052 Warrior – Jika pada umumnya masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang, dan beberapa perlombaan template khas kemerdekaan Indonesia lainnya, tidak dengan saya. Saya sudah lama meninggalkan perlombaan yang menunjukkan perbudakan pada jaman Belanda itu.
Pada perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun ini, saya mengisinya dengan kegiatan yang sangat amat berbeda. Bersama beberapa orang teman, Fabio, Wie Cen, dan Kitink, saya mengisi tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia itu dengan bertarung melawan TNI. Ya, BERTARUNG.
“Lho, kok berani-beraninya melawan TNI? Itu adu fisik?”
Ya, berani dong dan jelas saja itu adu fisik. TNI itu identik dengan fisik mereka yang kuat, jadi pasti melawan mereka itu adu fisik. Kenapa kami berani bertarung melawan TNI? Karena pihak TNI sendiri yang mengundang. Bekerja sama dengan Mall Living World Alam Sutera, Korem 052/Wijayakrama mengadakan suatu pertandingan dengan tema “052 Warrior” pada tanggal 17 Agustus 2019 yang berlangsung di pelataran Mall Living World Alam Sutera.
Apa Sih 052 Warrior?
052 Warrior merupakan sebuah perlombaan beregu guna mencari warriors atau prajurit-prajurit terkuat yang mampu saling bekerja sama, solid dan bisa menaklukkan obstacle yang sudah disediakan. Bukan hanya sekadar selesai, tapi juga harus berlomba untuk menjadi yang tercepat.
Ada 5 obstacles yang disediakan yaitu Abs Roll, Lunges Walk with Dumbells, Chin Up, Tyre Jump dan Rope Climbing. Masing-masing obstacle memiliki total repetisi yang harus diselesaikan dan itu berbeda-beda.
Untuk Abs Roll, Chin Up dan Tyre Jump, tiap tim harus melakukan 80 repetisi. Tidak dibatasi setiap orang melakukan berapa repetisi, yang jelas setiap tim harus melakukan 80 repetisi. Sedangkan untuk Lunges Walk with Dumbbells, setiap anggota tim harus berjalan sejauh 40 meter dengan memegang beban 20k kg di setiap tangannya.
- Baca Juga: Alasan Kenapa Saya (rajin) Berolahraga
Sebagai obstacle pamungkas sekaligus yang paling sulit, setiap tim harus melakukan Rope Climbing alias memanjat tali setinggi 7,5 meter. Setiap tim wajib memanjat sebanyak 5x dan membunyikan lonceng di bagian puncaknya sebagai bukti kalau sudah berhasil memanjat hingga titik yang ditetapkan. Tak ada batasan maksimal repetisi untuk setiap orangnya. Kalau 1 orang dalam tim itu mampu memanjat 5x, ya silakan saja.
Setiap obstacle membutuhkan stamina dan fisik yang sangat kuat. Tidak hanya otot yang perlu dimainkan, tetapi otak juga harus ambil bagian. Proses pengambilan keputusan dan pembagian jumlah gerakan juga akan sangat menentukan.
052 Warrior ini terbuka untuk umum. Jadi kalau memang punya tim beranggotakan 4 orang dan merasa memenuhi kualifikasi untuk melewati rintangan yang sudah ditetapkan, ya silakan mendaftarkan diri. Dan serunya lagi, acara ini GRATIS alias tidak dipungut biaya. Bahkan kalau bisa merebut podium 1, maka tim tersebut akan mendapatkan hadiah Rp 4.000.000. Enak, kan?
Kok Berani Ikutan?

Berawal dari postingan seorang teman di Instagram mengenai lomba ini, saya pun merasa tertantang. Jiwa orang timur saya yang kompetitif ini bergejolak hebat dan rasanya “lemah” banget kalau sampai melewatkan acara tersebut. Saya pun lantas mengajak Wie Cen, Fabio, dan Kitink guna memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Kami memang sudah biasa latihan fisik bersama, lebih tepatnya CrossFit, di Onyx Fit Club.
Terus berlatih tapi tidak ikut lomba kan sayang juga. Ajang 052 Warrior ini bisa dijadikan ajang pembuktian sudah seberapa jauh kami berlatih. Apakah memang fisik kami sudah sekuat itu?
Bukan menang yang kami harapkan. Turut berpartisipasi dan mengisi kemerdekaan dengan cara yang berbedalah yang membuat kami berani mendaftarkan diri. Kalau menang yang Puji Tuhan, tapi kalau kalah artinya kami harus berlatih lebih giat lagi.
Namun entah kenapa waktu itu perasaan saya kuat sekali kalau kami akan menang. Itulah alasan mengapa saya agak sedikit memaksa ketiga teman saya ini untuk ikut. Kami pun mendaftar di hari terakhir pendaftaran dibuka.
Pre-workout
Kompetisi 052 Warrior ini berlangsung pada tanggal 17 Agustus 2019, bersamaan dengan pameran Alutsista TNI yang sudah berlangsung selama 1 minggu di Mall Living World Alam Sutera. Jadi arena tempat kami bertarung itu dikelilingi oleh beberapa booth yang menampilkan senjata yang sering digunakan TNI, kendaran lapis baja seperti tank, kendaraan amfibi, dan banyak lagi. Sudah mirip-mirip arena peranglah kulihat itu.
Tidak hanya itu, berbagai penonton yang juga sekaligus pengunjung pameran Alutsista pun sudah ramai berkumpul. Ada juga terlihat beberapa perwakilan TNI AD, AL, dan AU yang datang untuk melihat pertandingan tersebut. Yang ngeri-nya lagi, ada juga Kopasus yang datang lho. Ya, meskipun hanya untuk melihat perlombaan ini, tetap saja kehadiran Kopassus ini membuat mental saya sempat sedikit down.
Saat pertandingan hendak dimulai, beberapa tim terlihat masuk ke dalam arena untuk melakukan pemanasan. Oh ya, pihak yang mendaftar 052 Warrior ini datang dari banyak pihak lho. Ada dari pihak TNI dan juga masyarakat umum yang tergabung dalam komunitas olahraga seperti Calisthenic dan Freeletics. Badan mereka berotot, kekar, gagah dan sangat terlihat kalau mereka kuat, terutama yang TNI. Gerakan pemanasan yang mereka lakukan pun cukup membuat saya tercengang.



Ibarat motor, badan para TNI yang masuk ke dalam arena pertandingan itu seperti Kawasaki Ninja ZX 800 dan badan saya seperti Honda Supra Fit, agak jomplang. Namun perbedaan ukuran fisik itu bukanlah menjadi penghalang. David yang badannya kecil saja mampu mengalahkan Goliath, kan? Kami pun melakukan pemanasan untuk membuat otot-otot di badan ini tidak kaget.
Total ada 8 tim yang mendaftar 052 Warrior dan tim saya mendapat urutan yang terakhir. Ada keuntungan dan kerugian mendapat urutan yang terakhir dalam pertarungan ini. Keuntungannya adalah kami bisa melihat performa lawan yang sudah bertanding terlebih dahulu, menganalisa tingkat kesulitannya, dan menyusun strategi yang akan memudahkan kami menyelesaikan obstacles yang ada. Kerugiannya adalah kami memiliki tekanan yang lebih, terutama dalam hal waktu. Kami harus bisa menyelesaikan waktu lebih cepat dari mereka.
Arena hanya bisa menampung 2 tim dalam sekali jalan dan COT (Cut Off Time) nya adalah 40 menit setiap timnya.


Workout
Giliran kami pun datang. Sebelumnya kami agak kaget juga karena ada beberapa tim yang tidak mampu menyelesaikan di bawah waktu yang sudah ditetapkan, salah satunya juga dari pihak TNI. Dengan tanpa mempedulikan hasil lawan dan berjuang sebaik mungkin, kami pun berlomba dengan mengerahkan semua dari apa yang kami punya. Lawan duel kami saat itu adalah Calishtenic Street Workout dari Kalijodo.
Lomba diawali dengan Abs Roll. Sumpah, ini gerakan susah banget, karena kami harus melakukannya dari posisi berdiri. Tidak ada strategi khusus untuk obstacle pertama ini. Kalau sudah capek, ya ganti. Kalau masih kuat, ya lanjutkan. Abs Roll ini benar-benar menguji kekuatan perut (core). Fabio dan Wie Cen terlihat dengan mudah melahap obstacle ini.
Gerakan kedua tidak ada masalah. Di Onyx Fit Club, kami terbiasa melakukan Farmer’s Carry dan juga Lunges. Nah, Walking Lunges with Dumbbells ini merupakan kombinasi 2 gerakan yang biasa saya lakukan di Onyx itu. Kali ini pembagiannya merata untuk setiap orang. Gerakan ini menguji kekuatan tangan dan kaki, dengan tidak melupakan core.




Chin Up. Buat saya, ini adalah gerakan paling mudah diantara kelima gerakan yang dilombakan. Saya sudah terbiasa berlatih Pull-Ups dan Chin Up ini merupakan fase awal pembelajaran sebelum bisa melakukan Pull-Ups. Tidak adanya standar yang jelas dalam melakukannya, apakah boleh kipping atau strict, membuat kami bebas memilih. Poin pentingnya adalah posisi lengan harus lurus saat turun dan kepala melewati bar saat naik.
Tidak ada masalah yang cukup berarti saat mengerjakanTyre Jump. Kami sudah terbiasa berlatih Box Jump. Strategi pun masih sama seperti Abs Roll, kalau capek ya gantian. Bagian yang paling dihajar dalam gerakan ini adalah kaki, terutama betis dan paha. Yang perlu diperhatikan adalah peserta harus berdiri tegak di atas ban sebelum turun, atau gerakannya tidak akan dihitung.
Bagian penutup adalah Rope Climb. Ini benar-benar memerlukan kemampuan fisik dan strategi yang matang. Yang membuat Rope Climb ini sulit, selain karena gerakannya, adalah karena tenaga kami sudah habis di 4 obstacles sebelumnya. Belum lagi kami harus berpacu dengan waktu agar bisa selesai dengan catatan waktu tercepat.




Kalau kekuatan tangan dan perutnya oke, maka Rope Climb ini bisa dilakukan tanpa dengan menggunakan bantuan kaki. Namun karena kami harus menghemat tenaga (sudah tinggal sedikit juga), ditambah lagi gerakannya ini tidak pernah jarang kami latih sebelumnya, maka kami harus menggunakan bantuan kaki dengan gerakan yang sedikit lambat (namun tepat) dan eksekusi yang pas.
Pada bagian Rope Climb ini, Fabio dan Wie Cen melahapnya dengan pembagian 3-2. Sedangkan saya dan Kiting tidak memberikan kontribusi sama sekali pada bagian ini. Memang payah saya ini untuk bagian manjat memanjat seperti ini.
Aksi memanjat yang dilakukan Wie Cen dan Fabio ini pun mendapatkan dukungan dari banyak penonton. Suasana begitu riuh karena dua tim sebelumnya gagal untuk menuntaskan bagian ini.


Post Workout
Pertandingan pun akhirnya selesai dan yang tersisa di badan hanyalah keringat dan rasa lelah. Meskipun lelah, kami senang karena bisa menyelesaikan semua tantangan. Jujur, saat melakukan kelima gerakan tadi, kami tidak melihat waktu. Kami hanya berusaha untuk melakukannya secepat mungkin.
Ketika selesai dan hasilnya diumumkan, ternyata kami menjadi tim yang tercepat. Wah, senangnya bukan main. Rasa lelah yang melekat di badan tadi langsung hilang. Muka jelek saat kelelahan pun berubah menjadi senyum lebar penuh sukacita. Kami berhasil menyelesaikan 5 obstacles tersebut dalam waktu 20:48, atau terpaut 2 menit 18 detik lebih cepat dari tim yang berada di posisi kedua.
- Baca Juga: Fit Games 2019, Sebuah ajang Pembuktian Diri
Yang buat saya senang itu bukan hanya mendapatkan gelar juaranya, tapi ada anggota Kopassus yang datang dan menyalami kami sambil berkata, “Selamat, ya. Kalian hebat. Sudah biasa latihan ya? Latihan dimana?”
Saya pun dengan agak kaget menjawab, “Terima kasih, pak. Ya, kami biasa berlatih di Alam Sutera.”
Momen dihampiri dan diberi selamat oleh anggota TNI dengan baret merah ini merupakan salah satu pengalaman yang tak terlupakan.


Wie Cen, Kitink, Fabio, saya

Perayaan kemenangan semakin sempurna dengan kehadiran beberapa orang teman dari Onyx Fit Club dan Freeletics Bareng yang sudah sedari awal datang untuk mendukung kami. Ucapan selamat dan rasa bangga pun tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka. Tanpa mereka, mungkin kami tidak bisa sekuat dan secepat itu
Para juara, mulai dari juara 1 sampai 3, tidak diperkenankan oleh pihak panitia untuk meninggalkan mall karena akan ada prosesi penyerahan hadiah.
Beberapa jam kemudian, upacara penyerahan hadiah dan penyerahan medali pun berlangsung di bagian dalam Mall. Saya dan Wie Cen yang mewakili Onyx Fit Club pun maju ke atas panggung dengan perasaan bangga dan senyum yang sumringah. Bersama dengan kedua juara lainnya serta beberapa pihak yang terkait, kami pun berfoto di atas panggung dan saling mengucapkan selamat.



******
Dengan selesainya penyerahan hadiah itu, maka berakhir pula event 052 Warrior tersebut. Secara pribadi, saya sangat senang dengan adanya event semacam ini. Saya bisa mengukur kemampuan fisik saya sudah sejauh mana. Terima kasih untuk pihak Korem yang sudah menginisiasi lomba semacam ini. Kalau bisa, lomba semacam ini lebih sering diadakan.
Poin pentingnya dari perlombaan ini bukanlah kemenangan kami melawan TNI dan peserta lainnya, melainkan cara merayakan kemerdekaan Indonesia dengan sesuatu yang berbeda. Jika dibandingkan pengorbanan TNI, kemenangan kami ini tidak ada apa-apanya dan bisa dibilang hanya keberuntungan saja karena kami tampil terakhir dan bisa belajar dari mereka yang sudah tampil.
Akhir kata, terima kasih TNI untuk semua usaha yang sudah kalian lakukan guna menjaga Indonesia. Jasamu luar biasa. Hormat kami selalu kepada kalian.

Swa Bhuwana Paksa
Jalesveva Jayamahe
Kartika Eka Paksi
