Sudahkah Kamu “No Rep” Hari Ini?

Sudah pernah mendengar kalimat “No Rep”? Buat kalian yang sudah terjun ke dunia CrossFit, mungkin kalian tidak asing dengan kalimat tersebut. Namun buat yang baru mau bergabung atau mencari tahu soal CrossFit, kalimat “No Rep” mungkin terkesan asing di telinga. Saya akan coba mendefinisikannya sesuai dengan ilmu yang saya tahu.

Seperti halnya olahraga lain di muka bumi ini, entah itu basket, sepak bola, atau voli, CrossFit pun mempunyai standar gerakan untuk setiap ‘permainannya’. Jadi “No Rep” adalah sebuah kalimat yang akan kalian dengar, entah itu dari juri dalam sebuah pertandingan, pelatih, atau teman berlatih, ketika kalian melakukan suatu gerakan yang tidak memenuhi standar dari gerakan tersebut dan gerakan itu tidak akan masuk ke dalam hitungan repetisi.

Seperti apa sih contoh “No Rep” itu? Banyak sekali. Pada gerakan squat misalnya, posisi bokong tidak berada di bawah lutut ketika turun. Pada gerakan pullup, posisi dagu tidak melewati bar saat melakukan gerakan menarik badan ke atas. Atau contoh yang terakhir misalnya pada gerakan burpees over bar, di mana CrossFitter melompati bar tidak dengan dua kaki, dan masih banyak lagi contohnya.

Menurut kalian kenapa sih penting untuk mengetahui dan melakukan gerakan sesuai standar? Menurut saya adalah demi perkembangan, kenyamanan, dan keamanan dari pelaku olahraga tersebut, khususnya CrossFit.

Tanpa adanya standar dan batasan, sebuah olahraga tidak akan dapat diukur dan atau berkembang ke level performa yang bisa kita lihat di seluruh dunia. Akan lebih enak kalau standar gerakan di seluruh dunia sama, kan? Jadi saat kalian mau mampir ke box CrossFit di suatu negara, kalian tidak perlu takut standar gerakannya akan berbeda dan bisa langsung bergabung untuk ikut workout.

Dan bicara soal pengalaman “No Rep” ini, saya jadi teringat dengan kompetisi yang baru saja saya ikuti di Surabaya pada bulan November, yaitu Valor Games. Kenapa kompetisi ini begitu membekas di ingatan saya? Karena ini adalah kompetisi dengan kalimat “No Rep” terbanyak yang saya dengar keluar dari mulut juri.

Sinkronisasi, gerakan yang harus dilakukan bersamaan oleh 2 orang atau lebih. Dalam gerakan singkronisasi semacam inilah peluang terjadinya No Rep sangat besar
Tidak boleh salah. Satu saja anggota tim melakukan kesalahan, semua harus mengulanginya dari awal

Kok bisa seperti itu? Salah siapa kalau sudah seperti ini? Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama pesertanya yang tidak mengetahui standar gerakannya atau yang kedua adalah juri atau panitia yang tidak (bisa) menjelaskan standarnya kepada peserta dengan baik.

Namun apapun itu alasannya, satu hal yang bisa kalian lakukan ketika mendengar kata “No Rep” dari orang yang meneriakkannya, yaitu meminta penjelasan bagian mana dari gerakan yang kalian lakukan itu tidak memenuhi standar sehingga kalian tidak mengulanginya kembali di repetisi berikutnya. Ibaratnya itu seperti ketika kalian tiba-tiba ditilang polisi. Kalian berhak bertanya apa kesalahan kalian dan polisi wajib memberitahu kesalahan yang kalian lakukan agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama di kesempatan selanjutnya.

Dampak Mendengar Kalimat “No Rep”

Saya yakin kebanyakan CrossFitter sudah tahu movement standard dari suatu gerakan, sebab dalam sebuah latihan pasti pelatih kalian akan menjelaskan standar gerakan dan memberikan kesempatan untuk bertanya sebelum mengizinkan member-nya melakukan suatu gerakan. Atau kalau dalam sebuah kompetisi, pastinya juri sudah menjelaskan movement standard, baik secara lisan sebelum pertandingan atau melalui video yang diunggah ke Instagram sebelum kompetisi dimulai.

Namun yang seringkali membuat “No Rep” ini tetap terjadi adalah kelelahan. Kelelahan membuat kita hilang fokus dan ingin cepat selesai, tapi nyatanya gerakan yang kita lakukan itu ‘tidak sesuai’. Begitu mendengar kata “No Rep” diteriakkan, buyarlah semua konsentrasi yang sudah dibangun. Muncul kemudian rasa kesal.

“Hah, salah gue apa?”

“Lho, kok No Rep sih? Perasaan udah bener deh?”

“Ah, jurinya beg* nih, kayaknya udah bener deh.”

Kurang lebih seperti itulah kalimat yang terucap dalam hati atau secara verbal keluar setelah mendengar kata “No Rep”. Jika sudah seperti ini, biasanya (biasanya lho ini ya) mau diberi penjelasan seperti apapun atas kesalahan yang dibuat tetap tidak akan bisa masuk.

Kelelahan membuat aliran oksigen ke otak ‘terganggu’ dan hal tersebut berdampak pula pada kemampuan otak dalam memproses informasi. Ditambah lagi rasa panik & marah lebih mendominasi, maka buyarlah semua strategi dan fondasi 🙂

Kalau dalam sebuah perlombaan beregu, begitu ada satu orang yang melakukan “No Rep”, biasanya keseimbangan tim akan terganggu, gonjang-ganjing akan terjadi, dan tak jarang yang merasa tidak melakukan kesalahan akan memaki yang membuat kesalahan (kalau tidak bisa mengontrol diri).

Salah satu yang membedakan top qualifier dengan top finisher adalah kemampuannya dalam menangani kemungkinan terburuk yang terjadi saat sedang perform, dalam hal ini adalah “No Rep”

Every movement counts
Pentingnya Koordinasi

Lalu Bagaimana Cara Menanggulangi “No Rep”?

Caranya adalah dimulai dari diri sendiri dan mencoba untuk berkawan dengan “No Rep”. Rasa panik & kesal yang datang dan merusak konsentrasi setelah mendengar teriakan “No Rep” itu muncul karena kalian tidak terbiasa mendengar kata itu. Cobalah JUJUR dengan diri sendiri.

Misalkan saat latihan saya diminta untuk melakukan 20x Wallball. Setiap kali saya melempar bola ke atas, saya akan memastikan bola tersebut mengenai target dan menangkapnya kembali ketika turun dalam posisi squat yang benar. Lalu pada repetisi ke-15 saya gagal melempar bola ke target, maka saya akan teriak dalam hati dengan keras “No Rep, Darius. Ayo lakukan lagi yang benar” dan saya tidak akan memasukkannya ke dalam hitungan repetisi.

Saya membiasakan diri untuk jujur meskipun tidak ada orang lain yang melihat. Kenapa? Karena saya berlatih untuk diri saya sendiri, untuk kemajuan saya, bukan untuk orang lain. Ketika saya terbiasa meneriakkan kalimat “No Rep” untuk diri saya sendiri dan tahu bagaimana cara manenggulanginya, saya tidak akan panik begitu kata tersebut diteriakkan orang lain pada saya dalam sebuah kompetisi.

Saya juga tidak keberatan kalau ada orang lain, yang tanpa saya suruh, tiba-tiba mengawasi gerakan saya ketika sedang berlatih dan meneriakkan kata “No Rep” saat saya memang melakukan gerakan yang ‘salah’. Saya justru berterimakasih akan hal tersebut. Teman saya yang bernama Ericka senang sekali meneriakkan kalimat itu ketika mengetahui saya ‘salah’ dan saya berterimakasih untuk itu.

Jikalau kalian adalah penganut aliran “Biarin aja deh asal-asalan ketika latihan (“No rep” tetap dihitung), nanti kalau kompetisi baru serius dan melakukan gerakan yang benar“, cobalah untuk mengubah mindset tersebut menjadi “latihan adalah persiapan terbaik untuk sebuah kompetisi“. Kalau ada gerakan yang salah ketika latihan, ya perbaiki juga saat latihan. Jangan tunggu di kompetisi baru diperbaiki. Siapa yang menjamin kalian akan benar gerakannya di kompetisi jika saat latihan saja tidak serius?

Tidak ada alat yang yang lebih baik bagi seorang atlet/CrossFitter daripada kegagalan. Milikilah itu dan akrablah dengan hal tersebut. Gagal-lah setiap hari dalam suatu hal, entah itu muscle-up, dipping, snatch, atau apapun itu. Namun setelah itu bertanggungjawablah akan kegagalan itu, benahi, dan buat repetisi berikutnya benar. Itulah latihan.

Cara berikutnya adalah dengan mengetahui kelemahan-kelamahan diri, seperti misalnya mobilitas atau flexibilitas. Dalam angkat beban khususnya, banyak yang terlalu fokus pada beban dan bukan pada form yang aman. Maksudnya bagaimana? Dalam Overhead Squat contohnya. Kalau misalnya kalian belum bisa melakukan gerakan squat yang dalam, fokuslah membenahi itu dulu, jangan fokus untuk menaikkan bebannya. Mintalah koreksi pada pelatih kalian ketika melakukan gerakan. Jika memang belum bisa melakukan apa yang kalian inginkan, mintalah regresi dari gerakan tersebut.

salah satu hasil yang didapatkan ketika jujur dengan diri sendiri
Thank you 🙂

******

Itu tadi sedikit pendapat saya mengenai “No Rep”. Kalau ada yang kalian rasa kurang setuju dengan statement saya, hal tersebut tentunya boleh saja. Tapi bukan berarti kita harus saling membenci, kan?

Dan sebagai penutup saya cuma mau bilang kalau kalian sadar akan “No Rep” yang kalian lakukan dan memperbaikinya, maka kalian memberikan rasa hormat kepada mereka, baik yang dulu ataupun sekarang, yang sudah mencurahkan waktu, usaha, dan pengetahuan mereka dalam upaya menumbuhkembangkan olahraga CrossFit.

Jadi sudahkah kamu no reps hari ini?

Referensi: INI

Pernahkah bertanya, “Apakah ketika saya menyerah saya sudah berada di titik paling lelah?”

Facebook Comments Box