Masalah yang Kerap Muncul ketika WFH di Tengah Pandemi Corona

Sejak Corona Virus dinyatakan sebagai sebuah pandemi, sejak itu pula kantor saya menetapkan metode WFH (Work From Home). Jadi kalau dihitung, (saat tulisan ini dirilis) ini merupakan bulan kedua dimana saya melakukan WFH

Jujur, WFH ini merupakan suatu yang baru untuk saya sebagai buruh korporat yang terbiasa pergi ke kantor. Jika biasanya saya selalu menyelesaikan pekerjaan di kantor (hingga malam) dan tak akan membawanya ke rumah, kali ini semua pekerjaan saya selesaikan di rumah.

Hal yang baru ini pastinya membawa masalah yang baru. Tidak ada sesuatu yang berjalan mulus di awal. Segala sesuatunya perlu penyesuaian. Berikut ini beberapa masalah yang kerap saya (dan mungkin juga kamu) hadapi saat melakukan WFH di tengah pandemi Corona:

Internet mati

WFH membuat orang-orang yang tidak pernah merasakan LDR (Long Distance Relationship) menjadi sedikit tahu bagaimana rasanya menjadi mereka yang menjalin hubungan jarak jauh. Sama seperti layaknya pasangan LDR, di mana pelakunya terpisah jarak dan tidak bisa bertemu secara langsung, koneksi internet menjadi koentji (dibaca: kunci) dan ujung tombak untuk saling bertatap muka, berkomunikasi, dan berkoordinasi.

Semua rapat yang tadinya dilakukan di hotel dengan menu makan siang yang beragam dan cemilan yang tak pernah putus, digantikan dengan rapat virtual yang menggunakan aplikasi seperti Zoom, Google Meet, Jitsi, dan semacamnya. Ketika internet mati, ambyar sudah semuanya.

Kita tidak bisa berkoordinasi, tidak tahu apa yang dibicarakan dalam virtual meeting, tidak bisa melakukan interupsi untuk menyatakan ketidaksetujuan atau menanyakan suatu ketidakjelasan, dan (mungkin) hanya bisa menerima summary dari rapat virtual tersebut, dll. Parahnya lagi untuk para pekerja IT, mereka mungkin tidak bisa bekerja tanpa adanya koneksi internet.

Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa kalian lakukan selain mengutuk penyedia jasa layanan internet yang kalian gunakan. WFH memang membuat penggunaan bandwith internet melonjak dan ini yang biasanya digunakan sebagai alasan oleh para internet provider. Hal ini seharusnya sudah diperhitungkan. Meskipun internet sering mati, anehnya tagihan bulanan yang masuk tetap sama. *Hei SecondMedia, saya menuntut kompensasi*

Namun percayalah bahwa koneksi internet mati masih lebih baik dibanding koneksi yang ngadat (kadang tersambung, kadang putus). Lebih baik tidak bisa join virtual meeting sama sekali ketimbang bisa bergabung tapi mendengar informasi yang terputus-putus. Kalau dalam hubungan, salah menangkap informasi saat menjalin komunikasi biasanya menjadi awal dari konflik antara 2 hati.

Tangisan dan Teriakan Anak

Mungkin ada yang bernasib sama dengan saya pada bagian ini. Jadi banyak sekali rekan kerja saya yang merupakan orang tua baru dan memiliki anak berusia dari 0-8 tahun. Anak-anak usia ini belum mengerti konsep WFH dan menganggap ketika orang tuanya di rumah ya berarti orang tuanya sedang libur dan waktunya penuh untuk mereka.

Seringkali banyak tingkah mereka yang tak terprediksi muncul ketika melakukan virtual meeting di pagi hari, seperti contohnya tiba-tiba saja wajah anak-anak ini muncul di depan kamera dan menutupi wajah orang tua mereka. Kalau itu yang terjadi sih masih lucu ya. Namun bayangkan ketika mereka menangis atau berteriak secara tiba-tiba dengan suara mereka yang tak pernah pelan.

Saya pernah punya pengalaman dimana akhirnya saya yang harusnya meninggalkan meeting karena sudah tidak tahan mendengar tangisan anak-anak yang menjadi backing vocal. Rapat tentu saja menjadi terganggu dan saya pun tidak bisa menyalahkan anak tersebut. Saya menganggapnya sebagai warna baru dalam melakukan WFH.

Ketika koneksi internet sudah lancar dan bisa berkoordinasi bersama anggota tim yang lain lewat sebuah aplikasi guna menyelesaikan pekerjaan, ada aja ya gangguan lainnya 🙂

Kasur yang Menggoda

Pernah ingin melakukan sesuatu tapi lingkungan tidak mendukung kalian untuk melakukan kegiatan tersebut? Saya pernah. Salah satu yang paling mudah adalah tidur saat jam kerja di kantor. Menurut saya ini bukanlah suatu masalah dan mengantuk itu hal yang manusiawi sekali. Selama kalian bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, ya silakan tertidur di waktu yang senggang.

Namun hidup kan tidak se-simple itu. Banyak mulut julid dari teman-teman kantor yang tidak boleh diberikan bahan dan juga perasaan atasan, yang menganggap anak buahnya itu robot, yang harus dijaga (padahal mereka juga suka tertidur di ruang kerjanya).

Nah, saat WFH ini kalian bisa tidur kapanpun kalian mau, bahkan tidurnya di kasur kesayangan kalian. Berapa banyak dari kalian yang bahkan bisa bekerja di atas kasur kesayangan kalian? Seringkali kasur ini menjadi batu sandungan. Awalnya ingin bekerja, tapi karena bisikan kasur yang lembut, pekerjaan jadi nomor dua dan rebahan yang berakhir dengan ketiduran menjadi pilihan utama.

Netflix

Kantor tempat kalian bekerja pasti internetnya dibatasi sehingga kalian tidak bisa mengakses Netflix dari koneksi kantor.  Hal itu seringkali membuat kalian nonton netflix melalui layar hp yang kecil. Percaya deh, bekerja di depan laptop sambil mencuri waktu untuk nonton netflix di hp dengan layar kecil yang kalian letakkan di depan monitor itu nggak enak. Pikiran kalian akan terpecah untuk lebih fokus ke salah satunya, antara pekerjaan atau filmnya.

Saat WFH, Netflix ini memang menjadi salah satu godaan terbesar, apalagi kalau nontonnya di TV dengan layar besar yang kalian hubungkan ke laptop melalui kabel HDMI. Awalnya sih terucap dalam hati dengan teguh, “Okay, selesai1 episode langsung lanjut kerja.”

Tapi kok setelah satu episode ternyata filmnya bagus ya. Mulai ada pikiran “1 episode lagi deh”. Berawal dari 1 episode, lalu menjadi 1 season, dan secara tak sadar habis sudah 1 season Itaweon Class, 1 season Kingdom, 1 season Money Heist, dan film-film lainnya yang disediakan oleh platform tersebut, ditambah lagi nontonnya di atas kasur dan berakhir dengan ketiduran. Duh, nikmat mana lagi yang kalian dustakan.

Saat bangun, yang ada hanyalah penyesalan, sebuah penyesalan untuk hari itu saja karena kejadian yang sama terulang kembali keesokan paginya 🙂

Sulit Makan

Manajemen yang buruk dari unit kerja saya pernah membuat hari saya dipenuhi oleh virtual meeting. Selesai virtual meeting yang pertama langsung berlanjut ke meeting kedua, dan begitu terus sampai meeting yang keempat. Satu meeting bisa berdurasi hingga 2 jam. Bayangkan virtual meeting hingga 8 jam. Apa nggak muak?

Gara-gara itu, saya sampai tidak sarapan dan makan siang, sebab makan membuat tidak fokus dalam mengikuti meeting. Coba saja kejadian seperti ini berlangsung selama 4 hari berturut-turut, mungkin saya bisa berakhir di rumah sakit dengan diagnosa tukak lambung.

Kebanyakan Virtual Meeting dan Chatting

Suatu hari, usai melakukan virtual meeting, saya memutuskan untuk mengerjakan apa yang sudah ditetapkan menjadi bagian saya. Hp kemudian saya singkirkan. Saya juga tidak membuka WhatsApp atau Telegram di desktop dan fokus mengerjakan tugas saya.

Sampai kira-kira memasuki jam makan siang, saya pun meninggalkan kursi dan laptop saya lalu mengambil hp saya. Kalian tahu berapa notifikasi di grup WhatsApp untuk koordinasi setelah virtual meeting itu? Ada 800.

Ini yang suka saya pertanyakan dari metode WFH dimana hari-hari hanya dipenuhi virtual meeting dan juga koordinasi lewat chatting di grup WhatsApp atau Telegram. Lalu kerjanya kapan?

Bisa Kerja 24 jam

Sebagian atasan yang brengsek mengartikan WFH sebagai momen dimana mereka bisa menyuruh bawahannya untuk bekerja selama 24 jam (sedangkan ia asyik tidur-tiduran di rumah). Jadi bahasa kasarnya, ‘kapanpun gue kontak, lo harus siap’.

Punya atasan yang seperti ini? Selamat. Doakan saja nanti kuburnya meledak dan petinya menghilang bersama deadline atau pekerjaan yang ia berikan tidak pada waktunya. Saya sih tidak masalah untuk bekerja di malam hari, tapi ya nggak ditelpon atau di-chat jam 01.00 WIB juga karena atasan saya tiba-tiba ingat ada pesan yang lupa ia sampaikan untuk saya kerjakan.

Game

Buat para lelaki kantoran dengan Nintendo Wii atau PS4 yang tidak bisa dibawa ke kantor, WFH merupakan angin segar. Bagaimana tidak, setiap kali pulang kantor mainan tersebutlah yang menjadi pelepas penatnya.

Nah, selama WFH ini, mainan tersebut ada di sebelah mereka. Jika tidak bisa mengontrol diri, bisa-bisa pekerjaan terlupakan dan malah fokus menamatkan satu permainan. Cobaan para gamers ini mirip dengan pecinta film dengan Netflix-nya. Yang bahaya dari WFH itu kalau sudah suka main game dan suka nonton juga. Kalau tidak bisa membagi waktu, kelar deh hidup lo 🙂

*****

Itu tadi beberapa masalah yang kerap muncul saat WFH. Kalau kalian sendiri, masalah apa nih yang sering muncul saat kerja dari rumah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *