4 tahun sudah saya menekuni olahraga CrossFit (dan masih terus berlanjut) dan saya merasa kalau CrossFit ini merupakan salah satu jenis olahraga yang paling tidak adil dan kerap memberikan kejutan. Bagaimana tidak, ketika sedang berkompetisi misalnya, tidak ada kategori berat badan seperti olahraga powerlifting atau olympic weightlifting. Yang ada hanyalah kategori kelas, seperti contoh scaled (pemula), intermediate (tengah-tengah), RX (professional), yang mana ketiganya biasa dinilai hanya berdasarkan skill dan atau beban angkatan (tidak ada batasan yang jelas).
Saya yang memiliki tinggi agak nanggung ini sering kali harus berkompetisi melawan mereka ‘para bule’ yang badannya super tinggi, massa otot yang jauh lebih besar, dan postur yang lebih baik. Kalau sudah seperti itu, secara hitungan matematis dan teoritis, sudah pasti saya kalah dalam beban angkatan dan mungkin juga kecepatan. Nggak mungkin dong saya menyalahkan Tuhan karena dilahirkan dengan fisik yang tingginya hanya segini.
- Baca Juga: Fit Games 2019: Sebuah Ajang Pembuktian Diri
Saat melakukan rowing misalnya, tarikan mereka pasti jauh lebih kuat dan menghasilkan nilai kalori atau jarak yang lebih besar. Belum lagi kalau ada box jump atau wall ball, sudah pasti lompatan mereka yang lebih tinggi itu jauh lebih ringan dan jarak lempar wall ball ke target menjadi lebih dekat. Tidak usah bicara soal pencarian 1RM beban karena sudah pasti kalah total. Coba bayangkan orang yang lebih pendek lagi dari saya nasibnya seperti apa.
Kategori kelas pun terkadang hanya ‘tulisan’. Kalau ada seseorang dengan kategori RX yang ingin mendapat gelar juara dengan cara bertanding di kategori scaled ya boleh saja. Hal terbesar yang diperlukan orang tersebut hanyalah rasa ‘tidak tahu malu’. Tapi kalau hadiahnya lebih besar dan chance untuk menang lebih besar, saya kira rasa malu memang sangat bisa untuk dikesampingkan.




Ketidakadilan lainnya yang bisa terjadi saat kompetisi adalah soal juri/judge. Setiap CrossFitter yang bertanding pasti mendapat minimal 1 juri dan tentunya akan berbeda juri yang didapat antara satu CrossFitter dengan CrossFitter lainnya. Meskipun terdapat head-judge sebagai pemimpin tertingginya dan standard yang sama untuk setiap gerakannya, juri yang banyak dan berbeda bisa saja menghasilkan keluaran yang berbeda.
Sebagai contoh, ketika sedang bertanding, atlet A didampingi juri yang super teliti dan atlet B didampingi juri yang sedikit lebih tidak teliti. Kemudian mereka berdua melakukan gerakan yang sama, yaitu burpee over bar & facing the bar. Tiba-tiba saja gerakan atlet A dianggap norep (tidak dhitung) karena terlihat oleh juri yang teliti ia melompat tidak dengan 2 kaki. Sedangkan atlet B yang melakukan gerakan yang sama (melompat dengan tidak 2 kaki juga) tetap dihitung sebagai gerakan yang sah oleh juri yang sedikit lebih tidak teliti. Kalau sudah seperti ini, ‘keuntungan’ pasti milik atlet B yang jurinya agak kurang teliti.
Ketiga dan sekaligus yang paling parah dan unik menurut saya adalah ketidaktahuan akan gerakan yang akan dilombakan. Buat yang belum tahu mengenai olahraga CrossFit ini, jadi setiap kali saya mendaftar untuk sebuah perlombaan, saya tidak mengetahui gerakan apa saja yang akan dilombakan nantinya. Yang saya tahu hanyalah berapa lama kegiatan perlombaan itu akan berlangsung dan berapa banyak pesertanya.
- Baca Juga: Alasan Kenapa Saya (Rajin) Berolahraga
Kalau olahraga lain kan jauh lebih enak dan jelas ya. Mereka tahu gerakan apa yang akan dilakukan dan beserta parameternya, misal: menjadi yang tercepat dalam adu lari jarak sekian ratus meter, mengangkat beban terberat dalam suatu gerakan, mencetak gol lebih banyak ke gawang lawan, atau melompat setinggi mungkin untuk jadi pemenang.
Nah, kalau CrossFit ini kalian tidak tahu apa yang akan dilombakan. Isitilah kerennya adalah prepare for the unknown and unknowable. Mungkin gerakan-gerakan apa saja yang keluar kami kenal dan tahu. Hanya saja kombinasi gerakannya akan seperti apa, durasinya berapa lama, jenisnya seperti apa (AMRAP, For Time, dll) kami tidak tahu.
Jadi latihan yang dilakukan oleh CrossFitter adalah untuk sesuatu yang belum pasti nantinya. Latihan ya latihan saja dan berharap tubuh ini akan siap ketika gerakan yang dilombakan dimunculkan. Jika panitia perlombaan sedang baik hati dan kondisi moodnya juga lagi enak, bisa saja gerakan yang akan dilombakan akan dimunculkan 1-2 hari sebelum perlombaan dimulai. Apa sih yang bisa dilakukan dalam 2 hari? Kemungkinan hanya meratapi nasib dan berdoa semoga badan siap & tidak cedera.




The Truth
Tapi anehnya, justru hal-hal tersebutlah yang membuat saya jatuh cinta dengan olahraga CrossFit. Saya menjadi ketagihan berkompetisi dan terus bertanya-tanya kira-kira kombinasi gerakan apalagi ya yang akan dilombakan dalam sebuah perlombaan dan siapa ya yang akan menjadi lawannya. Menang sih memang belum tentu dan itu lain persoalan, hanya saja ‘dibuat penasaran’ dan dibuat tidak bisa menebak itu sangatlah menyenangkan.
Mungkin kalau diibaratkan dengan kehidupan sehari-hari, rasanya itu seperti mendekati seorang wanita dan menebak-nebak si wanita sebelum mendapatkannya. “Duh kira-kira dia sukanya film apa ya, apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan, atau makanan favoritnya apa ya?” Kurang lebih seperti itulah rasanya. Kalian pasti mengerti dong.
Dan kalau mau dilihat lebih detil lagi soal CrossFit, seperti itulah juga kehidupan ini. Hidup itu tidak adil, tidak selalu bisa ditebak atau diprediksi, dan penuh misteri. Seringkali dalam dunia kerja kita berkompetisi dengan orang-orang yang hidupnya sudah penuh privilege sejak lahir, mungkin juga bersaing dengan orang yang ternyata punya banyak bantuan dari orang dalam, atau dipenuhi dengan orang-orang yang mungkin tidak suka pada perkembangan diri kita.
Kalian juga pasti pernah mengalami ketika sekolah atau kuliah, kalian sudah belajar A tapi ternyata yang diujiankan adalah B dan C. Ada juga mungkin pengalaman sudah belajar mati-matian tapi hasilnya jelek, sedangkan ada teman yang kerjaannya sehari-hari cuma main tetapi hasil ujian yang didapat selalu bagus. Hidup memang seunik itu.


Saya percaya pada sebuah kalimat yang berbunyi, “Hard work beats talent when talent fails to work hard.“
Dalam CrossFit, orang lain bisa saja memiliki badan yang jauh lebih besar, angkatan yang jauh lebih berat, dan postur yang lebih baik. Namun hal tersebut bukan berarti orang lain itu tidak bisa dikalahkan. Hidup pun seperti itu, bukan berarti mereka yang mempunyai segala macam privilege tidak bisa dikalahkan. Bisa juga, hanya saja harus dengan usaha kita yang jauh lebih keras. Begitu kalian bisa mengalahkan ‘ketidakadilan’ itu, rasanya puas banget.
Pernah nggak kalian membayangkan akan se-membosankan apa hidup ini kalau semua hal bisa ditebak, tidak ada kejutan, dan lurus-lurus saja? Kalau ada dunia yang seperti itu sih saya mungkin akan malas berada di dalamnya.
Dan sebagai penutup, ada satu lagi kalimat yang saya sangat suka, bunyinya: Hard times create strong men, strong men create good times, good times create weak men, and weak men create hard times. Jadi teruslah belajar, teruslah haus akan ilmu, teruslah penasaran, jangan cepat puas, dan jangan takut untuk berkompetisi.
dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Roma 5:4

Comments are closed.