah. Kenapa? Karena kami akan berdoa bersama dan mengucap syukur kepadaNya atas penyertaaNya selama 1 tahun kemarin dan memohon terus penyertaanNya selama 1 tahun mendatang. Selepas doa, kami semua akan saling berpelukan dan saling menguatkan sembari mengucapkan “Selamat Tahun Baru”.

Sedari kecil, saya tidak pernah diajarkan untuk “berpesta” dalam acara pergantian tahun. Itu bukanlah bagian dari budaya keluarga kami. Acara doa bersama itu selalu mengisi malam pergantian tahun dan kegiatan itu selalu kami lakukan tepat pukul 00:00 WIB. Jadi saat orang-orang di luar sana sibuk dengan kembang api dan terompet mereka, keluarga kami akan melewatinya penuh keheningan di dalam rumah.

Agak sedih memang karena malam itu saya tidak bisa mendengar doa mama. Tidak ada yang saya harapkan di awal tahun selain mendengar langsung doa dari mama. Saya percaya, saya bisa hidup sampai sejauh dan sesukses ini, tidak lain karena ada doa mama yang menyertainya. Meskipun terpisah jarak dan waktu, saya percaya doa mama akan terdengar oleh-Nya dan sampai kepada saya.

Hari Pertama (1 Januari 2020)

Sedari malam, Jakarta dan beberapa kota penyangga di sekitarnya seperti Bekasi, Tangerang, dan Depok memang diguyur hujan yang besar. Kalau saya bilang hujan di awal tahun itu merupakan “Hujan Berkat”. Sebuah pertanda yang bagus menurut saya.

Meskipun hujan, acara “pesta” di malam pergantian tahun itu tetap berjalan cukup meriah di Jakarta. Ya, meskipun harus sedikit basah-basahan, tapi saya rasa hal tersebut tidak mengurangi sukacita tahun baru yang terjadi malam itu.

Lain halnya dengan di Surabaya. Malam itu Surabaya begitu cerah. Acara malam pergantian tahun tidak terganggu sama sekali oleh adanya hujan. Semua orang bersukacita memadati jalan-jalan ibukota dan ledakan kembang api pun mewarnai langit yang sangat cerah di malam pergantian tahun itu. Meskipun begitu, saya hanya terdiam di kamar hotel dan tak ikut bergabung dengan mereka yang merayakan kemeriahan di jalanan.

Sekitar pukul 07:00 WIB, saya terbangun karena sebuah telepon dari mama. Tanpa basa-basi, saya pun langsung mengucapkan, “Selamat tahun baru, ma.”

Di ujung telepon sana, dengan nada yang agak lesu, mama pun menjawab, “Selamat tahun baru, Us.” Rupanya kalimat yang diucapkan mama belum selesai. Ia pun melanjutkan, “Maaf ya, Us. Motor kamu sudah terendam. Rumah kita banjir. Dari malam hujan turun nggak berhenti sampai sekarang. Mama sendiri sudah mengungsi di rumah keluarga xxxxx. Adikmu masih di rumah untuk memantau kondisi banjir. Airnya naik begitu cepat dan pagi sekali (sekitar pukul 06:00 WIB), di saat orang sedang asyik tertidur dan nggak ada yang menyangka banjir itu akan terjadi. Sekarang mungkin tinggi air sudah mencapai 1,5 meter.”

Beberapa detik saya terdiam mendengar ucapan mama itu. Saya pun tidak menyangka kalau kabar berita seperti itu yang akan keluar dari mulutnya. Hujan berkat itu rupanya datang begitu hebat, bahkan terlalu lebat, sampai-sampai semua orang pun tak kuat dan membiarkan barangnya terendam tak selamat. Mereka pun akhirnya pergi dengan hanya menyisakan pakaian di badan yang masih melekat.

Rasanya saat itu saya mau marah. Saya ingin marah kepada mama karena mengapa tidak meminta adik saya untuk memindahkan motor saya terlebih dahulu ke tempat yang aman. Namun rasa marah itu untungnya bisa saya tahan. Sepertinya kejadiannya begitu cepat dan menimbulkan rasa panik yang membuat orang-orang tak tahu apa yang harus mereka prioritaskan untuk diselamatkan. Motor saya rupanya ikut terendam juga.

Setelah sempat terdiam, saya pun kembali ngobrol dengan mama, “Ya, sudah. yang penting mama sudah aman dulu. Barang-barang di rumah yang terendam biarlah terendam. Hari ini aku pulang, nanti biar aku yang coba terobos masuk ke dalam rumah ya.”

Rumah saya memang sudah beberapa kali terkena banjir. Namun terakhir kali kami terkena banjir itu tahun 2007, alias 12 tahun yang lalu. Saya sendiri hampir lupa rasanya terkena banjir seperti apa.

Sebelum menutup telepon, saya tiba-tiba teringat akan 1 hal dan menanyakan itu kepada mama, “Koleksi sneakers ku bagaimana ya, ma?”

Mama pun menjawab, “Kalau itu aman. Semua sudah sempat mama pindahkan ke atas.”

Mendengar jawaban itu hati ini sedikit tenang. Kalau sneakers sampai terendam juga, nggak tahu akan sesedih apa hati ini. Mengumpulkannya bertahun-tahun, lenyapnya hanya dalam satu malam.

“Ya sudah. Jaga Kesehatan ya. Aku lanjut kerja sebentar.” Ucap saya sebelum mengakhiri perbincangan lewat telepon genggam.

Pagi itu hati dan pikiran kacaunya luar biasa. Bekerja pun jadinya tak tenang. Untung saja itu adalah hari terakhir saya bertugas. Pekerjaan pun tak terlalu banyak dan saya punya tim yang solid dan bisa meng-handle pekerjaan saya.

Penerbangan Surabaya – Jakarta

Singkat cerita, pekerjaan saya pun selesai dan tepat pukul 12:30 WIB, saya terbang dari Bandara Juanda menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, saya pun makan sebentar guna mengisi tenaga. Saya tahu kalau nanti saya akan sulit mendapatkan makanan di sekitar rumah karena kondisinya sedang banjir. Rumah-rumah makan yang tidak terendam banjir pasti sudah habis diserbu oleh warga yang tidak bisa lagi memasak di rumahnya.

Sambil berkordinasi dengan teman-teman yang rumahnya tidak kebanjiran mengenai rute yang harus saya tempuh karena beberapa jalan utama juga terendam oleh banjir dan tidak bisa dilalui, akhirnya saya bisa sampai di depan komplek dengan selamat.

Waktu saya tiba itu, jam sudah menunjukkan pukul 18:00 WIB. Langit sudah mulai gelap dan listrik sudah dimatikan. Saya tidak bisa melihat kondisi rumahrumah secara jelas, tapi yang pasti gerbang utama komplek saya sudah terendam hingga ketinggian 2,5 meter.

kondisi sudah gelap. Perahu karet terlihat bersiap berangkat untuk mengevakuasi warga

Tidak ada lagi yang diizinkan masuk oleh petugas keamanan yang sudah berjaga. Prioritasnya sekarang adalah mengeluarkan mereka yang masih terjebak di dalam dan bukan masuk lagi ke dalam untuk menyelamatkan barang atau mengantar makanan untuk mereka yang berada di dalam.

Air masih terus meninggi. Sambil berdoa dalam hati agar banjir ini segera surut, saya pun berjalan kaki menuju rumah seorang teman gereja yang tidak kebanjiran. Di sanalah saya menjumpai mama saya, bersama sekitar 8 keluarga lainnya, sedang mengungsi. Tak ada yang kami harapkan selain bisa kembali ke rumah kami masing-masing.

Hari Kedua

Seberapa pun kuatnya saya mencoba untuk tidur, saya tetap tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap 1-2 jam saya terbangun dan gelisah. Ditambah lagi saya mendengar selentingan kabar kalau air sudah menyentuh titik tertingginya, yaitu 3 meter.

Tepat pukul 06:00 WIB, saya pun langsung turun ke depan gerbang komplek untuk melihat kondisi terbaru, tentunya dengan diawali sarapan terlebih dahulu. Kondisi banjir saat itu sudah cukup membaik. Air sudah turun hingga ketinggian 180 cm, namun masih bisa dikatakan cukup tinggi.

Airnya sudah smeakin surut tapi masih masuk dalam kategori cukup tinggi
bersama beberapa pemuda yang lain, saya ikut turun dan masuk ke dalam komplek
bahkan ada kusen yang hanyut
tikus pun tak luput menjadi korban

Bermodalkan keberanian dan sedikit rasa penasaran dengan kondisi rumah, 1 jam kemudian saya pun menerobos banjir yang saat itu ketinggiannya mungkin sudah turun ke ketinggian 160 cm. Ya, kolam air coklat penuh lumpur itu saya terjang guna menuju rumah.

Sepanjang perjalanan, saya ditemani oleh beberapa pemuda dan banyak sekali barang-barang terapung dan tidak jelas pemiliknya, seperti sepatu, kasur, lemari dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, beberapa bangkai binatang pun terlihat sudah mengapung karena tidak bisa menyelamatkan diri, seperti ayam, kecoa, anjing, kucing, tikus, dll.

Rumah dengan hanya 1 lantai sudah pasti terendam semua isinya. Seandainya barang di dalam ruman coba untuk disusun pun saya yakin semua sudah jatuh karena air tinggi yang menerjang masuk akan mengangkat semua benda yang dilewati. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sang pemilik rumah saat kembali ke rumahnya pasca surut nanti.

Banjir yang hebat seperti ini bisa terjadi karena salah satu sisi tanggul penahan aliran sungai di komplek saya ada yang jebol. Tumpahan air sungai yang mengalir itulah yang kemudian masuk dan membanjiri komplek saya.

Usai berenang dan berjalan menerobos banjir selama 15 menit, saya pun tiba di depan rumah. Beberapa tetangga masih ada yang bertahan di (atap) rumahnya dari malam kemarin, dengan tanpa ada listrik dan mungkin juga tanpa pasokan makanan yang cukup. Mereka pun saya lihat masih bisa tertawa. Entah karena sudah tidak ada lagi yang bisa ditangisi, atau karena memang itulah hal terakhir yang bisa mereka lakukan untuk “menikmati” banjir ini.

Menemukan sepatu futsal yang bagus dalam perjalana ke rumah (tapi kok cuma 1? Kalau sepasang kan bisa dipakai)
Beberapa motor sudah ditempatkan di tempat yang agak tinggi, tapi tetap tak luput dari terjangan air
lumpur yang tertinggal saat air berangsur surut
Lihat ada motor tenggelam, tidak?

Evakuasi tadi malam memang dihentikan sekitar pukul 02:00 WIB karena keterbatasan perahu karet dan juga tenaga bantuan seperti TNI dan Basarnas. Mereka pun manusia yang punya rasa lelah dan perlu bersistirahat. Lagi pula kondisinya gelap gulita. Agak beresiko juga kalau memang dipakssakan.

Perlahan saya memanjat pagar rumah saya (karena tidak bisa dibuka) yang sudah tidak lagi terlihat dan memasuki area teras. Di area teras itu, tangan saya menyentuh benda plastik. Itu adalah cover dari tanki motor saya, motor yang sudah 2 hari terendam. Untungnya (tipikal orang Indonesia banget. Selalu ada “untungnya”) banjir di komplek saya ini tidak berarus. Airnya tinggi tapi tenang. Buktinya motor saya masih tetap berdiri dengan kokoh (meskipun hanya dengan menggunakan standar samping).

Pandangan lalu saya arahkan ke langit-langit rumah. Saya mencoba menerka tinggi air kemarin. Saat saya sentuh bagian ventilasi di atas pintu, kayu terebut basah. Rupanya berita mengenai ketinggian air yang mencapai 3 meter itu bukanlah kabar bohong. Usai memegang ventilasi itu, saya lantas mencoba untuk membuka pintu. Namun air banjir berhasil menahan usaha saya untuk membuka pintu rumah.

Karena pintu tidak bisa dibuka, saya pun masuk ke dalam rumah melalui jendela. Itu pun dibukanya dengan susah payah. Saat masuk, beberapa foto sudah terendam. Busa-busa dari kursi sudah mengapung. Lemari sepatu sudah terbalik, dan beberapa lukisan pun sudah tidak lagi berada di tempatnya.

Saya lantas naik ke lantai 2, lantai yang masih aman dari terjangan banjir. Di lantai 2 ini saya mengambil dry bag yang kemudian saya isi dengan beberapa pakaian bersih untuk saya, mama dan adik yang berada di tempat pengungsian.

Dari rumah, usai mengambil beberapa pakaian bersih dan melihat separah apa kondisi rumah, saya pun kembali keluar. Kotornya air yang harus dilalui beserta kuman apa asaja yang ada di dalamnya sudah tidak lagi saya pikirkan. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana kondisi di blok lainya ya. saya pun lantas tidak langsung kembali ke tempat pengungsian, tapi saya keliling dulu dari satu blok ke blok yang lain untuk melihat bagaimana keadaanya.

Bahkan mobil pun ikut terendam
Sepasang motor pun terendam
Mencoba untuk tetap happy
Warung Ma’Ken pun kebanjiran

Saat sedang berkeliling itulah saya merasa beruntung. Saya malu kepada diri saya sendiri karena sempat ingin marah kepada mama saat ia mengabarkan motor saya terendam kemarin. Di saat saya mengeluh karena motor saya terendam, di luar sana ada yang mobilnya terendam. Ada yang motornya baru beli 2 hari. Bahkan ada yang barang di rumahnya tidak ad ayang selamat sama sekali. Bila dibandingkan dengan mereka, saya jauh lebih beruntung.

Tidak hanya rumah. Fasilitas publik seperti masjid dan puskesmas pun terendam. Saya membayangkan alat-alat kedokteran dan juga sound system di masjid pasti rusak semua. Kerugian yang saya alami ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan orang lain.

FYI, almarhum bokap ini orangnya memang visioner. Jadi sejak membangun rumah ini, dapur dan kulkas dibuat di lantai 2. Lantai bawah relatif tidak ada terlalu banyak barang. Kursi dan meja di lantai 1 pun sudah buatan sendiri dari besi. Jadi mau dihajar beberapa kali oleh banjir pun tidak akan “rusak”. Bisa dibilang banjir kali ini pun sebenarnya tidak terlalu banyak kerugian materi yang saya alami.

Dengan langkah gontai dan badan yang basah, saya berjalan melewati gerbang komplek. Hari kedua di 2020 yang harusnya penuh dengan suka, penuh dengan canda dan tawa, malah diisi dengan duka. Kalau mau ditanya ini salah siapa, jelas ini salah manusia. Hujan itu berkat dari sang kuasa, tapi karena manusia tidak bisa me-manage dengan baik alam pemberianNya, berkat itu pun sirna dan berubah menjadi malapetaka.

Masjid pun ikut terendam
Pemandangan di depan masjid
Kasian para santri-nya 🙁
Please follow and like my page:
error0
fb-share-icon4673
Tweet 419
fb-share-icon20

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *