Mengenal Indonesia Lebih Dalam Lewat Uang Kertas

Uang Kertas Bergambar Soekarno. Pic via Tasbih Kokka

Uang Kertas – Saya percaya pasti kalian pernah mendengar kalimat “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya“, kan? Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Bung Karno, presiden Indonesia pertama, dalam pidatonya pada 10 November 1961 saat memperingati hari pahlawan.

Pada tahun 1966, dalam pidato terakhirnya pada HUT RI yang ke 21 (kalau saya tidak salah), Bung Karno mempertegas kalimatnya yang ia ucapkan 5 tahun sebelumnya dengan mengatakan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau yang biasa dikenal dengan istilah JAS MERAH.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah mengapa kita harus menghargai jasa para pahlawan kita? Mengapa kita perlu banyak belajar dari sejarah masa lalu bangsa ini? Saya rasa kalian sudah tahu jawabannya. Namun buat saya, menghargai jasa para pahlawan Indonesia dan belajar dari sejarah bangsa ini akan membuat saya semakin cinta dengan bangsa ini dan pastinya membuat bangsa ini terbebas dari perang saudara,  adu domba, dan usaha-usaha lainnya yang berusaha untuk menghancurkan bangsa ini.

Perlu bukti? Okay, saya akan coba berikan contoh. Salah satu kasus yang paling sering terjadi adalah penggunaan sebutan “Cina” untuk mereka, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Dalam 1 kata yang hanya terdiri dari 4 huruf itu terkandung sebuah makna penghinaan, kebencian dan upaya untuk tidak mengakui mereka bagian dari kita, Indonesia. Kalau kamu panggil temanmu atau orang yang secara fisik merupakan keturunan Tionghoa dengan sebutan tersebut, mereka pasti marah. Mereka marah karena mereka itu WNI. Hati, nyawa dan darah mereka itu INDONESIA.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Karena orang yang mengucapkan kata tersebut tidak mengenal sejarah bangsanya. Kalau mereka belajar, mereka akan tahu bahwa dalam Kongres Pemuda 2, perwakilan dari etnis Tionghoa itu hadir untuk memberikan pengkuan mereka dalam sebuah ikrar yang diberi nama Sumpah Pemuda. Kalian tahu kan apa saja butir yang ada di dalamnya?

Tidak hanya itu, bahkan Sie Kong Liong memfasilitasi agar rumahnya waktu itu menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda 2. Kisah lengkap tentang Tionghoa dan Sumpah Pemuda bisa kalian baca DI SINI. Coba kalian lihat, bahkan sebelum republik ini terbentuk, etnis Tionghoa sudah mengakui mereka Indonesia. Masih bangga kalian menggunakan kata ‘Cina” untuk memanggil mereka?

Belajar Melalui Uang Kertas

Lalu bagaimana cara mudah untuk belajar atau memperkenalkan sejarah pahlawan dan bangsa ini kepada orang lain? Salah satunya adalah lewat uang kertas. Ya , uang kertas. Kalian tahu kan kalau pada salah satu sisinya terdapat gambar pahlawan yang sudah berkorban untuk Indonesia? Ayo, berapa banyak pahlawan yang kalian ingat dan berada pada uang lembaran berapakah wajah mereka dilukis?

Bukan tanpa alasan wajah terbaik dari para pahlawan diletakkan pada tiap lembar uang kertas. Salah satu yang saya tahu ya supaya kita kenal dan tahu tentang mereka, tahu siapa nama merea, asal mereka, bagaimana perjuangan mereka dan akhirnya menghargai peran serta mereka.

Uang kertas baru. Pic via kotasubang

“Tapi kan di lembaran uang kertas itu hanya ada nama pahlawannya saja, tidak ada penjelasan mengenai perjuangan mereka atau biografi mereka.”

Ya cari tahu dong ah, kreatif sedikit kek. Datanglah ke perpustakaan, googling lah dari berbagai sumber, bertanyalah kepada orang tua atau sejarawan, niscaya kamu akan mendapatkan informasi tentang mereka dan kagum akan apa yang mereka lakukan.

Saat kamu mencintai seseorang, pasti kamu akan berusaha mencari info tentang mereka, bukan? Nah, seperti itulah juga cara untuk mencintai para pahlawan dan bangsa ini. Carilah informasi sebanyak-banyaknya. Kalau ada versi yang berbeda, coba bandingkan dari berbagai sumber, karena sejarah akan sesuatu pastinya terdiri dari banyak versi. Semakin kamu kenal akan pahlawan dan bangsamu, semakin kamu akan mencintai mereka dan bangsa ini.

Coba tebak siapa merak dan pada uang pecahan berapa wjaha mereka diabadikan? Pic via Brilio
Ada yang tahu nggak ini siapa?

Tahu nggak kenapa wajah para pahlawan yang diletakkan pada setiap lembar uang kertas itu berbeda-beda asal daerahnya, bukan hanya dari Pulau Jawa saja atau dari Sumatera saja (ada pahlawan dari Maluku, ada yang dari Papua, ada pahlawan dari Jawa, dan banyak lagi daerah lainnya)? Kalau menurut saya agar masyarakat Indonesia yang daerah, suku dan ras nya berbeda-beda ini bisa belajar dan mengetahui pahlawan dari daerah lainnya. Agar kita ini sadar kalau Indonesia yang kita cinta ini terbentuk dari perjuangan banyak orang dari berbagai daerah.

Orang-orang di Pulau Jawa bisa tahu kalau ada Frans Kaisiepo lho yang menjadi pahlawan dari Papua.  Masyarakat Sumatera bisa tahu juga kalau di Maluku sana ada pahlawan kita yang gagah bernama Pattimura. Masyarakat di Sulawesi bisa belajar kalau di ujung barat Indonesia ada pahlawan yang bernama Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi.

Ingat, Indonesia ada karena para pendahulu kita itu berjuang bersama-sama dan menghargai perbedaan.  Jadi kalau kamu masih mempermasalahkan bila ada temanmu asal Papua yang menjadi ketua BEM, atau ada ketua RT kamu yang beragama Kristen, atau ada atasan kalian yang matanya sipit, lebih baik kalian lebih banyak membaca lagi soal INDONESIA.

Dan sebagi salah satu bentuk penghargaan kita kepada pahlawan Indonesia, ya uang kertas itu disimpan dengan rapi dong. Jangan dikuwel-kuwel atau diremas-remas seenaknya. Ada lho orang yang berpendapat bahwa bagaimana seseorang itu mencintai bangsanya (pahlawannya) terlihat dari bagaimana cara ia memegang dan menyimpan uang kertas tersebut. Kalian salah satu yang peduli tentang itu, nggak?

Cerita Lucu dari Ambon

Pattimura, pahlawan nasional dari maluku

Jadi, sekitar April 2019, saya bertemu dengan Kang Asep Kambali, seorang sejarawan dan juga founder Komunitas Historia Indonesia, dalam sebuah acara yang berjudul “Menginap di Museum”. Dalam acara tersebut, Kang Asep yang juga berlaku sebagai salah satu pembicara bercerita mengenai keterlibatannya dalam “perumusan” pahlawan yang wajahnya akan diletakkan pada uang kertas baru.

Bukan perkara mudah lho menentukan pahlawan mana yang akan diletakkan pada salah satu uang kertas. Namun Kang Asep dan tim akhirnya bisa melalui kesulitan tersebut.

Dalam acara tersebut ada cerita menarik yang datang dari Ambon ketika Kang Asep berkunjung di sana. Jadi saat ia menjadi pembicara di depan para mahasiswa di Ambon, ada seorang pemuda yang protes mengenai pahlawannya. Kurang lebih protesnya seperti ini:

“Bung Asep, beta mau protes. Kenapa beta pung pahlawan hanya terus ada di uang Rp 1.000? Beta mau beta pung pahlawan ini ada di uang Rp 100.000”

Hayo, bingung nggak kalian mendapat protes semacam itu? Kok ya bisa ada orang yang berpikiran seperti itu? Seharusnya kan bersyukur dong kalau gambar pahlawan asal daerahnya ada di salah satu lembar uang kertas. Masih banyak lho daerah lain yang pahlawannya belum masuk di uang kertas.

Tapi saya sendiri kagum dengan protes pemuda itu. Saya bisa melihat bagaimana kecintaan dia akan daerahnya dan juga pahlawannya. Sebuah protes yang bagus banget menurut saya.

Sebagai orang yang cerdas, Kang Asep menjawabnya dengan jawaban yang sangat bijak. Saya sendiri tidak tahu apakah ini jawaban serius (alasan aslinya) atau bukan. Namun kurang lebih seperti ini yang ia katakan:

“Semua orang di pelosok Indonesia kemungkinan besar punya uang pecahan Rp 1.000 dan belum tentu punya uang pecahan Rp 100.000. Itu artinya, Pattimura akan lebih mudah diingat karena semua orang punya gambarnya dalam pecahan uang Rp 1.000.”

Saya berani bertaruh, kalau kalian ditanya siapa pahlawan yang ada dalam uang pecahan Rp 1.000, pasti kalian bisa menjawab kalau itu Pattimura, kan?

Mendengar jawaban itu, sang pemuda pun membalas, “Oh kalau begitu seng (jangan) kasih pindah beta pung pahlawan. Biar tetap ada di uang Rp 1.000 saja.”

Ingat ya, nilai kepahlawanan dari seseorang itu tidak dilihat dari nominal dimana wajah mereka diletakkan. Pengorbanan mereka tidak bisa dibandingkan, karena semua pahlawan itu hebat dan punya perannya masing-masing. Jadi sangat salah kalau kalian menilai Jenderal Soedirman itu lebih hebat dari Sam Ratulangi.

Cerita Sedih dari Papua

Frans Kaisiepo, pahlawan nasional asal Papua

Tidak hanya berhenti sampai di Ambon. Cerita dari Kang Asep Kambali masih berlanjut ke Papua. Di Papua, Kang Asep mendapat pertanyaan yang jauh lebih sulit dari yang ia dapatkan di Ambon.Dari pemuda dan pemudi di Papua ia mendapat pertanyaan yang kurang lebih seperti ini,”Bung, kami ini di Papua juga punya pahlawan, tapi kenapa pahlawan kami ini tidak pernah ada di buku pelajaran sekolah? Kenapa kami harus belajar mengenal siapa itu R.A. Kartini, siapa itu Imam Bonjol, dan pahlawan lainnya. Apakah mereka juga belajar tentang pahlawan kami di Paua ini?”

Dengan sedih dan cukup singkat Kang Asep menjawab, “Tidak. Mereka tidak belajar tentang pahlawan dari daerah kalian.”

Pemuda dan pemudi Papua pun kembali bertanya, “Kalau monyet dan burung saja bisa muncul dalam uang kertas, kenapa pahlawan kami tidak bisa?”

Mendengar jawaban itu, Kang Asep juga sedih. Tidak usah Kang Asep, saya yang mendengar cerita ini dari kang Asep langsung pun sedih sekali. Pertanyaan pemuda dan pemudi itu begitu dalam dan sulit sekali untuk dijawab.

Mendengar jawaban tersebut, Kang Asep berjanji akan memperjuangkan pahlawan dari Papua untuk masuk dalam uang kertas agar rakyat Indonesia lain bisa lihat, tahu dan kenal kalau ada juga lho pahlawan hebat dari Papua.

Dan janji tersebut akhirnya berhasil terwujud kala Wajah Frans Kaisiepo tampil dalam uang pecahan Rp 10.000

Saya percaya kalian tidak ada yang tahu kan siapa itu Frans Kaisiepo kalau wajahnya tidak masuk dalam uang kertas pecahan Rp 10.000 itu?

Makanya sedih dan miris sekali ketika ada kasus dimana seorang pemuda di Indonesia melecehkan Frans Kaisiepo dengan mengatakan bahwa wajahnya mirip monyet. Kalian ingat kasus itu, kan? Itulah bukti kalau masih ada pemuda atau orang Indonesia yang belum kenal dengan bangsanya. Saya pun marah sekali ketika kasus itu mencuat.

Padahal, foto itu adalah foto satu-satunya yang dimiliki dari pahlawan kita itu lho. Jadi ketika tim dari Bank Indonesia datang ke rumah keluarga Frans Kaisiepo untuk meminta gambar sang pahlawan untuk diletakkan di salah satu pecahan uang kertas, ya itu adalah satu-satunya dan foto terbaik yang dimiliki pihak keluarga. (info dari Kang Asep juga)

*****

Bagaimana? Gampang kan belajar untuk memulai mengenal sejarah Indonesia?

Itu tadi sedikit cerita tentang mengapa perlunya belajar tentang sejarah bangsa ini dan fungsi lain dari uang kertas selain menjadi alat tukar. Dengan mengetahui sejarah bangsa ini, kita bisa memperbaiki hal buruk yang terjadi di masa lalu agar tak terulang di masa depan.

dan untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip kalimat dari Kang Asep Kambali yang berbunyi:

“Karena untuk menghancurkan sebuah bangsa, cukup dengan menghapus sejarah pada generasi mudanya.”

Facebook Comments Box

Comments are closed.